Satria Jadi Anak Kumon

Saya mengenal KUMON sejak jaman masih sendirian (belum berkeluarga). Dulu sering membayangkan “besok punya anak les di Kumon” hehehe… Ditambah lagi saya suka baca buku tentang Toto-chan kecil. Apa hubungannya? Dua-duanya dari Jepang, sodara-sodara 🙂

Tapi ternyata begitu punya anak, engga otomatis saya masukkan ke Kumon. Mungkin karena saya lebih suka menikmati proses dulu ya, maksudnya saya belum merasa butuh, disamping itu juga karena masih mikir biaya bulanannya hehehe..

Sampai pada suatu hari dalam bulan Januari-Februari ini, koq sepertinya kebutuhan kesana agak mendesak. Berawal dari beberapa kali dapat SMS dari gurunya Satria yang mengatakan bahwa Satria sering tidak mengerjakan Pe-eR, padahal itu penting bagi sistem kegiatan belajar mengajar di sekolahnya Satria. Berbagai cara sudah saya coba untuk bisa mendisiplinkan Satria dengan belajar, tetapi ternyata bagi saya dan suami itu bukan sesuatu yang mudah. Bisa jadi karena keterbatasan kami akan ilmu atau metode pendidikan untuk anak. Apalagi waktu saya tidak 100% bisa mendampingi anak.

Setelah saya pikir-pikir dan cari-cari info lagi, akhirnya keputusan saya adalah ajak Satria untuk ikut program coba gratis di Kumon. Kebetulan ada yang dekat yaitu di Kumon Pandeansari. Sebelum masuk program coba gratis, Satria harus melalui tahapan tes dulu. Sebagaimana yang disampaikan petugas disana bahwa biasanya anak memulai dari level 2 tingkat dibawah kelas sekolahnya sekarang. Artinya, Satria belajar di Kumon mulai dari pelajaran Matematika kelas 1 SD. Nah, pertama masuk Satria berada dilevel 3A.

Alhamdulillah Satria menikmati. Hehe.. tapi memang dasarnya Satria selalu enjoy dimana pun berada, apalagi punya kawan-kawan dan komunitas baru 🙂

Dari kebutuhan yang ini saya mendapat beberapa pelajaran hidup.

1. Ketika saya sangat membutuhkan bantuan Kumon, ternyata pas ada program “Coba Gratis” periode 16-29 Feb 2012. Kebetulan juga pas hari pertama masuk, sekolah Satria diliburkan karena ada Olimpiade Sains Kuark (Satria ikutan lagi lhoo untuk level 2), sehingga Satria bisa datang siang untuk coba gratis.

2. Ketika membutuhkan bantuan Kumon, alhamdulillah pas ada rejeki sehingga engga mikir berat lagi untuk biaya bulanannya 🙂

3. Kami memang harus berbagi rejeki lebih banyak lagi dengan orang yang membutuhkan. Yaitu pengajar-pengajar Kumon pastinya butuh gaji ‘kan.. Nah, saatnya kami turut berbagi rejeki dengan mereka.

4. Sejak lahir, Satria adalah anak mahal (operasi caesar + dirawat di inkubator selama 10 hari), jadi saya harus ikhlas bila dalam membesarkannya pun saya harus mengeluarkan biaya besar.

Saya bilang ke Satria dan suami,“Semoga Kumon memang cocok untuk Satria ya.. makanya Allah SWT kasih jalan.” Pembaca, jangan diartikan hanya untuk gaya-gayaan yaaa.. tapi memang karena kami membutuhkannya. Tiap anak punya kebutuhan spesifiknya masing-masing yang mana orangtuanyalah yang harus tahu bagaimana memenuhi kebutuhan si anak tersebut. Maka dari itu insyaallah saya tidak pernah membandingkan anak saya dengan anak-anak orang lain, begitu pula sebaliknya.

About Wiwin Pratiwanggini

Independent Oriflame Consultant | A Working Mom | A Blogger | Owner PakBossCatering | Training Consultant
aku & keluarga

1 comment


  1. wahh, anak e pinter y mbak..
    yg pertama kali ditanam di diri anak adalah kepribadiannya, berupa pola pikir, kebiasaan dan moral.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *