Sabar Itu Seperti Apa?

Saya koq lama-lama merasa bahwa persepsi setiap orang akan sesuatu itu cenderung berbeda-beda ya.. Dalam arti, apa yang saya sampaikan bisa disalahartikan oleh pihak lain. Sehingga ujung-ujungnya, bisa jadi saya yang kena marah atau kena semprot. Sedih? Iyaaa.. Pengin protes, tapi tak kuasa diri ini. Akhirnya ya cuma terima nasib.

Seringkali saya memilih diam, do nothing, jika sedang ada hal-hal yang tidak klop antara saya dengan pihak-pihak di sekitar saya. (Ini hal-hal di luar pekerjaan lho ya…). Mengapa memilih diam? Karena menyampaikan argumen tetap saja dianggap salah. Meskipun argumen tersebut sudah jelas-jelas sesuai kenyataan yang ada. Olala… apa yang saya lihat dan rasakan, ternyata tidak dilihat dan dirasakan oleh pihak lain tersebut. Akibatnya, yaaa.. lagi-lagi saya yang salah.

Saya ini sudah cukup sangat sabar, bahwa dalam keterbatasan dan kelemahan saya ini, saya tidak menuntut apa-apa. Duit sepeser pun saya tidak menuntut. Biarlah saya yang banting tulang sampai remuk, sudah saya ikhlaskan.

Saya hanya ingin, mbok yaaa… sama-sama “ngilo githoke dhewe-dhewe”. Sebisa mungkin tidak menyalahkan orang lain demi untuk menutupi kesalahan dan kelemahan sendiri. Untuk apa sih menyimpan “dendam masa lalu”. Itu hanya akan menghambat langkah-langkah menuju ke masa depan yang lebih baik. Kekeliruan dan kesalahan di masa lalu bukankah hanya cukup dijadikan pelajaran? Pelajaran yang bisa dipetik sebagai bekal menuju masa depan. Bukan untuk diungkit-ungkit, diutik-utik, dipakai senjata untuk “menghajar” saya di saat-saat sekarang.

Duh Gusti Allah…. saya tidak tahu lagi, sabar itu seperti apa, versi siapa. Mohon panjangkan juga usus saya dan lapangkan dada saya…

About Wiwin Pratiwanggini

Independent Oriflame Consultant | A Working Mom | A Blogger | Owner PakBossCatering | Training Consultant
just blogging

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*