Karena Ibu Adalah Role Model Saya

Menulis tentang Ibu artinya membawa saya melayang ke sebagian besar kenangan masa kecil. Ya, karena di masa saya kecil itulah saya melihat betapa besar perjuangan dan pengorbanan Ibu saya. Sudah beberapa kali saya menuliskan tentang Ibu di blog ini. Antara lain tentang sosok perempuan yang tangguh, juga tentang menghargai Ibu. Kali ini saya ingin menulis tentang Ibu karena Ibu adalah role model saya.

Apa itu role model? Menurut Wikipedia, role model adalah “person who serves as an example, whose behavior is emulated by others” dalam Bahasa Indonesia memiliki pengertian seseorang yang memberikan teladan dan berperilaku yang bisa dicontoh oleh orang lain.

Saya adalah anak sulung dan perempuan satu-satunya. Saya memiliki 3 adik laki-laki. Ketika kecil saya memberikan stempel kepada Ibu saya sebagai “Ibu yang galak”. Jadi ketika ada apa-apa saya memilih Bapak yang menemani, salah satunya ketika saya harus dirawat selama hampir sebulan di RS Orthopaedi di Solo tahun 1986. Padahal sehari-harinya tidak ada Bapak di samping kami, hanya ada Ibu. Entah kenapa saya benar-benar tidak mau kalau Ibu yang menjaga saya. Mungkin sebenarnya Ibu tidak galak, tapi itu hanya reaksi Ibu atas kenakalan kami anak-anaknya. Sehingga itulah bentuk Ibu menyayangi kami.

Sejak tahun 1980, kalau tidak salah, Bapak meninggalkan kami untuk menjalankan tugas sebagai PNS Guru SMP di Sibolga, Sumatera Utara. Ketika itu, adik saya baru ada dua (yang terakhir lahir tahun 1984) dan saya berusia 6 tahun (mulai masuk SD). Mulai dari situ, otomatis Ibu sendirian membesarkan kami anak-anaknya. Padahal Ibu masih muda, tentunya masih butuh didampingi oleh Bapak. Tapi Ibu ikhlas ditinggalkan Bapak demi masa depan kami semua.

Kala itu, gaji Bapak belum seberapa. Bisa dibilang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Pastinya hanya sebagian yang dikirim Bapak kepada kami, mengingat di rantau pun Bapak butuh biaya hidup. Gaji Bapak dikirim melalui wesel sebulan sekali karena jaman itu belum marak transfer bank seperti sekarang. Bapak pulang hanya setahun sekali setiap libur menjelang tahun ajaran baru.

Nah, untuk mencukupi kebutuhan hidup Ibu seringkali berjualan apa saja dari hasil kebun dan ternak. Ibu suka memelihara ayam kampung. Ketika butuh uang, ayam yang sudah layak jual biasanya Ibu bawa ke pasar. Ada juga hasil  kebun yang Ibu jual ke pasar, antara lain daun pisang, buah pisang, buah nangka (mentah dan matang), buah alpukat, buah jambu, dan lain-lain. Ibu pergi ke pasar ketika hari masih gelap, biasanya menjelang Subuh, dan baru pulang kembali sekitar jam 7-8 pagi. Padahal jalan menuju ke pasar ketika itu melewati jurang lho, naik turun tebing dan menyeberang Kali Kuning. Setiap Ibu ke pasar, menjelang jam-jam Ibu pulang kami sudah menunggu Ibu diatas tebing Kali Kuning. Setiap orang yang lewat kami perhatikan: Ibu atau bukan. Kalau itu Ibu, kami girang sekali, lalu pulang mengiringi Ibu 🙂

Ibu sedang menjahit

Waktu terus berjalan tanpa Bapak di samping kami. Entah bagaimana ceritanya, kemudian Ibu buka usaha menjahit. Ada satu mesin jahit yang menemani hari-hari Ibu. Pelanggan pun mulai berdatangan. Sesekali Ibu berkolaborasi dengan satu penjahit lain di kampung kami, ketika salah satunya mendapat pesanan jahitan yang banyak. Saya juga sesekali membantu Ibu semampu saya, misalnya memasang kancing baju. Setelah sibuk menjahit, kegiatan Ibu berjualan ke pasar dini hari makin berkurang 🙂

Ibu, meskipun tanpa Bapak, mampu merawat kami keempat anaknya. Kalau kadang-kadang marah, itu saya kira wajar, karena jarak usia anak-anaknya tidak jauh (hanya sekitar 2 tahun) sehingga kenakalan-kenakalan kami seringkali membuat Ibu jengkel karena capek, lelah, dan letih.

Setelah menjadi seorang Ibu, saya baru dekat dengan Ibu. Semakin dekat dengan Ibu, saya semakin menyadari bahwa kemandirian dan ketangguhan saya secara tidak langsung adalah karena kemandirian dan ketangguhan Ibu yang saya amati di  masa lalu. Meskipun saya mengamati tanpa sengaja, namun saya yakin bahwa itu tertanam di dalam memori saya hingga ke alam bawah sadar saya. Ujian hidup saya tentunya berbeda dari ujian hidup yang dialami Ibu. Tapi sebagai anak perempuan satu-satunya, saya yakin ada karakter Ibu yang menurun ke saya. Ya, antara lain adalah kemandirian dan ketangguhan Ibu.

karena ibu adalah role model saya

Saya dan Ibu

Di masa lalu Ibu harus memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan di pasar, di masa kini saya pun berjualan tapi secara direct selling dan secara online. Hehe.. karena jamannya sudah berbeda ‘kan.. Dari dulu hingga kini Ibu setia dengan bisnisnya menjahit, saya pun masih dan insyaallah akan terus setia dengan bisnis jaringan yang saya bangun dari nol. Di masa lalu Ibu harus turut banting tulang demi keluarga, alhamdulillah saya pun merasakan bagaimana rasanya harus banting tulang demi keluarga. Aslinya jadi tulang rusuk, tapi suatu saat juga harus rela menjadi tulang punggung. Semua kami lakukan dengan ikhlas demi keluarga tercinta.

Sungguh, saya bersyukur memiliki seorang Ibu yang mencontohkan kemandirian dan ketangguhan kepada saya. Serta dari galaknya Ibu, saya belajar tegas dalam mendidik anak. Saya tidak mampu membalas semua pengorbanan dan kasih sayang Ibu. Saya hanya bisa berusaha untuk selalu dekat dengan Ibu meskipun terpisah ruang jarak dan waktu. Jauh di mata namun dekat di hati. Semoga Allah SWT selalu menjaga Ibu senantiasa, karena Ibu adalah role model saya dimana saya banyak mencontoh teladan dan perilaku Ibu.

Selamat Hari Ibu untuk Ibu-Ibu hebat di mana pun berada 🙂

 

Facebook Comments

About Wiwin Pratiwanggini

A Mother of Two Boys | A Working Mom | A Books Lover | A Blogger | Independent Oriflame Consultant | Co-Owner "Pak Boss Catering" & "Kedai Pak Boss"
blog competition , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *