Anak Pelengkap Derita Orang Tua

Pagi tadi saya menerima tiga (3) ebook keren dari Building Professional Counselor, salah satunya berjudul Anak Pelengkap Derita Orang Tua yang ditulis oleh Timothy Wibowo sudah dipublish di web pendidikankarakter.com. Namun, karena saya berada di lingkungan demikian, saya jadi tertarik untuk mengarsipkannya disini. Minimal menjadi ilmu untuk saya sendiri, syukur-syukur juga bisa bermanfaat bagi pengunjung blog ini.

(Rindu akan) belaian lembut seorang bapak kepada anaknya. (gambar dari pixabay.com)

Banyak orangtua mengeluhkan anaknya tidak bisa ditinggal, selalu ingin ditemani. Dipikirnya semakin dewasa anak akan semakin berani, ternyata tidak. Justru semakin menjadi-jadi, dan cenderung menyulitkan keseharian aktivitas orangtuanya. Anda pernah merasakan hal ini? Apa yang anda rasakan? Mau marah, jengkel, tetapi ini adalah anak kita, serba salah bukan?

Ada apa dan kenapa semua ini bisa terjadi? Ingat tidak ada asap tidak mungkin ada api. Asapnya sudah anda ketahui, apinya? Apa sih yang menyebabkan hal ini terjadi? Kita akan belajar bersama tentang hal-hal praktis yang melatarbelakangi kenapa masalah-masalah anak ini terjadi. Apakah anak dilahirkan untuk menjadi anak seperti ini (bermasalah)?  Apakah setiap anak akan menjadi seperti ini? Jawabannya adalah tidak.

Banyak sekali orangtua tidak tahu bagaimana memperlakukan dan mendidik anaknya dengan baik dan benar, karena menjadi orangtua tidak ada sekolahnya. Tidak ada sekolahnya tetapi sangat dibutuhkan ilmu menjadi orangtua yang baik, pada awalnya saya juga mengalami fase ini. Menjadi orangtua yang tidak tahu apa-apa, hanya punya 3 jurus jika ada masalah anak.

Apa 3 jurus favorit orangtua yang putus asa ini:

1. Ancam: “awas ya kalo kamu begitu lagi”, “kamu tidak akan ikut jalan-jalan”, “kamu kalau begitu bukan anak mama” ini adalah hal umum yang sering kita dengar.

2. Marah Dengan Teriakan : “dasar BODOH!!”, “PERGI!!”“KELUAR!!”

3. Pukul : langsung pukul tanpa penjelasan .

Pertanyaan saya, apakah kita tahu hasilnya jika anak dibesarkan dengan cara seperti ini? Mari kita perjelas satu per satu jika anak yang konsisten dididik dengan cara seperti ini, 10-15 tahun kedepan apa jadinya kehidupannya di masa depan.

1. ANAK YANG DIDIDIK DI BAWAH ANCAMAN

“Kalau kamu tidak mau membersihkan kamarmu, semua mainanmu akan papa kasih ke orang lain!”. Anak seperti ini akan belajar hidup meneror, teman bahkan kelak pasangan hidupnya. Karena dia belajar untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara mengancam seperti orangtuanya.

Mungkin orangtua ingin mendidiknya, tetapi karena ketidaktahuannya justru membentuk perilakunya dengan ancaman. Disamping itu anak juga akan belajar melawan yang biasanya bertumbuh sesuai usianya, jika masih kecil melawannya kecil, jika sudah besar maka perlawanan besar.

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman, seperti gesper, rotan pemukul, tangan bercincin, kapur, penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman, seperti “Awas..; Kalau..; Nanti..;” jika ini terus diulangi pada generasi anak kita maka yang terjadi adalah generasi sakit hati, dan generasi peneror. Ini adalah generasi yang akan mewariskan sakit hati dan perilaku meneror pada anak cucu kita dan orang-orang yang dicintainya.

Ada dua akibat penting dari sering mengancam anak. Anak akan belajar berbohong karena ketakutan diancam dan anak akan jadi anak yang penakut, dan sampai besar pun akan membawa sikap-sikap ini. Dan percayalah, pada beberapa kasus klinis yang saya tangani, sampai besar pun anak-anak yang sering diancam tetap akan hidup dalam ancaman. Baik dari rekan kerja, bahkan pasangannya.

Sebenarnya ada alternatif lain selain memberikan ancaman kepada anak. Coba kita perhatikan beberapa diantaranya:

Ajukan pilihan. “Rapikan kamarmu sekarang supaya waktu menontonmu lebih lama, atau rapikan nanti dan kamu tidak bisa menonton acara favoritmu sama sekali.”

Beri batasan. “Sepuluh menit lagi mama akan bereskan meja makannya, kalau kamu tidak makan sekarang, kamu bisa makan nanti malam saja.”

Tetapkan aturan main. Apa saja tugas atau kewajiban anak dan konsekuensinya jika ia tidak memenuhinya. Lakukan ini di awal sebelum ada pelanggaran, sehingga anak sudah tahu akibat yang akan ditanggungnya. Jadi, anda tidak lagi perlu mengancam, cukup mengingatkan saja!

2. DAMPAK DARI BERTERIAK KEPADA ANAK

Ada sebuah cerita bagus, salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon.

Untuk apa hal tersebut dilakukan? Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila  terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak. Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.

Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan apa yang terjadi kemudian sungguh sangat menakjubkan.

Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering, ini fakta! Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan. Wow, kalau diperhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh.

Kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap makhluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu singkat, makhluk hidup itu akan mati.

Nah, sekarang, yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali anda berteriak kepada makhluk hidup tertentu maka berarti anda sedang mematikan rohnya. Pernahkah anda berteriak pada anak anda? Seperti: Ayo cepat! Dasar lelet! Bego banget! Begitu saja tidak bisa! Jangan main-main disini! Berisik!

Minder, takut berbuat salah, harga diri rendah, tertutup, bahkan menjadi pemarah adalah anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini. Bentakan bukan solusi, bentakan dan teriakan adalah bentuk ketidakmampuan orangtua dalam menghadapi perilaku anak. Jadi apa solusinya? Belajarlah mengendalikan perilaku anak. Hal apa yang perlu dipelajari?  Pahami kepribadian anak dan bagaimana cara berkomunikasi, pelajari tehnik mendisiplinkan anak, semuanya ada di pelatihan BPC, Building Professional Counselor.

3. DAMPAK DARI MEMUKUL ANAK

Anak yang sering mendapatkan pukulan karena kemarahan orangtua atas sikap dan perilaku anak, maka anak akan belajar satu hal penting, yaitu jika saya marah maka pukul.  Kenapa? Karena dia dibesarkan dan sering melihat orangtuanya yang marah lalu memukul. Dari situ dia belajar, jika marah maka saya akan memukul. Maka jika di sekolah ada anak yang sering memukul bisa jadi anak tersebut sering dipukul di rumah.

Contoh kasus nyata, sewaktu saya menjadi guru beberapa tahun silam. Klien saya sebut saja Dodi. Dodi dibesarkan dengan penuh kekerasan dan kurangnya kasih sayang. Tidak jarang Dodi menerima kekerasan fisik dari ibu dan ayahnya. Setiap hari sang ayah dan ibu bekerja sampai larut, karena pada masa Dodi kecil kehidupan ekonomi keluarga tidak begitu baik.

Sehingga sewaktu Dodi kecil, kurang mendapatkan kehangatan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Yang lebih parah sang ibu adalah orang yang cukup temperamen. jika marah pada Dodi, maka dengan mudahnya dia melampiaskan emosi tersebut dengan hukuman fisik (pukul), ini berlangsung sampai Dodi berumur 11 tahun (kelas 5 SD).

Orangtua merasa mencintai Dodi dengan memberikan berbagai fasilitas dan pemenuhan materi semata, tetapi Dodi tidak merasakan cinta yang orangtua berikan. Perasaan sebagai anak yang dicintai oleh orangtuanya tidak ada. Perasaan iri terhadap adiknya terus membayangi Dodi, karena adiknya selalu mendapat perhatian lebih dari orangtuanya, hanya karena sang adik memiliki kesamaan minat dengan sang ayah yaitu otomotif.

Setiap harinya Dodi selalu diantar-jemput ke sekolah dengan ayahnya menggunakan mobil. Satu waktu Dodi sempat ke sekolah dan pulang berjalan kaki, jarak dari rumah ke sekolah sekitar 10 kilometer begitu sampai sekolah dia sudah kelelahan, terkadang jika terlambat, dia masih harus mendapat konsekuensi lagi dari sekolah. 

Hal ini terjadi selama 2 minggu. Apa yang menyebabkan tidak diantar oleh orangtuanya? Hanya karena dia tidak mau mengambil piring kotor sisa makanan ayahnya di meja makan. Perasaan dendam yang membara kepada sosok ayah ditumbuhkan dengan sengaja oleh seorang ayah yang tidak mengerti kondisi tumbuh kembang anak.

Hingga akhirnya saya dapat kabar dari ibunya, di usia yang masih 14 tahun sang ayah di TKO dengan satu kali pukulan tepat di rahang sebelah kiri oleh Dodi. Ini kisah nyata dan mengenaskan. Anda sudah bisa menjawab bukan kenapa ini terjadi?

Dalam relasi sosial di sekolah, tidak banyak teman yang suka dengan Dodi, karena dia memiliki cara bergaul yang cukup “agresif”, jika bercanda suka memukul dan sentuhan fisik yang menjurus kasar. Tidak jarang perkelahian terjadi berulang kali. Pihak sekolah sudah memberikan banyak macam peringatan, dari panggilan orangtua sampai skorsing selama 2 minggu tetap tidak mampu mengubah perilakunya.

Dodi mencari pengakuan untuk dirinya sendiri dengan menjadi orang yang menakutkan di sekolah, lebih tepatnya “preman sekolah”. Menolak dan menentang peraturan sekolah dan guru adalah hal yang sering terjadi dalam kesehariannya di sekolah. Tidak sungkan pula Dodi mengumbar jika dia dewasa nanti kedua orangtuanya akan disiksa, dan dimasukan ke dalam panti jompo.

Sampai tahap ini masihkah anda berpikir bahwa memukul anak adalah solusi mendidik anak yang tepat? Dalam kehidupan kita sehari-hari kita seringkali menjalankan sesuatu karena pengkondisian masa lalu dan tidak pernah kita pertanyakan, sehingga kualitasnya menjadi itu-itu saja. Kita pasrah dengan pengkondisian masa lalu dan menjadi manusia robot.

Hal ini terjadi di rumah, di kantor, di sekolah dan di setiap aspek kehidupan kita. Kita seringkali melakukan sesuatu karena memang sudah begitulah kebiasaannya. Bahkan dalam cara berpikir pun hal ini terjadi. “Saya ini sekringnya cepat putus sehingga mudah marah, jadi jangan buat sesuatu yang bisa meledakkan saya” atau “Saya tidak bisa pegang uang, kalau ada uang di tangan pasti cepat habis. Ada saja alasan untuk mengeluarkan uang saat saya pegang uang banyak” adalah beberapa contoh pengkondisian pikiran yang telah menjadi keyakinan dalam diri seseorang. Ada banyak sekali contoh seperti diatas dalam kehidupan kita.

Kita adalah makhluk yang dibentuk oleh segudang pengalaman, seperangkat lingkungan serta pengkondisian masa lalu. Kita bisa melakukan ketiga hal diatas (ancam, teriak, pukul) karena apa? Karena kita dulu mengalami dan melihat. Mendidik anak bagaikan rantai yang tidak putus, jika anda dibesarkan dengan cara dibentak, ya anda akan membentak anak anda, sederhana bukan program itu tertanam dalam benak anda.

Pahami dan resapi makna kata ini, saat seseorang tetap meyakini pengkondisian seperti itu dalam dirinya maka ia tidak berkembang dalam sebuah kesadaran diri. Ia hanyalah sebuah robot masa lalu yang bergerak di masa sekarang dan tanpa ada perubahan.

Pertanyaan saya, jika anda boleh jujur. Apakah anda senang diperlakukan seperti ketiga hal diatas? Pertanyaan yang sama, apakah anak juga senang diperlakukan hal yang sama?Orangtua yang dahulu yang menderita karena dibesarkan dengan cara yang salah, akan meneruskan hal ini karena ketidaktahuan mereka.

Kemungkinan juga orangtua seperti ini belum menyelesaikan masalah dengan masa lalunya, dan masih terus menyimpan beberapa kenangan pahit dimasa kecilnya dan terus terbawa hingga masa sekarang. Menderita secara batin, serta terjadi konflik diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Anda kenal dengan orang semacam ini? Saya memiliki seorang kenalan baik yang mengalami hal ini, yaitu diri saya sendiri.

Pada intinya semua orang dewasa (guru) dan orangtua, kita semua ini, memegang peran sebagai role model atau contoh dan panutan untuk anak-anak di sekitar kita, baik itu anak kita sendiri atau bukan. Jadi walaupun secara formal kita bukan guru, tetapi pada intinya kita semua adalah juga guru, seorang pendidik. 

Ya, kita semua adalah guru dan orangtua pada saat bersamaan, seorang pendidik untuk siapa saja yang berada di sekitar kita dengan semua tindakan dan kata-kata kita.

Sehingga PENTING sekali bagi kita untuk melakukan hal-hal yang akan mempertahankan bekal sukses penting titipan Tuhan  pada anak-anak kita, atau bahkan semakin menguatkan bekal sukses dan kaya tersebut.

Kini di jaman yang semakin maju dan modern hendaknya kita mau terbuka dalam pemikiran, dan memahami tumbuh kembang anak dengan baik dan benar agar generasi kedepan semakin baik dan mewariskan hal-hal yang memberdayakan.

Semoga bermanfaat.

 

Facebook Comments

About Wiwin Pratiwanggini

A Mother of Two Boys | A Working Mom | A Books Lover | A Blogger | Independent Oriflame Consultant | Co-Owner "Pak Boss Catering" & "Kedai Pak Boss"
parenting , , , , , , ,

2 comments


  1. Tulisannya cakep. Terharu. :”)

  2. Aduh kalau ngancam anak itu bikin trauma. Okelah kalau pada waktu itu si anak patuh, tapi rasanya terpaksa dan dibawah tekanan. Jadi sulit konsentrasi juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *