Liburan yang Sarat Kegiatan

Liburan sekolah tahun ini terasa sangat panjang dan lama untuk Satria. Karena liburannya sudah dimulai sejak selesai UNBK.

Selama liburan tahun ini Satria memiliki dua pengalaman yaitu tinggal bersama simbah dan tinggal bersama ayah ibu.

Tinggal di dua tempat yang berbeda selama liburan ini memberikan pengalaman yang berbeda pula untuk Satria.

Sebulan pertama, seusai camping pasca UNBK, Satria tinggal bersama simbah. Disana otomatis Satria mendapat perlakuan yang istimewa. Cucu pertama dan cucu kesayangan simbah. Di rumah simbah tidak ada kesibukan atau pekerjaan yang membutuhkan bantuannya. Jadilah Satria disana makin gendut, pipi makin tembem. Kerjaannya setiap hari ngegame hehehe.. Seringkali saya tanya “lagi dimana?”, jawabnya “lagi di warnet”. Dannn… akhirnya semua ini berakhir H-1 Idul Fitri, karena Satria jatuh dari motor setelah motornya menabrak mobil pick up di Jalan Kaliurang km.14.

Hari pertama Idul Fitri kami jemput Satria pulang ke rumah dalam kondisi masih penyembuhan luka pasca jatuh dari motor. Bersyukur fisik Satria sangat kuat sehingga luka-lukanya cepat sekali kering dan sembuh.

Tinggal bersama orang tuanya, otomatis tidak banyak jam-jam nganggur untuk Satria. Saya selalu berusaha mendelegasikan tugas kepada Satria, apalagi ayahnya. Jika saya enggak libur, di rumah Satria bantu mengasuh Dimas adiknya. Meskipun anak laki-laki namun Satria sudah terbiasa mengasuh adiknya sejak masih bayi, luwes bahkan.

Di saat-saat lain ayahnya akan memberikan tugas-tugas rumah, misalnya ngurusin kucing (Molly dan Temon), bersih-bersih rumah, beberes dapur, cuci piring gelas, dan lain-lain. Bahkan terkadang disuruh ayahnya memasak sesuatu. Apakah tidak ada pembantu? Ada, saat ini kami punya dua pembantu. Sayangnya kedua orang ini belum otomatis cekatan perihal pekerjaan, sehingga kami masih butuh turun tangan sendiri.

Suatu hari Satria mulai mengeluh,”Bu, aku pengin segera masuk sekolah.”
Lalu saya tanya,”Kenapa?”
Jawabnya,”Capek aku, di rumah kerja terus..”
Kemudian saya komentar,”Bersyukurlah, Le, sekarang Satria dikasih kesibukan terus. Nanti, suatu hari nanti kamu akan merasakan hasilnya, kamu akan sangat bersyukur berkah pengalamanmu sekarang. Jadi, nikmati saja ya..”

Kenapa saya bilang demikian? Karena pengalaman saya pribadi yang sejak usia 12 tahun harus tinggal dengan salah satu famili. Disana saya tidak boleh santai-santai. Saya harus tahu diri karena tinggal di rumah keluarga lain dengan gratis. Bangun pagi setelah subuh langsung menyapu halaman atau langsung menjerang air atau langsung menanak nasi dan lain-lain. Belum lagi ketika budhe sakit dalam jangka waktu lama sehingga saya pun punya jatah menjaga dan merawat beliau. Plus.. jika sedang banyak tamu sehingga saya juga punya tugas menyajikan minuman dan makanan untuk mereka. Jam tidur malam pun tidak boleh sebelum jam 9 malam. Berat ‘kan?

Tapi di kemudian hari, setelah saya dewasa, saya mensyukuri pengalaman-pengalaman saya tersebut. Mengeluh, pernah. Hampir menyerah, pernah. Menangis karena capek, pernah. Alhamdulillah itu semua menjadi bekal kehidupan saya di kemudian hari. Saya menjadi terbiasa bekerja keras. Saya menjadi terbiasa cekatan. Saya terbiasa dengan time management.

Nah, berkah dari pengalaman saya tersebut, tidak ada kemanjaan untuk anak, dia harus dididik sejak dini agar bisa survive di kemudian hari. Bersyukur saya memiliki suami yang juga mengajarkan demikian. Maka setiap kali Satria mulai mengeluh, saya akan menyemangatinya, saya kuatkan dia, saya ingatkan bahwa kamu akan merasakan hasilnya kelak ketika kamu dewasa 🙂

 

About Wiwin Pratiwanggini

A Mother of Two Boys | A Working Mom | A Books Lover | A Blogger | Independent Oriflame Consultant | Co-Owner "Pak Boss Catering" & "Kedai Pak Boss"
parenting , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *