Tag Archives: taekwondo

Protected: Asa yang Terhempas

Sebenarnya sudah cukup lama saya pengin curhat tentang ini. Cita-cita seorang anak dan ortunya yang terhempaskan oleh situasi dan kondisi yang tidak kondusif.

Satria sudah lebih dari 3 tahun mengikuti latihan taekwondo di dojang DSC Seturan Yogyakarta. Ia belajar mulai dari nol (sabuk putih) hingga akhirnya mencapai sabuk merah strip-2. Sebenarnya selangkah lagi dia sudah mendapatkan sabuk hitam (poom karena masih dibawah 17 tahun), namun kandas karena sikon yang tidak kondusif itu tadi. Apalagi akhir-akhir ini sikap pelatihnya sudah sangat berbeda daripada dulu. Bahkan kalo dulu kami selalu dikabari bila akan ada ujian atau event, namun beberapa bulan belakangan ini sudah tidak pernah lagi. Sampai akhirnya Satria tidak ikut ujian Poom. Kalau pun kami kirim sms untuk bertanya, sepertinya jawabannya dia tinggal copas saja, tidak ada personal touch lagi. Memang sih, kami bukan tipe ortu yang suka mencari muka supaya anak kami mendapat perhatian khusus. Sehingga bila diperlakukan demikian, kami anggap sesuatu yang wajar saja.

Titik balik yang menjadikan situasi tidak kondusif adalah kegiatan di Bali pada 8-14 Juli 2012 yang lalu. Selama tiga tahunan Satria berlatih taekwondo dengan pelatih yang sama, entah sudah berapa kali Satria kena pukul. Kalo pukulan selama latihan sih kami masih bisa maklum, karena mungkin memang ada kesalahan atau ketidakdisiplinan yang dilakukan oleh Satria. Namun… kejadian di Bali tepatnya di penginapan yaitu pukulan di pipi terhadap Satria yang dilakukan oleh pelatihnya, sangat tidak bisa saya terima. Begitu pun suami saya.

Saya masih ingattt banget kejadian itu. Malam hari H-1 pertandingan, semua anak (atlet) dikumpulkan di ruang tamu penginapan. Beberapa orang tua juga turut mendampingi walaupun tempat duduk kami dipisahkan. Saya dan suami pun turut berada di dalam pertemuan tersebut.

Saya tahu bahwa pertemuan itu adalah pertemuan koordinasi dan briefing untuk persiapan turun tanding esok harinya. Kami juga sudah tahu bahwa pelatihnya memang keras (dilihat dari face-nya aja sudah ketahuan) dan selama tiga tahun kami bisa mengerti. Namun, ternyata malam itu adalah kejadian yang cukup menyayat hati saya. Pelatih berpesan supaya besok bertanding dengan “beringas” lalu dia bertanya kepada anak-anak apakah mereka sudah paham artinya beringas. Rata-rata menjawab sudah paham. Hanya Satria yang menjawab: “Belum, Sabeum”. Beberapa saat kemudian pelatih tersebut memukul (tepatnya menampar) kedua pipi anak saya. Saya tahu, pasti rasanya sakit. Namun, kami tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat itu sebenarnya juga saya pengin menanyakan kenapa melakukan itu terhadap Satria, tetapi saya tahan dulu karena saya tidak ingin membahas itu di depan anak-anak. Sudah baik ‘kan saya menjaga perasaan si pelatih 🙂

Setelah kejadian itu, acara ortu adalah dinner di Joger. Sebelum kami pergi, saya minta suami untuk mendekati Satria dan mengecek bagaimana keadaan Satria. Apalagi Satria dan beberapa anak Kyoruki malam itu tidak boleh ikut keluar. Saya minta suami saya untuk menentramkan hati Satria dulu sebelum kami tinggal pergi.

Ternyata selama perjalanan ke dan dari Joger, hati saya galau. Saya kepikiran terus atas perlakuan pelatih tadi kepada Satria. Saya marah dan nangis di pangkuan suami saya selama di dalam bis. Kenapa anak kami diperlakukan demikian?

Besok malamnya, dengan sekuat hati dan tenaga, saya mendekati pelatih. Saya bilang: “Sabeum, saya pengin ngomong tanpa ada anak-anak mendengar.” Setelah dipersilakan duduk, langsung saya sampaikan apa yang saya rasakan dan juga rasa keberatan saya atas perlakuannya terhadap Satria.

Tahukah apa jawabannya? “Ibu, saya melakukan itu kepada Satria karena dia anak yang kuat, dia punya hati seluas samudera; saya hanya ingin memberi contoh bahwa beringas itu seperti itu.” Hiksss… namun apakah harus dengan cara itu memberi contoh, dengan menampar anak saya yang saat itu hanya mengatakan “belum paham”, tanpa melakukan kesalahan apapun. Berikutnya, dia minta maaf kepada saya jika kami sebagai ortu tidak terima; tapi dia tidak mau minta maaf kepada si anak. Iyaa.. saya tahu, karena itu akan menjatuhkan nama baiknya sebagai pelatih. It’s OK, saya selalu bisa mengerti.

Setelah kejadian di Bali itu dan kami semua sudah mulai dengan kegiatan rutin lagi, saya merasa koq sudah tidak kondusif lagi, koq sudah tidak seperti dulu lagi.

Jadwal berikutnya adalah ujian poom yang katanya dilaksanakan pada 11 November 2012 kemarin. Sebelum kejadian di Bali, kami sebagai ortu dan tentunya Satria sudah semangat untuk ikutan ujian Poom. Insyaallah kami juga sudah siap dengan dana yang diperlukan. Namun ternyata menjelang ujian poom, nyaris tidak ada info yang disampaikan kepada kami. Kalo tidak salah, pengumuman yang ada di papan tempat latihan itu juga hanya menyebutkan persiapan-persiapan yang dibutuhkan. Justru tidak ada info jadwal pendaftaran dan sebagainya. Akibatnya, jika kami tidak aktif menghubungi si pelatih, kami tidak mendapatkan info apa-apa. Apalagi kami tidak mengikutsertakan Satria ke dalam program privat yang dia adakan. Katanya, tidak ikut privat tidak apa-apa. It’s OK. Tapi mbok yaaa… kami ini diberitahu apakah anak kami mendapat rekomendasi ujian poom ataukah tidak, supaya clear dan kami tidak menunggu-nunggu informasi. Anehnyaa… sampai detik ini koq ya tidak diberi tahu. Saya hanya bisa membaca dari sikapnya dimana bila datang ke latihan, anak saya disuruh gabung dengan yang latihan reguler.

Demikian curahan hati seorang ibu atas perlakuan pelatih terhadap anaknya.

Kepada dojang DSC dan ESTA Jogja, kami mohon maaf jika selama 3 tahun ini Satria belum memberikan prestasi apa-apa. Kami hanya selalu ingat pesan dari Master Yoyok supaya sampai ke blackbelt. Namun sayang.. langkah ke blackbelt terkendala dengan sikon yang tidak kondusif tersebut.

Semoga kejadian yang menimpa anak kami di Bali tersebut tidak terjadi pada anak-anak yang lain. Cukup Satria saja yang mengalami trauma. Dan cukup kami saja yang merasakan semua ini. Walaupun sebenarnya yang saya dengar bahwa sudah banyak anak dan ortu yang trauma/stress disana akhirnya mundur dan pindah ke tempat lain.

Kami cinta taekwondo, kami juga berterimakasih karena Satria mendapatkan ilmu basic taekwondo juga dari pelatih tersebut, namun kami perlu cooling down dulu sampai anak kami dan kami sendiri siap kembali lagi 🙂

just blogging , ,

Bali & Taekwondo Tournament (3)

Kalo yang ada di 2 postingan sebelumnya itu adalah efek samping positif dari kegiatan ini. Nahhh… sekarang mau cerita tentang tujuan utama perjalanan ke Bali.

Tujuan utama pergi ke Bali adalah menemani Satria dalam rangka mengikuti “The 2nd ESTA International Invitation Taekwondo Tournament 2012” yang diselenggarakan di GOR Lila Bhuana Bali. Acaranya selama 3 hari yaitu 11-13 Juli 2012, tetapi tim Black Eagle Indonesia Yogya cukup 2 hari saja, di hari ...  read more

just blogging , , ,

Bali & Taekwondo Tournament (1)

Ahhh… pertama kali ke Bali adalah pada tahun 1991 (atau 1992 saya lupa-lupa ingat). Dan ini adalah kali kedua pergi ke Bali. Kali ini bersama suami dan anak, tentunya :-). Sebenarnya tidak 100% berlibur walau kebetulan pas liburan kenaikan kelas, tetapi tujuan utamanya adalah menemani Satria mengikuti turnamen taekwondo di Bali.

Untuk postingan yang ini khusus perjalanannya aja dulu yaa… untuk turnamennya nanti ada di postingan kedua 🙂

Kami berangkat pada ...  read more

just blogging , , , , ,

Juli ke Bali ?

Baru saja heboh Director Seminar di Bali 2012 dan yang akan datang juga di Bali 2013, eh ternyata ada jadwal lain ke Bali juga. Yang ini sebenarnya acaranya Satria. Pelatihnya mengajukan Satria untuk bertanding taekwondo di Bali di acara ESTA Open (kalau tidak salah). Satria masuk dalam kelas Prajunior, berat badan maksimal 25 kg.

Pertandingan ini akan diselenggarakan pada 9-14 Juli 2012. Wahhh… mengingat nih, baru pertama kalinya akan turun tanding, tentunya ...  read more

just blogging , ,

Kamsahamnida, Master Yoyok !

Itu adalah bahasa Korea, yang artinya terimakasih atas bimbingannya.

Setiap hari Minggu saya biasanya menemani Satria latihan Tae Kwon Do di Dojang Depok Sport Centre dari jam 09:00 sampai jam 11:00. Senang sih.. karena bisa sambil refreshing hehehe.. Bukan berarti lantas shopping di Super Indo lho…

Hari Minggu kemarin sambil nungguin Satria latihan, saya nulis contact person di dalam flyer-flyer Oriflame saya. ...  read more

just blogging , ,

Eagle Spirit (2)

Sejak ujian kenaikan tingkat (grading) di Depok Sport Center 18 Oktober yang lalu, aku melihat Satria semakin mantap dan fokus berlatih Taekwondo. Setiap Rabu sore dan Minggu pagi pasti diantar ayah ke DSC, sesuai jadwal latihannya.

Selain itu, kami sebagai ortunya semakin mantap lagi mendukung Satria karena insyaallah kami berada dan bergabung di dalam klub yang luar biasa, apalagi kami sudah mengenal Master Yoyok meskipun kenalnya masih di dunia maya. Master Yoyok ...  read more

just blogging , ,