Menjenguk Pasien Sakit Kritis, Pahami Do dan Don’t-nya

menjenguk pasien sakit kritis

Menjenguk pasien sakit kritis itu ternyata ada do dan don’t -nya. Alih-alih kita pengin memberikan kekuatan dan hiburan, namun ternyata justru membuatnya tambah menderita. Sharing dari teman saya ini mengingatkan saya, karena jangan-jangan saya pernah melanggar adab-adab menjenguk pasien sakit kritis.

Teman saya, Sari, seorang penderita penyakit kritis. Pada suatu hari pernah diminta untuk sharing bagaimana pengalaman dan rasanya menjadi pasien kritis yang sering dilawat. Saya sudah mendapat ijin untuk share (tulisan aslinya ada disini) dan ada sedikit editing dari saya agar supaya lebih mudah dibaca. Karena itu saya arsipkan disini, siapa tahu bisa bermanfaat untuk Anda para pengunjung blog ini.

Berikut ini sedikit tips saat akan melawat saudara-saudara yang sakit kritis. Ini berdasarkan pengalaman Sari Dini Hutabarat, semoga membantu dan makin memberkati saudara-saudara kita yang akan dikunjungi.

1. Konfirmasi terlebih dahulu

Bertanyalah pada pasien atau keluarga pasien apakah boleh berkunjung atau tidak. Karena dengan datang secara tiba-tiba itu rasanya sangat mengganggu dan menjengkelkan. Apalagi jika ternyata si pasien sedang tidak siap secara fisik dan mental. Misalnya sedang drop dan kesakitan ehhh tiba-tiba banyak orang berkunjung.

2. Jangan beramai-ramai

Maksimal 3 (tiga) orang penjenguk dalam 1 kelompok, jangan keroyokan. Tiga sudah cukup banyak, apalagi untuk orang-orang yang ternyata tidak dikenal oleh si pasien. Selain ketidaknyamanan karena banyak orang baru, akan menjadi ribut jika yang lain ngobrol sendiri. Karena sering kejadian demikian πŸ™‚

3. Tujuan berkunjung

Berkunjunglah dengan penuh kesadaran dan hikmat.Β ? Artinya, Anda datang berkunjung untuk apa? Apakah menebar sukacita dan pengharapan atau dukacita dan keputusasaan? Sadari sejak awal. Banyak yang berkunjung lalu tiba-tiba menjadi wartawan yang banyak bertanya. Atau ada yang menjadi penasehat agung yang memberikan banyak saran serta nasehat. Dan yang lebih parah lagi ada yang menjadi hakim yang menjatuhkan.

Contoh wartawan: Sari gagal ginjal? Karena apa? Kamu malas minum ya? Suka minum-minum gitu ya? Dan lain sebagainya.

Contoh penasehat: Banyak yang lebih parah dari kamu, jadi kamu harus semangat. Atau, Sari kamu masih muda coba deh ke sana, coba deh minum ini, coba deh makan itu, atau “pernah dengar” pengobatan ini ga atau obat itu ga, “katanya” banyak yang sembuh, segala penyakit bisa ditangani, coba ke sana, siapa tahu berhasil, ada yang sembuh kok. Mujizat itu ga datang sendiri, harus dikejar. Dan lain sebagainya.

Contoh hakim: Sari nanti kita berdoa ya, kamu akui semua dosa-dosamu. Dosa ke orang tua, ke adik, ke siapapun, mungkin kamu ga sadar kamu sudah nyakitin hati mereka dan Tuhan ga suka. Sekarang kamu harus jujur dan mohon ampun ya, siapa tahu nanti ada Mujizat. Dan lain sebagainya.

4. Empati terhadap pasien dan pendamping pasien

Yang perlu di ingat: Menjadi pasien sakit kritis itu berat. Menjadi pendamping pasien sakit kritis juga berat. Jadi bijaklah dalam memancing pertanyaan kepada keluarga pendamping pasien. Karena saat pasien mendengar cerita pendampingnya yang menjurus pada kesedihan atau kelelahan, dan sebaliknya pendamping mendengar betapa menderitanya pasien yang sakit, maka keduanya akan makin terluka. Jika ingin membuat sesi konseling datanglah lain hari atau dengan janji bertemu lainnya.

5. Hindari cerita horor

Saat berkunjung hindari menceritakan kisah horor. Contoh: Oh iya, kemarin ada juga teman yang sakit kaya’ Sari, tapi sudah meninggal. Dan lain sebagaianya. Itu akan menakuti pasien dan keluarga pasien.

Hindari juga sekedar membandingkan dengan bercerita tentang orang lain yang juga sedang menderita. Contoh: Oh iya kenal si A ga? Kemarin kami baru jenguk, kasihan dia sakit kanker, tumor, stroke, lebih parah dari kamu. Hal itu akan membuat pasien tahu bahwa ia juga akan diceritakan persis seperti si A kepada pasien lain yang akan dikunjungi berikutnya.

Sebaiknya tanyakan hal-hal disekitarnya saja, misalnya tentang makanan RS, sudah pasti ga enak ‘kan, ini akan mencairkan suasana. Atau pada hal apa yang suka ia lakukan saat itu. Misalnya nonton film, main game atau baca buku. Bicarakanlah hal-hal yang menyenangkan. Atau membahas referensi film, game, buku bagus. Ini lebih berguna dan berdampak positif bagi pasien.

6. Jangan upload foto pasien tanpa ijin

Jangan mengajak ber-selfie-ria kemudian tanpa ijin memposting foto tersebut meskipun dengan caption seolah-olah pasien yang dikunjungi adalah seorang pejuang yang hebat dan tangguh. Padahal yang sebenarnya ingin ditunjukkan oleh si pengunjung yang “baik hati” itu adalah ia sudah menunaikan tugas kemanusiaannya. Sari pernah mengalami. Foto yang menurutnya sedang berpose jelek tersebut diposting dengan caption yang “seperti”-nya indah dan terlihat dekat dan akrab, padahal tidak.

Hal tersebut tidak berdampak positif bagi Sari. Justru melukai karena seolah-olah kelemahannya sedang dipamerkan. Kata-kata indah hanya sekedar kata-kata, hanya berhenti di sana dan tidak akan berdampak jika tidak berkelanjutan. Berkelanjutan, misalnya dengan sekedar bertanya kabar dan keadaan pasien meskipun hanya beberapa kali dalam setahun dan memberi semangat serta doa.

Kata Sari, “Untuk contoh tindakan berkelanjutan ini saya punya kesaksian. Tim pelawatan GKI Gejayan satu contoh yang mendampingi sakit saya selama 6 tahun. Tidak setiap minggu atau bulan berkunjung dan mendoakan. Saya tidak menghitung berapa kali selama 6 tahun ini mas Agung dan kadang-kadang dengan beberapa orang lainnya berkunjung dan mendoakan. Mungkin setahun hanya sekali atau dua kali. Tiga kali mungkin. Itu di luar natal, tahun baru, atau bertemu di gereja. Tidak sering-seringlah, tetapi itu sangat berdampak bagi iman saya. Di dalam doa yang dipanjatkan, entah dari mas Agung atau teman tim yang ikut berkunjung, saya mendapatkan kekuatan dan mendapat pengharapan baru. Ajaib bukan?”

7. Berdoa untuk pasien

Berikan penghiburan dan kekuatan bagi pasien. Hal ini bisa dilakukan melalui dan di dalam doa. Saat berdoalah kata-kata tulus dan sederhana dari pengunjung yang paling berdampak. Doa ini akan sangat diperhatikan dan diingat oleh pasien. Oleh sebab itu, saat berkunjung berikan saja kata-kata penguatan dan penghiburan kepada pasien lewat doa kepada Tuhan. Karena jika disampaikan saat ngobrol, suasana akan menjadi dingin, serius dan menyedihkan. Sebaliknya akan menjadi hangat bagi pasien dan menjadi sumber pengharapan saat diubah menjadi doa dan pengharapan. Karena inilah yang diinginkan oleh pasien.

8. Berkunjunglah dalam keadaan sehat

Jika sedang sakit atau tidak enak badan sebaiknya jangan berkunjung. Batuk atau pilek mungkin terlihat sederhana. Tapi menjadi sangat menyakitkan jika akan menular kepada pasien yang dikunjungi. Contoh pribadi: Batuk buat Sari adalah beban yang sangat besar, karena akses HD-nya akan nyeri setiap kali batuk. Bayangkan jika hal itu terjadi pada ibu yang baru melahirkan atau pasien yang habis operasi.

Semoga apa yang dialami dan dibagikan oleh Sari ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Buat para pengunjung pasien di manapun berada, semoga makin diberkahi sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam menguatkan dan mendampingi pasien yang membutuhkan kekuatan iman dan pengharapan baru. Demikian tips menjenguk pasien sakit kritis ini, semoga bermanfaat.

sumber: Facebook Sari Dini Hutabarat

 

964 Views

Author: Wiwin Pratiwanggini

Ibu dari 2 anak laki-laki (Satria & Dimas). Tinggal di Yogyakarta. Suka jalan-jalan. Suka membaca. Suka menulis. Ngeblog untuk berbagi cerita, berbagi pengalaman, serta berbagi informasi. Bisa dikontak di wiwin_pratiw@yahoo.com (email) atau 08156852076 (WA), insyaallah fast response.

34 thoughts on “Menjenguk Pasien Sakit Kritis, Pahami Do dan Don’t-nya

  1. Aku paling ga suka sama yang berkunjung lalu jadi HAKIM gitu mba O_O rasane kok bener2 dia maha benar dan maha tahu apa yang si sakit lakukan padahal belum tentu juga si sakit begitu, ada yang pernah ngomong begini “tuhkan sakit jarang sedekah sih” ya salam masa iya sedekah kudu ngomong ke dia πŸ™

  2. Menjenguk orang sakit memang ada etikanya ya. Apalagi yang sakit kritis.
    Dulu, di RSUD Cianjur tempat saya tinggal anak anak boleh masuk jenguk pasien. Jadilah kalau dari kampung itu jenguk rombongan. Tetapi sudah setahun ini ada batasan usia tidak boleh masuk. Sehingga memang lebih tertib.

    1. Saya jadi ingat, biasanya dulu kalo ada salah satu warga kampung yang sakit, lantas jenguknya se-RT rombongan pake bis πŸ™‚ Solidaritasnya bagus sih, tapi belum tentu bikin si pasien jadi lebih baik.

  3. Bener banget nih mba .saya juga kalo mau menjenguk yang sakit menghindari kata2 yg gk berguna..alangkah baiknya jika memberi support semangat dan doa agar pasien ttep semangat untuk hidup dan berjuang demi kesembuhannya

  4. Setuju banget mbak, ada aturan tak tertulis yg seharusnya kita lakukan saat berkunjung ke org sakit apalagi kalau sakitnya parah ya
    Ah nomer 6 itu yaaa. Zaman now apa2 cekrek dan upload πŸ™ Kecuali diijinin.
    Tapi walau diijinin jg saya tuh agak gmn gtu kalau ada yang pakai jarum infus trusposting di medsos.

    1. Kadang kalau emang gak memungkinkan dijenguk saya gak datang. Mungkin menyanpaikan sekadar salam aja via keluarganya atau kalau ada donasi kita serahkan ke keluarganya…

  5. duh iya setuju banget samapoin poin diatas. walaupunmaksud kita baik dengan menjenguk pasien yang sakit, tapijuga nggak.boleh melupakan etika dan sopan santunsaat menjenguk yaaa

  6. Yaahhh aku sering banget nih jenguk rombongan. Lebih dari 3 orang. Huhuhu…
    Thanks for remain ya mba. Emang sih ya klo jenguk orang sakit kritis tuh mesti ati2 bicara..

  7. Bener bngt kadang aku miris lihat yg selfie d rumah sakit serangknnyg d jenguk LG Nathan sakitnya walaupun mncoba tersenyum,, noted bngt mba diingat kn

  8. Bener nih, menjenguk orang yang sedang sakit itu banyak yang harus dipertimbangkan. Karena belum tentu semua yang sakit ada yang senang kalau dikunjungi. Mereka juga butuh waktu untuk sendiri atau hanya ingin bersama keluarga.

  9. Ini yg ditulis bener semua nih.. hahaha.. saya kayaknya termasuk yang tim wartawan deh. Tapi ga nyecer langsung sih, lebih ke ngobrol. Dan biasanya saya lebih cendrung membawa buah tangan utk yg jaga. Soalnya kalau yg sakit kan blm tentu boleh atau tidak bawa makanan. Sementara yg jaga tuh juga perlu perhatian.. mereka kan juga lelah. Kalau yg sakit kan sudah diperhatiin dokter dan perawat plus yg jaga. Nah yg jaga kalau bukan kita yg berkunjung siapa lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *