Raport Pertama di SMA Negeri

raport sma

Bulan Desember ini adalah pertama kalinya saya sebagai orang tua murid mengambilkan raport semester pertama anak saya di SMA. Kalau dulu saya biasanya harap-harap cemas, sekarang saya sudah lebih santai. Harap-harap cemas? Iya, berharap dapat ranking 10 besar, tapi cemas ahhh rasanya ga mungkin. Tapi itu dulu, tahun lalu…

Ranking Berapa?

Sebelum penyerahan raport kemarin, wali kelas sempat membacakan nama anak beserta rangkingnya. Ketika disebutkan nama anak saya beserta rankingnya, saya sudah menduga berada di peringkat ke berapa, sehingga tidak kaget lagi. Ahhh.. pasti juga seputar itu, saya sudah bisa menebak.

Sebenarnya saya enggak setuju sih dengan pembacaan ranking anak per anak di depan seluruh wali murid. Tapi ya sudahlah, itu mungkin salah satu kebijakan sekolah. Yang penting masing-masing orang tua bisa menerima dan tidak mencibir anak lain. Itu saja yang saya harapkan.

Sibuk dengan Aneka Kegiatan

Di kelas anak saya, ada dua wali kelas. Nah, pada saat penyerahan raport, wali kelas pertama sempat berpesan kepada saya,“Kegiatan anaknya mbok dikurangi, Bu.” Saya menjawab,“Waduh…, anaknya memang senang berkegiatan tuh, Pak.” Setelah itu wali kelas kedua menengahi dengan berkata,“Bukan dikurangi, Bu, tapi diatur waktunya.” Adem mendengar pesan wali kelas kedua ini, lalu saya menjawab,“Baik, Pak.”

Memang sih, sejak pertama kali masuk sekolah di SMA negeri ini, anak saya langsung full kegiatan. Mulai dari Paskibra, tonti, bela diri, basket, Pemilihan Duta Kesehatan Kabupaten Sleman, pengurus OSIS, ketua kelas, dan lain-lain. Selama ini anak saya menikmatinya, hanya sesekali mengeluh,“Bu, rasanya capek banget aku, abisnya selalu kepilih tiap kali ada kegiatan-kegiatan.” Dan saya hanya berkomentar,“Tapi kamu suka ‘kan? Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini? Ya sudah, nikmati semuanya, jangan lupa atur waktumu dengan belajar juga.”

raport sma

Cover Raport. (dok. pribadi)

Sebenarnya saya kasihan juga melihatnya sangat sibuk, tapi itu juga lebih baik baginya. Dengan banyak kegiatan positif, anak saya akan terhindar dari hal-hal negatif. Salah satunya adalah makin berkurang main game online-nya. Dulu, sebelum masuk SMA ini, setiap kali ada waktu luang pasti deh tahu-tahu sudah berada di warnet langganannya.

Melihat hasil belajar anak saya dalam semester satu kemarin, saya tidak puas namun juga tidak kecewa. Saya tahu anak saya memiliki kekurangan dalam hal akademis. Sedangkan si anak tidak bisa dipaksa untuk belajar apalagi ambil les ini itu, kecuali dia yang minta sendiri.

Nilai di Raport Selaras dengan Hasil Tes Sidik Jari

Memperhatikan nilai-nilainya satu per satu sepertinya raport ini selaras dengan karakter anak saya yang pernah saya pelajari lewat tes sidik jarinya. Anak saya memang bagus dalam hal bahasa (verbal linguistic). Pada saat pengambilan raport, anak saya juga terpilih untuk mengikuti kegiatan pelatihan menulis buletin.

Sayangnya anak satu ini belum tertarik untuk menulis di blog. Hiks… Padahal emaknya sudah membuatkannya blog sejak dia masih bayi. Ahhhh, ya sudahlah, mungkin butuh waktu sampai tiba waktunya anak saya ini tertarik untuk menulis di blog. Sabar ya bu, sabar…

Kecerdasan verbal linguistic adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap arti kata, urutan kata, suara, ritme dan intonasi dari kata yang diucapkan. Termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah kondisi pikiran dan menyampaikan informasi. Individu dengan tipe kecerdasan ini mampu mengolah kata-kata secara efektif baik berbicara maupun menulis.

Pesan untuk Meningkatkan Nilai Raport

Baiklah, untuk raport kali ini saya terima dulu hasilnya. Selanjutnya saya berpesan kepada anak saya agar mau berusaha meningkatkan nilai-nilainya untuk raport semester kedua besok. Mengapa saya masih meminta dia untuk menaikkan nilai-nilainya? Alasannya adalah:

  1. Di Indonesia nilai angka masih menjadi patokan. Jujur saja, untuk satu hal ini sampai-sampai anak saya bilang,“Sekolah di luar negeri saja deh, bu…” (Dalam hati saya bilang bahwa maunya ibu sih sekolah di tempat kerja ibu saja, sekolah berkurikulum International Baccalaureate).
  2. Nilai-nilai yang tertera di raport akan dimasukkan ke e-raport yang mana itu nantinya tidak akan bisa diubah/diedit dan tersimpan di servernya Dinas Pendidikan.
  3. Nilai-nilai yang tertera di raport akan menjadi dasar untuk bisa masuk ke perguruan tinggi melalui jalur khusus. Anak saya ‘kan punya cita-cita bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, nah siapa tahu rejekinya bisa lewat jalur ini.

Harapan saya adalah bahwa anak saya mau berusaha semaksimal dia mampu, mengingat akan adanya 3 alasan tersebut. Bukan untuk kebanggaan orang tuanya, tapi untuk kemudahan langkah dia selanjutnya. Itu saja yang terpenting. Selanjutnya, kita lihat saja nanti hasil kemajuan belajar di semester dua 🙂

Sikap dan Predikat Baik

Di antara semua nilai mata pelajaran yang tercantum di dalam raport, ada nilai sikap yang tercantum di bagian paling awal. Bagi saya ini nih yang terpenting. Disini ada 2 sikap yang dinilai yaitu Sikap Spiritual dan Sikap Sosial. Alhamdulillah untuk keduanya ini anak saya mendapatkan predikat “Baik”.

  • Baik dalam Sikap Spiritual, antara lain konsisten dalam toleran pada agama yang berbeda, taat beribadah, berdoa, dan mensyukuri nikmat.
  • Baik dalam Sikap Sosial, antara lain konsisten dalam jujur, santun, bertanggung jawab, disiplin, toleransi, peduli, responsif, dan pro-aktif.

Bagian penting yang lain adalah pada penilaian kegiatan Ekstrakurikuler. Pada semester satu ini anak saya mengikuti 3 kegiatan ekstrakurikuler yaitu Pramuka, Tonti, dan Bola Basket. Untuk ekskul Pramuka ia mendapatkan predikat “Sangat Baik”, sedangkan untuk Tonti dan Bola Basket ia mendapatkan predikat “Baik”.

Bagi saya nilai sikap dan nilai ekskul ini penting, karena disini ada pelajaran kehidupan yang akan diterapkannya di kemudian hari ketika sudah terjun ke masyarakat. Semoga nilai-nilai yang diraihnya ini konsisten hingga seterusnya.

Satu lagi, anak saya mengikuti satu kegiatan dalam program PMBI. Dia mengambil spesialisasi Bela Diri Pencak Silat. Bagaimana hasilnya? Nah ini, masih menunggu 🙂 . Kata anak saya sih ada honorariumnya atau semacam uang transport dengan jumlah yang lumayan untuk ukuran anak SMA 🙂 . Saya update nanti ya jika sudah mendapatkan hasil.

Demikian cerita tentang laporan hasil belajar anak saya yang saat ini duduk di bangku SMA kelas X jurusan MIPA. Semoga di semester dua nanti banyak peningkatan. Aamiin 🙂