Content Writer atau Blogger?

“Mba, ini nanti feenya jauh dibawah fee artikel blog lhooo,” demikian respon yang saya dapatkan dari mentor blogging saya ketika saya iseng-iseng mau ikut proyek content writer. Kemudian saya bilang,“Ooo, ya udah kalo gitu ga usah diikutkan, mba, ga jadi ajahhh.” Dan jawabnya adalah,“Gak koq, enggak kuikutkan. Lain kali baca dan pahami brief dulu baru mendaftar yaa…” Iyaaaa, jawab saya lirih. Btw itu percakapan via FB Messenger sihhhh.. jadi ga kelihatan ekspresi saya gimana..

Emang apa sih Content Writer yang kalau dibahasa-Indonesiakan menjadi Penulis Konten? ‘Kan saya Blogger yang notabene tukang menulis konten juga?

Saya flashback ke masa lalu dulu ya, kurang lebih 6,5 tahun yang lalu. Kala itu saya dengan teman sekaligus tim bisnis saya, kami mengerjakan sebuah proyek web doorway untuk bisnis kami. Nah untuk mengisi konten web tersebut, daripada repot nulis artikel sendiri, teman saya ngajak beli artikel aja lewat penyedia jasa penulisan.

Waktu itu teman saya sempat bikin kontrak dengan seorang penulis artikel. Saya tidak tahu berapa nilai kontraknya, karena saya tidak ikut terlibat di dalam kontrak. Sedangkan saya mencari artikel dengan memesan dari sebuah penyedia jasa penulisan. Kalau tidak salah harga per artikel adalah Rp 11.000. Wow, ternyata sangat terjangkau! Kami hanya minta sekian puluh artikel @ 300 kata dengan kata kunci yang kami tentukan untuk setiap artikel.

Setelah saya terima paketan artikel tersebut lewat email, kemudian kami cek satu per satu isi artikelnya. Kata teman saya, artikel-artikel tersebut tidak berkualitas. Saya coba bandingkan dengan tulisan penulis yang dia kontrak, ternyata memang beda. Alhasil, artikel yang pernah saya beli tersebut tak satupun yang terpakai πŸ™ . Bagi saya gapapa sih, toh kami memang hanya akan menggunakan artikel yang berkualitas sehingga bisa bermanfaat juga bagi orang lain (pembaca).

Saat itu saya baru ngeh bahwa ternyata ada yang namanya jasa penulisan artikel. Padahal sebenarnya itu sudah lama ada lhooo… So, kemana aja saya selama itu ya? Sampai gak ngerti πŸ˜€

By the way, setelah saya runut kembali ke masa lalu, ternyata saya pernah juga lho satu kali mengajukan diri menjadi penulis resep masakan yang dibutuhkan oleh seorang blogger terkenal. Waktu itu, September 2007, saya diminta menulis 100 resep masakan dan saya dibayar Rp 100.000. Artinya 1 judul tulisan dihargai Rp 1.000 saja. Tapi waktu itu sudah seneng banget saya hahahaha.. apalagi nulis resepnya saya enggak mikir, cuma ngetik ulang dari sobekan resep masakan yang saya kumpulkan dari koran atau majalah.

content writer atau blogger

sumber gambar: pixabay.com

Setelah tahun 2007 dan 2014 tersebut, saya tidak pernah lagi bersentuhan dengan para penyedia jasa penulisan artikel. Untuk blog-blog saya, saya mengisi sendiri, hasil karya sendiri. Hingga akhirnya baru beberapa bulan ini saya kembali bersentuhan dengan dunia content writer. Kebetulan ikut tergabung di dalam sebuah grup freelance content writer. Nah, dari situ saya makin paham bedanya Content Writer dengan Blogger.

Jadi, artikel-artikel yang dulu pernah saya beli lewat penyedia jasa penulis tersebut ditulis oleh para Content Writer. Mereka menulis minimal 300 kata dengan kata kunci yang sudah ditentukan serta harga yang sudah disepakati dengan pemberi pekerjaan. Biasanya mereka mendapat proyek untuk menulis sekian banyak artikel tentang suatu topik.

Menjadi Content Writer itu asyik karena bekerja secara freelance. Pun begitu proyek selesai, ya sudah, tidak ada lagi tanggung jawab atas artikel yang pernah dibuat. Begitu artikel mereka dijual kepada pembeli, nama mereka enggak dicantumkan lagi. Pembeli tahunya itu karya dari si penyedia jasa penulisan artikel. Sebatas itu. Gak perlu mencari tahu siapa sih penulis aslinya.

Tentu saja Content Writer tidak sama dengan Blogger. Ruang lingkupnya sangat berbeda. Keduanya ga bisa dibandingkan. Sudah jalurnya masing-masing. Fee dari tiap artikel yang mereka tulis juga sangat berbeda.Β Blogger bisa disebut Content Writer, khususnya untuk blognya sendiri, bisa juga mengambil job proyek untuk Content Writer, kalau mau. Sedangkan Content Writer tidak bisa disebut blogger, karena mereka tidak memiliki blog, benar-benar penulis lepas.

Nah, lebih enak mana? Content Writer atau Blogger? Menurut saya, itu sih tergantung passion masing-masing. Jujur, saya enggak sanggup kalau menjadi Content Writer. Otak saya sudah sangat terbatas untuk bisa menciptakan ide-ide tulisan dengan jumlah banyak topik dan aneka kata kunci dalam waktu pendek. Selain itu waktu saya juga sudah cukup banyak terpakai untuk bekerja, urus rumah tangga, urus dua anak (remaja dan batita), serta me time, hehehe… Btw, kalau jadi editor, insyaallah saya sanggup πŸ˜€

Sampai saat ini saya lebih nyaman menjadi Blogger. Bebas berekspresi di rumah maya saya sendiri. Mau nulis sebulan sekali, seminggu sekali, setiap hari, bebas. Ada job nulis untuk blogpost, alhamdulillah saya terima. Ada job content placement, alhamdulillah saya terima juga. Meskipun belum setiap hari ada, namun itu sudah cukup saya syukuri. Setidaknya biaya perawatan blog, biaya perpanjangan domain dan sewa web hosting bisa tertutupi oleh fee dari 1-2 sponsored post.

Yukkkk, maksimalkan potensi dengan menulis sesuai passion. Jadi Content Writer atau Blogger, ga masalah, yang penting tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain dan juga bagi diri sendiri. Selamat menulis! πŸ™‚

 

Related Post

10 thoughts on “Content Writer atau Blogger?”

  1. Jujur, awalnya juga aku agak rancu dengan sebutan konten writer atau blogger. Tapi setelah membaca referensi termasuk tulisan ini, emang beda banget. Yeah, I am proud to be a blogger, Mbak πŸ˜‰

  2. Saya pernah dikontak untuk menulis kepsen Instagram. Satu kepsen dibayar 20k. Tapi aku tolak. Waksss. Padahal waktu itu butuh minimal 100 gitu. Hehe, kalau aku pikir-pikir ternyata aku jual mahal juga ya.
    Kalau untuk nulis blog sih suka-suka aja. Blog sendiri. Tapi begitu dikontrak sama sebuah web jalan-jalan, alamak aku bingung ngikutin maunya mereka. Udahannya uang gak terlalu banyak lagi, hiks

  3. Ternyata beda ya antara content writer dengan blogger. Fee-nya juga beda ya, he, he. Saya dulu juga pernah bikin tulisan ke web kalo dimuat dapat fee 10 ribu satu artikelnya. Itu masuk dalam content writer bukan ya mbak?

  4. Pernah sih nyoba gabung di komunitas online yang isi web sebagai content writer, tapi akhirnya balik lagi ke blog, karena menurutku kalau nulis di blog sendiri, sebagai blogger, tulisan itu lebih personal. Apa yang kita alami, cerita kita sendiri. Sementara kalo sebagai content writer, ini rata-rata hasil riset kita tentang suatu permasalahan, dan kurang ada sentuhan pribadinya.

    Aku sendiri kalau cari informasi, biasanya lebih seneng kalau dapet artikel original dari pengalaman orang yang pernah ngalamin.

    Tapi yang pasti, semoga baik itu milih jadi blogger ataupun content writer, bisa tetap nulis dengan gayanya, ngejaga keasliannya, bukan cuma comot sana sini aja.

  5. Iya memang beda mb…kalau bloger itu dibayar mahal karena performa blognya juga. Jadi biaya merawat blog hingga DA/PA sekian itu ikut dihargai. Jadi pantaslah feenya beda2 tergantung DA/PA, page view dan lain2. Dan itu tidak mudan n butuh effort juga. Kalau content writer dia dibayar dr tulisannya saja. Bagi pemula atau orang yang mmg punya hobi nulis, jadi content writer oke juga. Karena meskipun feenya sedikit, tapi biasanya jobnya borongan. Jadi bisa sekalian ngasah kemampuan. Dan betul, poinnya kita tetap enjoy menjalaninya..

  6. tulisannya menambah wawasan saya tentang apa itu blogger dan content writter aku baca ampe berkali-kali untuk mencerna tulisan mba, takut aku salah tangkep, thanks Mba atas sharingnya

  7. Weh malah baru tau bedanya, kupikir sama aja. Aku malah ga kepikiran sbg apa, yg pemting menuliskan cerita di diary maya, syukur2 bermanfaat dan menjadi pahala jariyah kalau bisa mensolusi kesulitan org lain..

  8. Serius mba 1000 rupiah? Ya allah. Ya memang karena belum tahu ya harga pasarannya berapa. Jadi udah seneng banget. Sama lah kayak kita sekarang misal dapat 500rb eh ada yang dapat 5 juta. Nah lho pie kuwi

Comments are closed.