Kiat #KerjaDariRumah Bagi Ibu Bekerja yang Memiliki Balita

Kehadiran wabah Covid-19 di tengah-tengah kita nyaris melumpuhkan semua aktivitas di berbagai sektor. Bersyukur bagi orang-orang yang bekerja menggunakan teknologi informasi karena pekerjaan bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Tapi tentunya tidak demikian bagi para pekerja fisik di lapangan, seperti tukang ojek, penjual sayur-mayur keliling, sopir taksi, housekeeper, dan lain-lain.

Kebijakan untuk social/physical distancing dan himbauan untuk #dirumahsaja tidak mudah dilakukan oleh mereka-mereka yang bekerja di lapangan seperti contoh diatas. Oke Social/physical distancing masih bisalah, karena ini hanya cukup dengan menjaga jarak antar orang dan tidak melakukan kegiatan yang berkerumun. Tetapi untuk di rumah saja, jelas mereka tidak bisa. Ekonomi mereka akan lumpuh. Jika tak ada bantuan dari siapa-siapa, mereka tidak bisa makan atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baik, kali ini saya tidak akan membahas lebih jauh tentang hal tersebut. Bukan wilayah saya dan saya tidak banyak memahami hal tersebut. Saat ini saya hanya pengin sharing tentang pengalaman saya selama harus kerja dari rumah.

Full-time working mom, mompreneur, freelancer/blogger

Ya, saya adalah seorang ibu bekerja, full time working mom. Tetapi di rumah saya adalah ibu rumah tangga yang memiliki dua anak. Anak pertama sudah duduk di bangku SMA, yang kebetulan tidak tinggal serumah dengan saya. Sedangkan anak kedua masih balita, saat ini berusia 31 bulan.

Yang namanya #kerjadarirumah sebenarnya sudah biasa saya lakukan selama hampir 13 tahun ini. Tapi itu kerja sebagai mompreneur dan freelancer/blogger.Β Biasanya saya memanfaatkan waktu setelah pulang dari kantor hingga esok paginya. Entah itu menulis artikel atau mengedit foto dan caption atau menghandle jaringan bisnis atau membuat training, dan lain-lain. Malam gak tidur dong? Hehehe, ya tidur, dengan waktu secukupnya saja.

Nah, yang terjadi sejak seminggu yang lalu adalah #kerjadarirumah dengan memindahkan pekerjaan kantor ke rumah. Seingat saya terakhir melakukan ini adalah sehari sebelum lahiran Dimas. Jadi waktu itu saya masih menyelesaikan pekerjaan kantor sambil menahan sakit karena sudah kontraksi melulu. Alhamdulillah masih aman terkendali hingga pekerjaan saya tuntas. Sehingga saat melahirkan saya sudah tidak punya tanggungan apa-apa.

kiat kerja dari rumah

Salah satu jalan masuk kampung saya yang ditutup. (foto koleksi pribadi)

Memindahkan pekerjaan kantor ke rumah

Sebelum ada kebijakan untuk kerja dari rumah saya dan teman-teman sekantor tetap masuk kantor secara bergantian, dua orang dua orang. Jadi masih sebatas menerapkan social/physical distancing gitu… Tetapi sejak beberapa wilayah mulai me-lock-down kampungnya masing-masing, termasuk kampung-kampung di dekat sekolah kami, maka turun kebijakan untuk kerja dari rumah saja bagi seluruh staf kantor. Sampai kapan, saya juga belum tahu.

Meskipun sudah terbiasa bekerja dari rumah, ternyata bukan hal yang mudah bagi saya untuk 100% memindahkan pekerjaan kantor ke rumah. Karena itu sama saja memindahkan arsip-arsip dari kantor ke rumah. Dan itu sungguh tidak mungkin! Merepotkan saya, sodara-sodara πŸ˜€

Di rumah, saya memiliki anak balita yaitu Dimas yang sedang rusuh-rusuh-nya. Dalam bahasa Jawa rusuh itu artinya sangat aktif, serba ingin tahu dan semangat eksplorasi sana-sini. Bisa dibayangkan ‘kan kalo saya membawa semua pekerjaan kantor ke rumah.Β Jadinya untuk tahap awal, saya kumpulkan dulu data-data yang bisa saya kerjakan secara online tanpa perlu membuka atau membawa arsip kesana kemari. Itu dulu saya kerjakan semaksimal mungkin.

Oiya, meskipun kerja dari rumah, rutinitas urusan domestik tetap saya lakukan seperti kalo masih harus ngantor. Jadi jam 7 pagi semua sudah beres, tinggal ngurusi Dimas dan siap-siap (pergi) kerja. Jam 5 sore juga gitu, tetap ngurus diri sendiri, Dimas dan urusan domestik. Sedangkan untuk urusan makan, ada suami saya yang siap-sedia bikin makanan untuk kami sekeluarga πŸ™‚

Kerja dari rumah sambil mengasuh anak balita

Karena ada anak balita, ternyata saya butuh adaptasi di hari pertama kerja dari rumah. Saya masih butuh mempelajari situasi dan kondisi antara harus fokus dengan pekerjaan namun harus siap setiap saat dibutuhkan oleh Dimas. Alhamdulillah hari pertama terlewati, selanjutnya hari kedua dan seterusnya saya sudah mulai terbiasa.

Untuk menjaga kewarasan, pekerjaan kantor di siang hari saya kerjakan secara fleksibel aja. Enggak seserius kalo di kantor. Karena di rumah ada Dimas yang sesekali ngajak main tembak-tembakan, sesekali minta dipangku depan laptop, sesekali minta dianterin pup/pipis, sesekali ngajak bobok, dan lain-lain. Banyak amat sesekalinya yaa… πŸ˜€ Sedangkan untuk hal-hal yang butuh fokus dan konsentrasi saya kerjakan saat Dimas bobok siang atau saya kerjakan di waktu malam hari.

Dengan kondisi terpaksa memindahkan pekerjaan kantor ke rumah itu membuat pekerjaan sebagai mompreneur dan freelancer/blogger jadi agak terbengkalai. Meskipun begitu, saya tetap menerima tawaran pekerjaan sebagai freelancer/blogger, karena di saat-saat sulit begini kran penghasilan harus tetap mengalir. Dan inilah tantangan yang harus saya hadapi.

Agar supaya pekerjaan utama dan bisnis dua kaki saya tetap jalan di saat harus kerja dari rumah, maka saya harus menerapkan skala prioritas. Saya orangnya tidak mau terlalu strict dengan jam kerja. Misalnya jam 8 pagi sampai jam 5 sore hanya untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Oh nooo… itu bukan gue.. Saya orangnya fleksibel. Jadi mana yang urgent, itu yang saya kerjakan duluan. Yang penting, target tercapai πŸ™‚

kiat kerja di rumah

Dimas naik galon kosong di depan ibunya yang sedang bekerja. (foto koleksi pribadi)

Hikmah #kerjadarirumah

Meskipun tampaknya repot ya memindahkan pekerjaan kantor ke rumah, tetapi ada hal-hal positif (hikmah) yang saya rasakan. Hikmah yang paling saya rasakan luar biasa adalah bisa mengikuti perkembangan Dimas dari waktu ke waktu. Di postingan saya sebelumnya, saya cerita tentang tumbuh kembang Dimas yang pesat di usia 30 bulan. Ya, saya bersyukur sekali berada di samping Dimas pada saat-saat itu.

Sekarang saya makin bersemangat mengajarkan banyak hal kepada Dimas meskipun sambil mengerjakan pekerjaan kantor dan pekerjaan-pekerjaan lain. Sambil bekerja sambil bermain dengan Dimas. Sambil ngajak ngobrol Dimas agar supaya makin lancar bicaranya. Sambil memberitahu banyak hal agar makin pinter anaknya. Dan masih banyak lagi.

Kiat kerja dari rumah bagi ibu bekerja yang memiliki balita

Hehehe… cerita ngalor ngidul saya udah cukup panjang ya… Jadi kesimpulannya gimana tentang kiat kerja dari rumah bagi ibu bekerja yang memiliki balita?

  1. Pilah-pilah dulu mana pekerjaan kantor yang memang bisa dikerjakan dari rumah dan mana yang bisanya hanya dikerjakan di kantor. (Dalam kondisi seperti ini ternyata tetap ada saat-saat saya harus mengerjakannya di kantor. Ya, bismillah aja…).
  2. Sebisa mungkin tidak membawa arsip-arsip kantor ke rumah, supaya tidak repot dan tidak ada yang hilang atau rusak. Lagipula di rumah yang sekarang saya tidak memiliki ruang khusus semacam small office πŸ™‚
  3. Bekerja secara fleksibel namun menerapkan skala prioritas. Kerjakan yang penting-penting (urgent) terlebih dahulu, baru kemudian lanjutkan dengan pekerjaan rutin.
  4. Kelola waktu dengan dengan baik, gunakan waktu siang dan/atau malam hari untuk memenuhi jatah jam kerja. Karena siapa tahu ada absensinya ya…
  5. Selesaikan urusan domestik seperti biasanya saat akan pergi kerja, supaya saat mengerjakan aneka pekerjaan kantor di rumah, mata dan pikiran tidak terganggu oleh piring kotor, lantai rumah belum disapu, pakaian belum dicuci, dan lain-lain. Moms jangan lupa tetap rajin mandi seperti biasanya kalo ngantor yaa…
  6. Libatkan anggota keluarga yang lain, beri pengertian bahwa kita sedang bekerja dari rumah. Jadi misalnya tiba saat butuh konsentrasi tingkat tinggi kita bisa minta tolong anggota keluarga yang lain untuk gantian menjaga anak.
  7. Fleksibel dengan situasi dan kondisi di rumah. Melihat ibunya di rumah, pasti anak balita senang sekali karena akan ada yang selalu menemaninya. Jadi sebisa mungkin tetap sambil mendampingi anak dalam segala hal. Misalnya saat anak minta makan/minum, saat anak minta ditemani ke kamar kecil, saat anak minta ditemani bobok, dan lain-lain. Tapi jangan ikutan bobok lho yaa… πŸ˜€

Sepertinya itu aja sih kiat-kiat kerja dari rumah ala saya untuk ibu bekerja yang memiliki balita. Mungkin bisa diterapkan untuk sebagian orang, namun belum tentu bagi sebagian yang lain. So, fleksibel aja ya mom.. Kuncinya, jaga kewarasan, dan itu hanya Anda sendiri yang tahu gimana caranya πŸ™‚

kiat kejar dari rumah

sumber gambar: Pixabay

Stay safe, stay healthy, happy working from home to everyone !!

 

18 thoughts on “Kiat #KerjaDariRumah Bagi Ibu Bekerja yang Memiliki Balita”

  1. Haha. Bekerja dari rumah bersama anak kecil memang seru-seru begitu Mba. Dinikmati dan syukuri saja, biar pun si bocil kadang menurut kita gengges, sebenernya pengen main terus sama ibunya.

  2. waduh dek, awas jatuh dong, hahaha.
    Kerja di rumah? duh aslinya sih enakan kerja di kantor, meski sibuk tapi fokus, kalau di rumah mah digangguin melulu hihihi.
    Tapi ya gitu, memang lebih baik dinikmati, nggak bakal lama kok anak-anak bisa gangguin kita hihihi

  3. Mba Wiwin hebaatt, bisa mengkondisikan si kecil, nih.
    SOale banyak ibu2 yg sambat, bingung gimana ngasih pengertian kalo emakya nih lagi kerja, walopun berada di rumah aja.
    Semangaattt ibu2 semuanyaaa!

  4. Wah salfok dengan jauhnya jarak usia kakak dan adeknya. Semangat ya mbak walau kerja dari rumah tetap harus waras. Hehheh

  5. Seruu banget ya k, kerja di rumah sambil ngasuh balita. Ini saya baru ngerasain karena WFH hihi seruuu banget dan harus pinter-pinter bagi waktunya. Multitasking juga hahhha ampun pokoknya tapi seruuu ya k. Sukses selalu buat k pratiwanggini

  6. Saya bayanginnya kok repot ya Mbak hehehe. Salut sama Ibu-ibu yang bisa membagi waktu untuk bekerja di luar dan di rumah. Pasti membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Tetap semangat ya Mbak.

  7. I feel u, Mbak Wiwin. Bagus banget tipsnya. Memang enggak mudah punya balita tapi bisa tetap produktif, insyaallah semua bisa dilakukan, ya. Tetap semangat. Senangnya bisa baca tulisan Mbak Wiwin ini. Salam kenal, Mbak

  8. Alvianti Alvianti

    Di mana pun tempat kerjanya, selalu ada tantangannya. Saya aja belum punya anak ngerjain tugas kuliah banyak tantangannya… tempat tidur, film, resep baru, hehe

  9. Masya Allah, Alhamdulillah mbak ada berkah dari kerja dari rumah ya, jadi bisa memantau perkembangan si kecil. Memang benar, saya juga di rumah sambil jadi marketer tipsnya harus fleksibel dengan pekerjaan sebagai ibu dan istri. Akan susah jika kita tetapkan waktu kerja seperti ngantor

  10. memang ibu itu harus memiliki me time sendiri ya biar tetap waras. apalagi untuk ibu bekerja, pasti enggak mudah tetap bekerja dan urus balita. Masyaallah sehat selalu sekeluarga mba. Aamiin

  11. Kerja dari rumah memang lebih repot daripada kerja di kantor ya, Mbak. Jadi harus pinter-pinter ngatur waktu dan tenaga biar semua bisa tertangani dengan baik.

  12. Terima kasih tipsnya, Mbak Wiwin. Situasi seperti ini memang harus bisa mengatur waktu dan tenaga juga beradaptasi dengan perubahan biar semua bisa tertangani dengan baik.

  13. Kalau pekerjaannya model yang jam segini harus on time itu gimana cara menyiasatinya? Aku kebetulan masih kerja dari kantor, jadi tak bisa kubayangkan jika harus kerja dari rumah. Bisanya nunggu mereka bobok dulu.

  14. seru emang mbak kerja dari rumah, saya juga 90% kerja dr rumah freelance ala-ala kaya mbak, jadi ya terbiasa sama anak-anak tapi sekrang anaknya nambah krn bapaknya jg di rmh haha. malah jadi sering ke dapur ga sih mbak?hehe

  15. Iya mbak, bekerja di rumah mmg harus siap memindahkan arsip2 yang ada di kantor ke rumah. Saya juga bolak-balik ke sekolah karena ada ajah yang ketinggalan.

  16. Meskipun kudu mikir ulang gimana mendisiplinkan waktu kerja di rumah, kalau ada anak memang mau tak mau harus lebih fleksibel ya. Sudah benar itu mba, untuk hal-hal yang butuh konsentrasi tinggi, sebaiknya dikerjakan saat bocah sedang tidur siang atau malam hari. Untuk ngeblog pun aku juga hanya bisa kalau suasana sedang tenang. Saat anak butuh ditemani, ya udah laptop kudu ditinggal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *