Menantikan Kelulusan

Bulan April adalah bulan dimana siswa-siswi SMA/SMK kelas XII tinggal menghitung hari hingga berakhirnya waktu menimba ilmu di bangku sekolah. Menurut kalender pendidikan 2019/2020, minggu ini adalah jadwal mereka mengikuti Ujian Nasional. Namun karena adanya pandemi, maka diputuskan adanya pembatalan UN. Mungkin banyak yang merasa bersyukur, namun tentunya tidak sedikit juga yang merasa kecewa karena sudah belajar keras bahkan sudah bayar mahal untuk bimbingan belajar.

Dalam kesempatan ini, Cristoffer Veron Purnomo, menuliskan opininya mengenai setelah lulus mau ngapain, juga tentang gimana mengatasi rasa jemu selama menantikan kelulusan. Sebagai orang tua, ada baiknya kita mendengarkan uneg-uneg anak-anak kita yang diwakili oleh Cristoffer ini. Sebagai pelajar SMA/SMK, mungkin kegelisahan kalian tersampaikan juga disini. Kita simak yukkk…

Kondisi Saat Ini

Bermula dari keisengan penulis yang selalu komunikatif dengan sesama kawan, muncul sebuah pertanyaan yang mencuat dalam benak pikiran penulis. Bar lulus ameh ngopo yo? Atau dalam bahasa Indonesianya “setelah lulus mau ngapa”, dan boleh ditafsirkan lebih ekstensif menjadi “saya setelah lulus dari sekolah ini mau kemana, kuliah, kerja, atau menganggur?” Pertanyaan ini agaknya telah di mafhumi oleh seluruh kalangan peserta didik yang duduk di bangku akhir pendidikan, khususnya SMA/SMK.

Berangkat dari sini, maka kita bisa menginferensi bahwa lulusan pendidikan saat ini masih mengalami simpang-siur dan sumir. Terlebih lagi hari ini para peserta didik yang menempuh pendidikan di masa-masa akhir seperti sekarang hanya bisa berdiam diri di rumah, tanpa berbuat sesuatu. Hal tersebut diakibatkan setelah pembatalan UN dan khusus SMK ada yang namanya UKK (Uji Kompetensi Keahlian) ditiadakan, maka mereka hari ini hanya bisa berdiam diri di rumah selagi menunggu detik-detik kelulusan.

Pembatalan UN dan pentiadaan UKK tersebut tercantum dalam Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid 19. Rencananya, UKK SMK akan dilakukan pada tanggal 1-2 April. Pentiadaan tersebut dilatarbelakangi oleh penyebaran Covid-19. Sampai pada hari Rabu 22 April kemarin jumlah pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) di Indonesia mencapai 7.418 kasus.

Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 638 jiwa, dan jumlah yang sembuh 913 orang. Kondisi seperti inilah yang membuat pemerintah mengambil tindakan kolektif untuk memutus penyebaran virus tersebut. Langkah pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut ialah dengan mensterilisasi lingkungan sekolah untuk tidak mengadakan aktivitas sehari-hari.

Mensterilisasi lingkungan sekolah untuk tidak mengadakan aktivitas sehari-hari tersebut merupakan langkah preventif yang sangat tepat dilakukan. Sebab dalam beraktivitas di sekolah seluruhnya berkumpul ruah menjadi satu, sehingga sinyal penyebaran virus tersebut sangatlah besar. Apalagi pelaksanaan UKK yang butuh memakan waktu yang cukup lama, karena proses yang ditempuh sangatlah panjang.

Pelaksanaan UKK ini menjadi zenit bagi anak SMK. Sebab UKK ini memiliki orientasi sebagai penilaian yang diselenggarakan khusus bagi siswa SMK untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik yang setara dengan kualifikasi jenjang 2 (dua) atau 3 (tiga) pada KKNI. Dengan pentiadaan UKK bagi SMK ini, maka kelulusan SMK/sederajat ditentukan berdasarkan nilai rapor, praktik kerja lapangan, portofolio, dan nilai praktik selama lima semester terakhir. Kemudian nilai semester genap tahun terakhir dapat digunakan sebagai tambahan nilai kelulusan.

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Jemu

Adalah suatu kata ungkapan yang selaras dengan paradigma kehidupan sekarang. Kata jemu meniscayakan bagi peserta didik yang akan mengakhiri masa studinya. Tidak tanggung-tanggung, mereka tidak bersekolah secara tatap muka telah menginjak di hari ke 17 yang dimulai pada 20 Maret hingga detik ini. Bahkan Gubernur DIY Dr. (H.C.) Sri Sultan Hamengku Buwono X telah memperpanjang masa sekolah hingga 28 April mendatang sesuai dengan surat edaran Nomor 443/6229 Tentang Pengaturan Ulang Aktivitas Pendidikan Dalam Masa Tanggap Darurat Bencana Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Tentu kondisi seperti ini akan membuat siswa menjadi jemu. Sebab tidak ada aktivitas di luar rumah, hanya berdiam diri di rumah. Bagi mereka yang masih duduk di bangku kelas 1-5 SD/MI, 7-8 SMP/MTs, dan 10-11 SMA/SMK mereka akan mendapatkan tugas dari guru satuan pendidikan secara online. Lantas bagaimana dengan nasib mereka yang sebentar lagi akan lulus? Dapat dipastikan bahwa mereka hanya bisa menunggu, menunggu, dan menunggu. Rencananya kelulusan akan dilaksanakan di bulan pendidikan, tepatnya 6 Mei sejalan dengan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan 1441 H.

Doa dan Literasi

Maka untuk mengisi kejemuan, langkah mahardika yang perlu dilakukan ialah melakukan kegiatan kerohanian berupa berdoa. Kegiatan tersebut sangatlah relevan dilakukan di masa-masa urgen seperti ini. Berdoa itu kita memohon kepada Tuhan agar musibah ini bisa pupus dan tidak dapat terulang kembali. Masyarakat modern seyogianya menggunakan akal-budinya untuk berserah diri kepada Tuhan, jangan sampai dengan tidak diselenggarakan ibadah di masjid, gereja, wihara, pura tidak melaksanakan ibadah dengan baik. Justru dengan kondisi seperti ini kita beribadah di rumah memohon kepada Tuhan untuk diangkat virus ini dari muka bumi.

Dalam Islam, berdoa itu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umatnya. Sebab tidak ada manusia yang kuat di dunia ini melainkan Sang Pencipta. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”, demikian rayuan Tuhan kepada para hamba-Nya dalam QS Al-Baqarah ayat 186. Rasulullah Muhammad SAW juga mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Tuhan selain doa.

Oleh karenanya, kita memohon doa untuk di lindungi dari virus ini. Kita harus senantiasa membaca doa-doa pelindung yang bersumber dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi. Doa yang diajarkan oleh Nabi SAW ketika terjadi wabah seperti sekarang dengan membaca:

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL BARASHI WAL JUNUUNI WAL JUDZAAMI WA MIN SAYYI-IL ASQAAMI”

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit lepra, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya.” (HR. Abu Dawud 1554)

Harus diakui bahwa Dia akan melindungi diri kita dari virus tersebut. Tidak ada kekuatan yang besar dari kekuatan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka kita harus yakin seyakin-yakinya Tuhan akan melindungi diri kita dari virus tersebut.

Selain berdoa, untuk mengisi kejemuan kita selagi menunggu kelulusan di tengah-tengah gejolak global ini ialah kegiatan literasi berupa membaca dan menulis. Generasi milenial sangat minim dan rendah sekali kesadaran akan literasi tersebut. Mereka telah terkontaminasi dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat. Budaya membaca dan menulis sangat langka ditemukan di usia generasi milenial. Karenanya untuk mengisi waktu luang dan menunggu kelulusan lakukanlah kegiatan tersebut.

Kegiatan tersebut sangatlah relevan untuk diimplementasikan. Sebab kegiatan tersebut akan meningkatkan kemampuan interpersonal skills, melatih kemampuan berfikir secara rasional, menumbuhkan dan mengembangkan akal-budi yang baik, menambah khazanah pengetahuan, dan menambah kosa kata. Mereka perlu dilatih untuk tidak terkontaminasi dengan kemajuan teknologi membuat tumbuhnya rasa malas dan apatis. Orangtua harus bersinergi dalam mengawasi putra-putrinya untuk mengisi masa luangnya dengan melakukan kegiatan tersebut sembari menantikan kelulusan.

menantikan kelulusan

Cristoffer Veron Purnama (IG: @cristofferofficial), adalah siswa Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Divisi Informasi dan Media MCCC PCM Jetis Yogyakarta, juga penulis buku “Menuju Hidup Sukses” yang diterbitkan oleh Penerbit Farha.

 

51 thoughts on “Menantikan Kelulusan”

  1. Sedih. Aku juga punya keponakan yg duduk di kelas 3 SMA, sekarang cuma bisa menunggu dan berdoa. Dan bertanya-tanya nanti mau ada lulusan atau tidak, lalu selanjutnya mau gimana? Aku hanya bisa berdoa supaya keadaan kembali normal.

  2. Sudah merasakan bagaimana banyak anak-anak atau mahasiswa yang seharusnya lulus dan dipending. Ya ampun semoga pandemi ini berakhir. Karena memang jenuh dan jemu juga menunggu ya mbak apalagi yang mau masuk sekolah dan kuliah.

  3. Di tengah pandemi ini banyak sekali hikmah yang bisa diambil salah satunya adalah mengajarkan anak hobi (yang benar² disenangi) dan harus ditekuni itu sangat penting. Jadi kalaupun ada pertanyaan “mau jadi apa habis lulus?” Ya setidaknya ada hobi yang ditekuni. Gak tahu kan hobi itu akan bermanfaat kelak. Entah mendatangkan uang atau apapun itu.

  4. Anakku yang kelas 9 saja sedih, karena sudah siap UN eh ternyata ditiadakan. Salut buat Cristoffer.
    Memang masih jadi PR kemampuan lulusan SMA/SMK di Indonesia ya. Mungkin bisa diadopsi konsep di negara lain. Seperti di Amerika misalnya, SMA itu 4 tahun lamanya. Jadi, ada mapel yang benar-benar difokusin di jenjangnya.

  5. Ada UN siswa/i pusing, nggak ada ujian ternyata ttep bingung juga ya ke depan’y bagaimana? Semoga segera berlalu deh ini wabah, adik saya juga menanti2 jadwal ujian yang terus2an mundur entah sampai kapan. Mungkin masuk sekolah nanti udah naik kelas aja ?

  6. Emang enggak ada yang akan mengira kalau efeknya sebesar ini jg ke pendidikan anak2 ya mbak. Emang jemu tapi ya gmn demi kebaikan bersama, lbh baik jemu di rumah ketimbang jemu di IGD hiks hiks. Ini pun td udah pd keluar planning bulan Juli sekolahan akan bla bla, tapi kok saya msh khawatir soal pandemi ini akan selesai atau gak mbak. Kok saya merasa mungkin msh butuh bersabar dikiitt lg… Kalau ada wacana diubah lg sekolahnya jd Januari kyk zaman dulu kyknya saya akan lbh setuju gtu

  7. Sedih juga mendapati UN dibatalkan karena kondisi yang memang tak memungkinkan. Apalagi sebagai pengajar bimbel seperti aku yang kadang nerima curhatan dan pertanyaan siswa karena kesulitan akan ada ulangan online paginya..

  8. Imbas Covid-19 ke dunia Pendidikan merembet kemana-mana ya Mbak. Mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi ada yang wisudanya online, ada yang dibatalkan. Lulusan tinggal ambil Ijazah. Tapi ya mau melamar atau wiraswasta apa belum tahu, karena semua sedang Social Distancing…

  9. Sedih banget ya mbak, padahal ujian kelulusan itu yang dinanti oleh murid-murid..
    Semoga pandemi ibu segera berlalu dan kita bisa hidup seperti hari-hari biasa sebelum pandemi hadir

  10. Iya mba, aku juga udah ngeluarin uang buat biaya bimbingan belajar adikku. Eh ternyata ada pandemi. Tapi aku tidak menyesali, anggap aja berbagi rezeki untuk guru-gurunya di sana. Semoga pndemi cepet selesai ya mba. Aku juga berdoa juga untuk pandemi ini sehabis sholat. Apa atuh kita mah cuma manusia, tetap aja hrus serahkan kepada Allah untuk hasilNya. Soalnya klo ga meminta, betapa sombongnya kita ini

  11. Hebat ya, Christopher ini baru kelas 3 SMU udah nulis buku. Memang sekarang situasinya lagi pandemi, kelulusan siswa pun sebentar lagi. Semoga mereka bisa lebih siap untuk masuk ke dunia kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

  12. Wah…Inspiring banget ya Christoper udah punya buku juga. Aku sih yakin kalau Christ pasti udah punya segudang rencana…dan semoga juga temen-temennya terinspirasi bahkan mengambil keputusan yang lebih baik…

  13. Aku masih agak ga nyangka kita bisa ada d momen UN ditiadakan, plus UKK :’)
    Btw Keren ya den Cristhoper ini Udah melahirkan buku solo?

  14. Adik saya termasuk yang menikmati masa kelulusan di kala pandemi seperti ini. Untuk melajutkan kuliah, belum ada informasi lanjutan bagaimana caranya mereka melakukan pendaftaran kuliah dan menjalani perkuliahan. Jadi saat ini, saya menyarankan padanya untuk menambah skill lain dulu yang semoga saja bermanfaat di masa masa setelah pandemi ini berakhir kelak.

  15. Semoga pandemi ini cepat berlalu, soalnya saya juga bingung dengan pelajaran anak-anak apalagi di sini ngak semua guru dan anak memiliki fasilitas yang mendukung belajar online. Terus anak yang ujian SD dan SMP juga belum ada kepastian nih akan seperti apa metode kelulusannya dan penerimaan siswa baru.

  16. Pandemi ini membawa banyak perubahan ya mbak.
    Termasuk dalam bidang pendidikn..

    Butuh banyak penyesuaian belajar di masa pandemi ini.
    Duh, amg segera pergi si corona ini

  17. Ambil hikmahnya dari setiap kejadian ya, dan tetap positif thinking juga ya bahwa kita bisa melalui masa-masa ini dengan tak lepas dari doa

  18. Saya malah salah fokus ke namanya, unik ?
    saya bisa relate ke cerita nya Christoffer, dulu waktu saya menunggu kelulusan sekolah sama penerimaan di PTN juga rasanya galau. Mau belajar, semua tes udah selesai. Nunggu kuliah, belum tahu diterima atau nggak, kalo gak diterima mau ngapain. Semoga semua anak2 kelas XII diberi kemudahan utk menuju cita-cita masing-masing.

  19. Mengisi waktu dengan menulis di masa sekarang ini merupakan hal yang tepat, karena ada rasa kepuasan setelah ‘curhat’ melalui tulisan. Saya lakukan itu untuk melepas kejenuhan dan stres saat inim

  20. Anakku kelas 9, saat ini kegiatannya Amaliyah Ramadan. Jadi pagi ada zoom meting dengan walas tadarusan. Terus nyambung tadarus pribadi, divideo dikiri ke guru. Lalu mendengarkan kultum dari guru tiap hari beda lalu anak diminta membuat ringkasannya.
    Jadi Alhamdulillah ada kegiatan. Semoga segera berlalu wabah ini dan anak-anak bisa sekolah lagi

  21. Ya Allah kebayang rasanya menunggu lulus/tidak dengan kondisi seperti ini ya. Ortu juga perlu inisiatif mencarikan ide kegiatan biar ada hal positif yang bisa dikerjakan dimasa tunggu ini. Semoga keadaan bisa segera membaik ya Mba.

  22. Tahun 2020 tahun spesial untuk siswa/i yang lulus dan masuk ajaran baru. Karena selebrasi perpisahan sekolah, corat-coret, penerimaan siswa baru macam penataran dan ospek tak ada di tahun ini. Walau begitu semoga adik-adik tetap bisa melakukannya secara online by wa gru aja.

  23. Salut deh pada Cristoffer. Semoga pandemi ini segera berakhir. Sebuah oengingat yang baik agar anak-anak bisa menanti kelulusan dengan meningkatkan keterampilannya. Dengan perubahan besar ini, pasti akan ada pula pergerakan baru di dunia pendidikan ya mbak:)

  24. Gak nyangka banget ya mbak jika dunia pendidikan jg akan spt ini krn pandemi ini, smg saja bisa dilalui bersama. Dan smg pandemi ini segera berlalu.. Entah sampai.kapan, tapi saya yakin insyaa Allah segera berlalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *