Jurnal Syukur: 30 Hari Menulis untuk Pulih (4)

jurnal syukur menulis untuk pulih

Ini adalah lanjutan dari Jurnal Syukur Menulis Untuk Pulih bagian 3.

16. Kelapangan waktu dan Samsung Galaxy M20

edisi 3 Juni 2020 pagi

Pagi ini sangat wajib sekali saya harus bersyukur. Kenapa? Karena, rasanya saya sudah mengerjakan banyak hal hingga si bocil Dimas udah mandi rapi sarapan, ternyata jarum jam baru menunjukkan pukul 7:25.

Padahal biasanya rasanya kemrungsung karena musti persiapan pergi kerja. Maturnuwun Gusti, atas kelapangan waktu di pagi hari ini. Rutinitasnya sama, tapi rasanya lebih lega dan lapang 🙂 🙂 🙂

jurnal syukur menulis untuk pulih

edisi 3 Juni 2020 malam

Beberapa tahun ini saya selalu mengutamakan orang-orang yang saya cintai terlebih dahulu. Khusus tahun ini biarkan saya memanjakan diri saya sendiri. Yang penting suami sudah ridha, anak-anak juga sudah tahu. Blio/suami bilang, bentar lagi ‘kan ulang tahun…

Alhamdulillah… rejeki dari langit diwujudkan barang ini. Semoga semakin semangat berbagi hal baik lewat HP ini, sekaligus mendapatkan rejeki yang berkah pula melaluinya.

17. Lebaran ketupat

edisi 4 Juni 2020

Salah satu cara mewujudkan rasa syukur itu tak perlu jauh-jauh dari hobi dan bakat. Punya bakat dan hobi memasak? Mainkan.

jurnal syukur menulis untuk pulih

Setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan, dilanjutkan dengan 6 hari puasa Syawal, suami saya bikin makanan-makanan yang kemudian dibagikan kepada tetangga kanan kiri, serta beberapa porsi dikirim ke teman-teman di luar sana.

Suami saya puas nan lega. Yang mendapat bagian/kiriman juga senang. Saya? Dengan senang hati memberesi peralatan dapur 🙂

18. Bye bye masa lalu, welcome hidup baru kedua

edisi 5 Juni 2020

Salah satu anugerah terindah di bulan Ramadhan kemarin adalah mendapatkan banyak pencerahan dari Ruang Pulih lewat mba Intan Maria Halim. Jalannya melalui salah satu proyek antologi IIDN. (Masih berlanjut hingga tuntas 30 hari nanti).

Andai gak nekad gabung, mungkin saya akan merasa baik-baik saja while actually I am not okay. Kebetulan saya tipe orang yang mengikuti kata hati. Jadi waktu itu hati saya bilang udahlah ikut aja meskipun kamu belum tahu mau ngapain dan nulis tentang apa. Akhirnya saya gabung dan berharap akan ketemu ide sambil jalan. Bersyukur saya karena benar adanya yaitu dapat ide menulis sambil self healing.

Satu hal sederhana yang saya dapatkan dari program self healing ini adalah saya jadi bisa menggambar. Enggak malu-malu lagi apalagi takut salah. Apakah diajari menggambar? Enggak! Kami hanya diminta mengekspresikan perasaan/emosi masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan membuat gambar. Kemudian gambar tersebut harus diwarnai, minimal pake 5 warna.

Antara menggunakan crayon dan pensil warna, saya lebih nyaman menggunakan crayon. Lebih empuk saat mewarnai dan hasilnya lebih mantap. Itu menurut saya lho yaaa…

Dulu saya pernah membeli buku semacam coloring book. Sampai sekarang buku tersebut masih segelan, tersimpan rapi. Padahal dulu saya beli karena pengin seperti orang-orang yaitu relaksasi lewat mewarnai.

jurnal syukur menulis untuk pulih

Sekarang saya tahu jawabannya. Yaitu bahwa yang saya butuhkan bukan sekedar mewarnai. Tetapi menggambar dulu, baru mewarnainya. Lengkap, keluar dari hati, bukan mewarnai gambar bikinan orang lain. Dan sungguh, merilis beban hidup lewat menggambar sangat membantu saya menjadi lebih baik, lebih nyaman.

Hasil saya menggambar dan mewarnai mungkin tidak bagus. Tapi saya puas dan lega setelah membuatnya. Orang awam akan bilang ahhh cuma gambar seperti itu, tapi orang yang mengerti ilmu kejiwaan akan bisa menerjemahkan arti dari gambar tersebut. Ada cerita panjang di balik sebuah gambar. Kapan-kapan deh saya akan simpan di salah satu album di Facebook ini.

Maturnuwun Gusti atas anugerah ini. Terimakasih IIDN dan Ruang Pulih atas kesempatan ini. Bye bye masa lalu, welcome hidup baru kedua.

Dan berkah proyek ini pula saya mendapatkan puluhan teman-teman baru yang luar biasa. Dari yang tak kenal, kami menjadi saling kenal dekat. Dari yang sudah kenal by casing, menjadi lebih kenal pribadinya. Maaf tidak saya sebutkan satu per satu yaa…

Yuk ahhh melangkah lagi mengisi hidup dengan hal-hal baik dan bermanfaat. Move on and move up dari masa lalu 🙂 . Hidup ini indah lhooo….

19. Berkumpul keluarga

edisi 6 Juni 2020

Satu hal yang sangat membahagiakan seorang ibu adalah ketika bisa berkumpul dengan anak-anaknya.

Bersyukur sekali Allah memberi saya kesempatan untuk menginap di rumah bapak-ibu di weekend ini. Suami mengantarkan saya dan si adik pada Jum’at malam kemarin. Rencananya dijemput nanti hari Minggu sore.

jurnal syukur menulis untuk pulih

Di tengah-tengah pandemi ini menginap di rumah ortu menjadi kebahagiaan berlipat, karena:

  1. Berkumpul dengan bapak-ibu tentu saja menghadirkan rasa bahagia di hati beliau-beliau. Kumpul anak cucu menantu.
  2. Berkumpul dengan si kakak (anak mbarep) yang udah 1.5 tahun ini tinggal dengan neneknya. Saya bahagia, si kakak juga bahagia.
  3. Si adik bahagia karena bisa dekat dengan kakak. Demikian pula sebaliknya. Sebagai saudara kandung, di dalam hati mereka masing-masing pasti menyimpan kerinduan.

Terimakasih, ya Allah, masih Engkau beri kami kesempatan untuk berkumpul dalam keadaan sehat wal afiat. How wonderful weekend ?

20. Dimas naik mobil

edisi 8 Juni 2020

Kemarin…

Bersyukur seluruh keluarga dikaruniai sehat wal afiat, terutama anak-anak serta mbah kakung-uti mereka.

Bersyukur bisa bertemu dengan kakak-kakak sepupu serta ponakan-ponakan setelah Lebaran kemarin hanya bisa menyapa lewat WhatsApp. Ceritanya di Jogja ini hanya tinggal bapak saya yang masih ‘sugeng’, sementara pakdhe-budhe sudah meninggal. Masih ada satu budhe tapi di Jakarta, jelas ga bisa bertemu karena pandemi. Jadi, hanya tinggal bapak yang dituakan disini.

jurnal syukur menulis untuk pulih

Bersyukur sesampai di rumah, rencana saya udah diwujudkan oleh suami (mberesin dapur dan menyingkirkan barang-barang yang tidak perlu). Itu tanpa saya minta lhooo…Jadi semacam surprised ketika balik ke rumah (setelah weekend nginap di rumah simbahnya anak-anak). Makasihhhh, mister Dimas Satria 🙂 🙂 🙂

Bersyukur bikin Dimas happy karena dijemput pake mobil pickup (sekalian ngantar sepeda dan sandsack untuk kakaknya). Ini di dalam mobil si Dimas bobok tapi ga mau dipangku, maunya duduk sendiri sambil thekluk-thekluk.

Maturnuwun, Gusti, atas akhir pekan kemarin 🙂

(bersambung ke Jurnal Syukur Menulis Untuk Pulih bagian 5)