5 Hal Sederhana untuk Menahan Laju Perubahan Iklim

perubahan iklim

Di halaman depan kampus sekolah tempat saya bekerja, ada sebuah danau buatan yang lumayan luas. Pada saat musim hujan, danau tersebut berisi air yang melimpah. Karena selain menampung air hujan, ia juga menampung aliran air dari beberapa saluran selokan yang bermuara di danau ini.

Danau ini dikelilingi oleh tetumbuhan rumput hijau. Di tengahnya ada semacam pulau kecil dengan satu pohon yang tumbuh di atasnya. Sementara itu, di dalam danau juga berenang beraneka macam ikan yang bisa dikonsumsi. Sungguh, pemandangan yang sangat mengademkan mata, hati dan pikiran. Setiap sore hari saya biasanya menunggu jemputan dengan duduk-duduk di atas batu di tepi danau tersebut.

Namun, keasrian tersebut tidak berlangsung lama, mungkin hanya sekitar 3-4 bulan yaitu pada saat sering turun hujan dengan lebatnya. Begitu hujan tak lagi turun, air di danau ini perlahan-lahan dan akhirnya benar-benar menjadi danau yang kering. Selanjutnya menjadi danau rumput, karena kemudian dihuni oleh rumput-rumput liar.

perubahan iklim

Danau pada saat musim hujan. (Foto koleksi pribadi)

Melihat kenyataan ini, ada sedih yang menyelinap di hati saya. Sedih karena cepat sekali kekeringan itu terjadi, sedangkan hujan hanya hadir dalam waktu yang tak begitu lama. Dulu ketika saya masih kecil musim hujan dan musim kemarau itu berlangsung secara teratur, namun kini tidak lagi. Dulu saya sampai hafal di luar kepala kapan bulan-bulan kemarau dan kapan bulan-bulan musim hujan.

Sekarang yang saya rasakan, musim hujan dan musim kemarau tidak jelas periodenya. Bahkan saat musim hujan tiba, pun tidak berlangsung lama. Tidak sampai 6 bulan. Sehingga justru musim kemarau yang terasa lebih panjang. Melalui berbagai informasi yang saya baca ternyata itu dikarenakan adanya perubahan iklim.

Perubahan iklim terjadi karena pengaruh kerusakan lingkungan hidup. Nah, kerusakan lingkungan hidup di Indonesia sendiri semakin hari kian parah. Penyebab terjadinya kerusakan alam dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu akibat peristiwa alam dan akibat ulah manusia.

perubahan iklim

Danau di saat bukan musim hujan. (Foto koleksi pribadi)

Tentu saja kita tidak dapat berbuat apa-apa jika itu diakibatkan oleh peristiwa alam. Akan tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu jika diakibatkan oleh ulah manusia. Jika memang kita tidak kuasa melarang orang lain yang melakukan perbuatan yang merusak lingkungan, kita bisa memulai dari diri sendiri untuk tidak turut serta mengambil bagian dari kerusakan lingkungan hidup tersebut.

Dengan melakukan hal kecil atau sederhana saja, namun jika itu juga dilakukan oleh banyak orang di sekitar kita, pasti deh dampaknya akan luar biasa. Minimal kita bisa turut serta mengerem laju perubahan iklim. Sebagai blogger, kita memiliki cara yang elegan untuk mengajak orang lain melakukan hal-hal seperti yang kita lakukan. Caranya adalah dengan berbagi pengalaman melalui tulisan di blog, kemudian share tulisan tersebut melalui akun media sosial kita.

Emangnya apa saja sih yang sudah mba Wiwin lakukan? Sejauh ini ada 5 hal sederhana yang sudah saya lakukan, tapi nanti saja deh saya menceritakannya. Sekarang saya mau berbagi cerita dulu mengenai pengalaman saya mengikuti webinar tentang perubahan iklim yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Radio KBR pada tanggal 14 Agustus 2020 yang lalu melalui Zoom Meeting dan YouTube.

Suara Kita Tentang Perubahan Iklim

Sudah beberapa bulan ini secara berkala Kantor Berita Radio KBR mengadakan acara bincang-bincang dengan tema perubahan iklim. Empat topik yang pernah diperbincangkan adalah tentang bijak berenergi, air untuk kehidupan, hutan dan udara, dan jaga laut. Di episode kelima ini topik yang diperbincangkan adalah cerita kita tentang perubahan iklim. Dan ini merupakan episode terakhir dari tema perubahan iklim.

Alhamdulillah saya berkesempatan gabung dengan acara ini melalui Zoom Meeting bersama dengan teman-teman blogger dari berbagai kota/daerah. Nah, bagi teman-teman yang tidak sempat gabung dengan webinar tersebut, di channel YouTube Berita KBR Anda masih bisa menyaksikan rekamannya.

perubahan iklim

Zoom meeting #CeritaKitaTentangPerubahanIklim.

1. Perubahan iklim dan kelangsungan hidup hewan

Di episode terakhir ini, Don Brady dari Kantor Berita KBR berbincang bersama Pegiat Lingkungan dan Perlindungan Satwa dan juga seorang Model, yaitu Davina Veronica, yang keluar masuk hutan demi melindungi satwa yang habitatnya mulai tergerus.

Ketika berbicara mengenai perubahan iklim, pasti yang dibicarakan adalah tumbuhannya, sumberdaya alamnya, dan kondisi manusianya. Jarang yang membicarakan mengenai satwa atau hewan. Nah, pada kesempatan ini Davina berbagi cerita tentang pengaruh perubahan iklim pada kelangsungan hidup hewan.

Beberapa poin yang saya catat dari cerita Davina:

  1. Binatang masih dianggap sebagai isu yang belum urgent. Mereka seperti pengungsi, tidak punya tempat tinggal, karena diambil alih manusia.
  2. Saat masa pandemi, satu sisi aktivitas manusia menurun dan alam beregenerasi, tetapi kemudian masyarakat kegiatan di rumah juga punya dampak besar seperti menumpuknya sampah

2. Perubahan iklim dan blogger

Dalam kesempatan ini Ketua Umum Pusat Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) yaitu Widyanti Yuliandari juga berbagi cerita bagaimana ia tertarik menuliskan  ide-ide soal pelestarian lingkungan di blognya.  

Beberapa poin yang saya catat:

  1. Belum banyak blogger yang mengangkat isu lingkungan.
  2. Peran blogger adalah sebagai individu yang memiliki passion dalam sharing ide tentang pelestarian lingkungan.
  3. Blogger bisa mulai menyuarakan dari hal-hal yang sederhana yang bisa ditiru oleh follower / pembaca setia.
  4. Edukasi soal lingkungan di tengah masyarakat saat ini kondisi sudah lebih mudah. Sudah dipahami ini isu yang nyata.
  5. Para blogger di IIDN tidak hanya menulis soal lingkungan tapi juga mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Perubahan iklim dan menstrual cup

Ada juga seorang Blogger yang tinggal di Yogyakarta, Siti Hairul yang menggalakkan pemakaian Menstrual Cup dan menyerukan agar kaum perempuan menghentikan pemakaian pembalut sekali pakai. Menurutnya, pembalut sekali pakai tidak bisa diolah dan hanya menjadi timbunan sampah saja.

4. Perubahan iklim dan penyelamat penyu

Selain itu, dari Alun Utara Bengkulu, ada Pak Zul Karnedi, yang dulu adalah seorang pemburu telur penyu, namun kini berbalik menjadi penyelamat dan pelestari penyu.

Pak Zul Karnedi ini pada tahun 2015 mulai tergerak untuk melestarikan penyu setelah ada sosialisasi penyu yang hampir punah. Kemudian di tahun 2016 mulai mengeramkan dan menetaskan telur penyu.

5. Perubahan iklim mengancam

Sementara itu, hadir pula Direktur Eksekutif Yayasan Strategi Konservasi Indonesia, Mubariq Ahmad yang berbagi dampak perubahan iklim. Untuk bagian ini penjelasannya cukup panjang. Selengkapnya bisa disimak di channel Youtube Berita KBR.

5 Hal Sederhana untuk Menahan Laju Perubahan Iklim

Nah, sekarang giliran saya yang mau sharing hal-hal sederhana yang saya lakukan untuk menahan laju perubahan iklim. Seperti yang saya sampaikan diatas tadi bahwa cara saya memang sangat sederhana, namun jika dilakukan juga oleh teman-teman yang lain insyaallah akan membawa dampak positif.

perubahan iklim

Mengajarkan anak membuang sampah pada tempatnya. (Foto koleksi pribadi)

1. Manajemen sampah rumah tangga

Sampah rumah tangga terdiri dari 2 macam yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sudah bertahun-tahun saya berusaha memisahkan antar keduanya. Saya selalu menyediakan dua tempat sampah yang berbeda. Satu untuk tempat sampah organik dan satu lagi untuk tempat sampah anorganik.

Sebelum peduli dengan sampah dulu saya cuek saja melihat sampah campur aduk. Namun sejak kenal manajemen sampah, saya merasa gatal jika melihat sampah yang campur aduk. Maka ketika saya mulai bisa memisahkan antara keduanya saya merasa lega. Alhamdulillah konsisten hingga kini. Hanya saja saya tidak tahu lagi bagaimana kondisinya setelah dibawa oleh tukang sampah. Saya hanya bisa pasrah.

Namun saat saya tinggal di rumah yang memiliki lahan luas, antara lain saat saya berada di rumah orang tua saya, saya memiliki alternatif dalam mengelola sampah. Sisa makanan masih bisa dimanfaatkan untuk dijadikan makanan hewan. Sampah organik lain diolah menjadi pupuk atau kompos. Sedangkan sampah anorganik biasanya saya bakar di tempat khusus pembakaran sampah. Dengan demikian, clean and clear tidak ada sampah tersisa.

2. Membawa tas belanja sendiri

Untuk urusan belanja, saya menggunakan tas belanja sendiri. Hal  ini untuk mengurangi penggunaan plastik kresek sebagai pembungkus belanjaan. Tahu sendiri ‘kan ya, di satu tempat belanjaan dimasukkan ke dalam plastik kresek, nanti di tempat berikutnya juga begitu. Nah, dengan membawa tas belanja sendiri yang cukup memadai besarnya, maka setiap belanjaan tinggal dimasuk-masukin saja ke dalam tas.

Meskipun saya tidak berbelanja setiap hari, namun saya selalu menyimpan satu tas belanjaan di dalam tas kerja saya dan juga tas jalan-jalan saya. Karena kadang-kadang mendadak harus berbelanja, walaupun sekedar membeli susu atau sembako atau jajanan anak.

3. Menggunakan clodi untuk baby Dimas

Sejak Dimas, anak kedua saya, berusia 2 bulan, saya mulai membiasakan dirinya mengenakan clodi daripada pospak (popok sekali pakai). Clodi (modern cloth diapers) adalah sejenis popok yang bisa dicuci ulang yang terbuat dari bahan khusus serta terdiri dari outer dan insert. Jadi memang berbeda dari popok kain.

Secara harga, clodi memang lebih mahal. Satu biji harganya bisa Rp 50.000. Tetapi dampaknya terhadap lingkungan sangat bagus karena tidak menghasilkan sampah anorganik sebagaimana popok sekali pakai (disposal diapers). Sedih ‘kan ya kalau melihat sampah pospak bertebaran di sungai-sungai atau menggunung di tempat pembuangan sampah.

Karena itu saya niatkan untuk menggunakan clodi bagi baby Dimas. Gapapa mahal di awalnya, toh dengan perawatan yang baik, clodi tersebut bisa digunakan hingga si bayi berusia 2 tahunan. Hanya saja, si ibu harus rajin mencucinya 🙂

4. Bijak menggunakan energi

Kebutuhan air di rumah saya ditopang oleh daya listrik. Maksudnya, pengambilan air dari dalam sumur menggunakan pompa air yang dijalankan menggunakan tenaga listrik. Karena itu sebisa mungkin saya sekeluarga menggunakan air secara bijak. Antara lain dengan mematikan kran saat air sudah tidak dibutuhkan. Juga menyediakan ember besar sebagai tempat penampungan air baik untuk mandi maupun untuk mencuci pakaian dan perkakas lainnya.

Selain untuk pompa air, kami juga menggunakan listrik untuk keperluan lainnya, seperti untuk lampu-lampu, juga beberapa peralatan elektronik lainnya. Saat ada sinar matahari kami sama sekali tidak menyalakan lampu. Untuk penggunaan lampu-lampu kami berusaha menggunakan lampu yang jenisnya hemat energi. Sedangkan untuk alat elektronik, kami mencabutnya dari aliran listrik saat tidak digunakan.

perubahan iklim

Minum langsung dari gelas saja. tidak perlu pakai sedotan. (Foto koleksi pribadi)

5. Membawa tumbler dan bekal makan sendiri

Jaman sekarang, untuk mendapatkan makanan dan minum sangat mudah karena sudah banyak penjual makanan dan minuman yang bekerja sama dengan penyedia jasa pengiriman daring. Contohnya Go Food dan Grab Food. Sehingga bagi karyawan seperti saya tinggal gunakan aplikasi maka makanan dan minuman sudah sampai di tangan.

Tetapi saya berusaha meminimalisir layanan ini. Untuk kebutuhan minum di kantor saya membawa tumbler sendiri. Di kantor tinggal diisi ulang dengan minuman yang ada. Jika ingin minuman lain, juga masih bisa menggunakan gelas yang tersedia. Sedangkan untuk kebutuhan makan siang, saya membawa bekal sendiri dari rumah. Tidak saya bungkus plastik, tetapi saya tempatkan dalam sebuah lunch box yang aman.

Dengan demikian maka saya meminimalisir penggunaan sedotan plastik serta plastik atau styrofoam sebagai pembungkus minuman dan makanan. Selain itu, membawa bekal makanan dari rumah juga dijamin sehat serta ramah di kantong 🙂

Demikian tadi 5 hal sederhana untuk menahan laju perubahan iklim yang bisa saya lakukan. Saya pribadi tidak tahu apakah yang saya lakukan itu mampu menahan laju perubahan iklim. Namun jika dilakukan oleh ribuan bahkan jutaan orang, saya yakin akan ada efeknya. Walaupun saya sudah pesimis danau yang saya ceritakan tadi akan berisi air minimal 6 bulan secara terus menerus.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Related Posts:

1 thought on “5 Hal Sederhana untuk Menahan Laju Perubahan Iklim”

  1. Dari 5 daftar di atas, baru 3 yang dikerjakan. Udah biasa bawa tumbler ke mana-mana. Memilah sampah ini yg agak susah karena gak punya lahan buat mengolah sampah organik. Kalo yg non-organik biasanya aku pisahin sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *