Bell’s Palsy Bisa Sembuh, Ini Pengalaman Suami Saya

bell's palsy

Hari itu Sabtu 17 Oktober 2020. Pagi-pagi suami saya bilang: “Hari ini ke dokter ya, sepertinya aku stroke ini, langsung ke dokter saraf aja.” Suami bilang demikian sambil menunjukkan mulutnya yang mencong/perot. Saya? Kaget pastinya! Tapi saya membiasakan diri untuk tidak panik. Jadi dalam kondisi kaget, saya segera menenangkan diri saya sendiri sambil menjawab: “OK, aku daftarkan dulu ke dokter saraf.”

Sebenarnya hari itu saya persiapan grand launching buku Pulih dan meeting dengan istrinya big boss. Semua acara tersebut terjadwal dilaksanakan Sabtu malam. Karena saya kebagian tugas menghandle pendaftaran peserta grand launching, maka saya harus  standby online hingga menjelang acara dilaksanakan.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, sembari persiapan saya sendiri, anak dan suami, saya pastikan dulu semua urusan untuk nanti malam bisa dihandle secara remote. Alhamdulillah semua aman, lalu saya menemani suami ke rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, seperti biasa skrining Covid-19 dulu di meja security. Setelah beres dan mencetak karcis antrian, langsung kami menuju ke lantai 5 gedung Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Hari itu saya mendaftarkan suami untuk bertemu dengan dokter spesialis Saraf yaitu dokter Agus Prasetyo.

Begitu tiba giliran, suami langsung masuk ke ruang 522. Saya juga mengikutinya. Kemudian suami menceritakan semua kejadian yang dialaminya sejak awal hingga hari itu. Selanjutnya dokter memeriksanya secara fisik antara lain diminta menggerakkan beberapa bagian tubuh.

bell's palsy

Mata tidak bisa menutup sempurna dan mulut mencong/perot.

Setelah memeriksa suami saya, dokter bilang bahwa suami saya tidak stroke. Jika stroke, kelumpuhannya bukan hanya di wajah. Sedangkan suami saya hanya di wajah yang sebelah kanan saja. Menurut dokter, suami saya menderita Bell’s Palsy. Lalu dokter menunjukkan beberapa gambar orang yang menderita Bell’s Palsy melalui layar di komputernya.

Setelah yakin bukan stroke, ungkapan syukur terucap dari bibir suami saya. Juga dari dalam hati saya. Tadinya suami saya sudah khawatir kalau benar-benar stroke, karena pasti kedepannya akan lebih sulit. Setelah yakin bahwa itu Bell’s Palsy, lalu dokter meresepkan 3 macam obat dan merujuk suami saya untuk menjalani fisioterapi.

Tiga macam obat yang diresepkan tersebut adalah:

  1. Methycobal 500 mcg, yaitu obat untuk mengatasi masalah saraf perifer, seperti neuropati perifer yang terjadi akibat kerusakan pada sistem saraf perifer dan anemia akibat kekurangan vitamin B12.
  2. Solfion 8 mg tab, yaitu steroid yang digunakan untuk mengurangi gejala berbagai penyakit.
  3. Neurosanbe Tab, yaitu obat yang mengandung zat aktif seperti cyanocobalamin (vitamin B12), pyridoxine (vitamin B6), dan thiamine (vitamin B1). Obat ini bekerja menormalkan pembentukan sel darah merah dan jaringan saraf, memodifikasi aktivitas listrik sehingga membuat rileks dan memperlambat otot jantung yang terlalu aktif, serta mengendurkan sinyal saraf ke otak.
obat untuk bell's palsy

Obat dari dokter dan rujukan fisioterapi

Setelah urusan dokter dan pengambilan obat beres, kami menuju ruang Fisioterapi. Setelah menunggu sekitar 1 jam, akhirnya suami saya mendapat giliran. Ternyata tindakan fisioterapinya cuma sebentar, sekitar 30 menit saja. Yang lama itu nunggu antriannya, hehehe…

Jenis tindakan fisioterapi yang dilakukan pada suami saya adalah:

  1. Faradisasi (FAR)
  2. Infrared / Sollux (IR)

Adapun tujuan dari fisioterapi tersebut adalah untuk mengembalikan fungsi sensorik wajah, peningkatan kemampuan fungsional dan kekuatan otot-otot wajah pada kondisi Bell’s Palsy.

Apa sih Bell’s Palsy?

Saya kutip dari siloamhospitals.com, bahwa Bell’s Palsy adalah kondisi lumpuhnya saraf wajah (saraf ketujuh atau saraf fasialis) akibat peradangan dan pembengkakan saraf yang mengontrol otot pada salah satu sisi wajah. Kondisi ini mengakibatkan perubahan bentuk pada salah satu sisi wajah yaitu terlihat perot.

Hal tersebut tentunya cukup menganggu aktivitas sehari-hari, terutama saat berkumur maupun minum. Suami saya mengalami ini. Sehingga saat susah berkumur dan saat minum, selalu saja tumpah atau keluar dari mulut. Selain itu suami saya juga mengalami mata kering dan memerah karena memang Bell’s Palsy membuat pelumasan mata tidak optimal.

Gejala-gejala Bell’s Palsy yang harus diwaspadai:

  1. Salah satu sisi wajah melemah dari dahi hingga dagu.
  2. Terjadinya perot pada wajah, sulit tersenyum sulit mengangkat alis, dan sulit menutup mata.
  3. Pendengaran jadi lebih sensitif (pendengaran pada telinga sisi wajah yang lumpuh terasa lebih keras).
  4. Lidah terasa kebal atau kurangnya kemampuan mengecap rasa.
gejala-gejala bell's palsy

sumber: allaboutvision.com

Kalau tidak salah, suami saya sudah mengeluhkan beberapa diantara gejala-gejala ini 2-3 hari sebelumnya, tetapi kami sama-sama menganggap tidak ada apa-apa. Sampai akhirnya wajah tampak perot baru kami ke dokter.

Untuk pengobatan Bell’s Palsy dokter akan menyarankan kombinasi fisioterapi dan konsumsi obat-obatan. Umumnya pasien baru bisa sembuh dalam hitungan minggu atau bulan tergantung tingkat keparahan kelemahan wajah yang dialami.

Bell’s Palsy Bisa Sembuh

Saat saya menulis ini, suami saya sudah sembuh dari Bell’s Palsy. Tepatnya ia sudah sembuh sebulan setelah periksa ke dokter. Iya, alhamdulillah tidak sampai berbulan-bulan untuk bisa sembuh. Jujur aja, setelah tahu bahwa diagnosanya Bell’s Palsy, lalu saya share di medsos. Banyak teman yang menyarankan ini itu, antara lain pengobatan alternatif, penanganan dengan produk dari suatu merk, dan lain-lain.

Namun semua itu tidak ada yang kami lakukan. Setelah periksa ke dokter saraf itu pun, kami tidak kembali lagi. Padahal seharusnya suami saya rutin fisioterapi disana minimal seminggu dua kali. Bukannya gak mau, tapi suami saya tipe orang yang memilih mengobati dirinya sendiri dengan cara sendiri yang berbagai referensinya biasanya dia ambil dari internet.

Jadi praktis suami saya hanya satu kali fisioterapi di rumah sakit. Selebihnya selama satu bulan itu suami saya melakukan terapi sendiri di rumah. Nah, beberapa terapi yang dilakukan sendiri oleh suami saya adalah sebagai berikut:

  1. Setiap hari mendengarkan musik dari berbagai genre. Tujuannya untuk relaksasi.
  2. Mendengarkan bacaan-bacaan ayat suci Al Qur’an. Tentu saja hal ini menambah ketenangan hati sehingga seluruh saraf menjadi lebih rileks.
  3. Sholat diakhiri dengan dzikir dan wirid.
  4. Sementara waktu mengurangi membaca Al Qur’an karena mata berair terus (mata kanan tidak bisa menutup).
  5. Tidur lebih awal (tidak begadang lagi)
  6. Mengurangi kegiatan di luar rumah supaya mata yang belum bisa menutup tidak terpapar debu dan sinar matahari. Jika terpaksa keluar rumah, harus pakai kacamata.
  7. Makan permen karet. Ini agar mulut mengunyah terus, khususnya mulut bagian kanan.
  8. Karena suami saya perokok maka ia tetap merokok untuk terapi nyedot.
  9. Minum menggunakan sedotan untuk terapi nyedot.
  10. Mandi menggunakan air hangat.
  11. Banyak makan dan minum sesuai keinginan/kebutuhan supaya rileks.
  12. Tetap menjalankan puasa sunnah (karena sudah terbiasa puasa sunnah).
  13. Olahraga di dalam rumah.

Praktis selama sebulan hanya itu yang dilakukan suami saya secara berulang-ulang dan terus menerus. Benar-benar tidak kembali lagi ke dokter dan fisioterapis. Juga tidak pergi ke ahli pengobatan alternatif atau mengkonsumsi apapun selain makanan sehari-hari.

Alhamdulillah dengan terapi sendiri tersebut, satu bulan kemudian suami saya benar-benar sembuh total.

Bell’s Palsy bukan Stroke

Walaupun sepintas gejalanya mirip stroke, bell’s palsy bukanlah stroke. Berikut ini beberapa perbedaannya:

Bell’s Palsy:

  1. Penyebabnya adalah infeksi virus (herpes, gondok, influenza, dan sejenisnya) serta paparan terhadap udara dingin.
  2. Tidak menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan pada tangan maupun kaki.
  3. Penderita memiliki kesulitan mengerutkan dahi, mengangkat alis, dan membuka-tutup mata.

Stroke:

  1. Penyebab stroke berhubungan dengan gangguan saraf akibat sumbatan pembuluh darah otak.
  2. Mayoritas penderita stroke masih dapat mengerutkan dahi, mengangkat alis, dan membuka-tutup mata secara normal.

Penutup

Jadi kalo ada anggota keluarga yang tiba-tiba mengalami seperti yang dialami oleh suami saya tadi, jangan langsung divonis stroke. Sebaiknya dipastikan dulu melalui pemeriksaan dokter. Dan jika benar didiagnosa Bell’s Palsy, ga perlu panik dan khawatir, karena penyakit ini bisa disembuhkan. Bisa cepat atau lambat, tergantung dari tingkat keparahan dan komitmennya dalam mengupayakan kesembuhan.

Sumber referensi:
. siloamhospitals.com
. pacificneuroscienceinstitute.org 

 

Related Posts:

49 thoughts on “Bell’s Palsy Bisa Sembuh, Ini Pengalaman Suami Saya”

  1. Baru tau kondisi seperti yang suami mbak alami namanya Bell’s Palsy, sebab dulu teman kantor juga ada yang kena, kami pun ngirain dia kena stroke mendadak, namun seminggu juga udah sembuh seperti sedia kala, namun tetap dia butuh banyak relax setelah terkena Bell’s palsy

  2. Daku pernah dengar ada artis juga yang pernah terserang Bell’s Palsy dan memang dia sembuh, seperti Samuel Zylgwyn, jadi harus optimis memang bisa disembuhkan

  3. Saya jadi teringat Rano Karno yang juga pernah sembuh dari Bells Palsy. Syukurlah suami sudah sembuh ya Mbak, semoga sehat terus dan ga sakit yang parah. Bagus banget Mbak 13 kiat buat jaga kesehatan diri itu, terutama wirid bakda sholat–emang beneran itu sangat narguh positif ke hati dan pikiran.

  4. Sering nih ketemu beberapa orang bahkan keluarga sendiri yg mengalami ini. Terima kasih ya mbak, informasi penting banget nih tulisannya, selain menambah pengetahuan juga ada rekomendasi untuk mengatasinya. Intinya jangan panik.

  5. dulu pas kuliah ada temen yg kena bells palsy ini. selintas dengar, penyebabnya dipicu aliran kipas angin saay tidur. di atas ada mbak win sebut salah satu penyebabnya paparan udara dingin. jd masuk akal juga ya..
    puji Tuhan suami sudah sembuh. trimakasih sharingbya mbak win

  6. Terima kasih atas informasinya Mbak. Berguna banget ini. Ada teman sekantor yang memiliki tanda-tanda seperti bell palsy ini. Dari dokter divonis stroke ringan. Dia akhirnya pergi ke tukang urut saraf tradisional. Beberapa kali diurut akhirnya sembuh. Tapi dari postingan ini saya jadi tahu cara atau alternatif lainnya supaya sembuh seperti yang dilakukan suami Mbak di rumah.

  7. Alhamdulillah suaminya sudah sembuh untungnya cepat ketemu dokter yang tepat ya mba. Terimakasih sudah berbagi kisahnya sangat membantu untuk kami yang belum tau nih tentang bells palsy ini

  8. Alhamdulillah klo suami Mbak Wiwin sudah sembuh.
    Waktu baca paragraf awal saya pikir juga stroke, ternyata berbeda ya. Dulu almarhum Bapak saya penderita stroke. Memang berat banget bagi kami keluarga merawat penderita stroke selama bertahun-tahun. Syukurlah klo suami Mbak diagnosanya bukan stroke. Semoga suami Mbak sehat selalu.

  9. Terimakasih infonya mbak. Penyakit ini sekarang mulai familiar ya. Dulu saya pikir nih penyakit apa kok namanya aneh gitu tp unik. Eh, tapi kan penyakit tuh namanya kadang unik2 ya. ? syukurlah penyakit ini bisa disembuhkan

  10. Rizky Kurnia Rahman

    Ini bukannya penyakit yang pernah menimpa Rano Karno ya? Wajahnya jadi terlihat miring dan perot.

    Kalau untuk pengobatannya sendiri, ditanggung BPJS apa tidak? Atau pakai asuransi kesehatan lain atau bayar mandiri?

  11. Alhamdulillah udah sembuh ya, meski gak terapi di rumah sakit. Teman saya juga pernah kena penyakit ini. Ternyata aktivitas nyedot rokok bisa membantu Terapi penyakit Bell’s Palsy juga ya, hehehe…

    Terima kasih atas pengalaman berharga nya. Apakah sakit ini bisa kambuh lagi????????

  12. Pengalaman yang sangat luar biasa. Ternyata Bells palsy bukan stroke, dan saya setuju ini. Bells palsy ini memang umum dialami semua orang karena adanya gangguan pada saraf di wajah. Setelah baca cerita di atas, jadi penting sekali ya relaksasi otot-otot wajah dan pendengaran dengan mendengar murotal Quran, dll. Wah betul juga ya ternyata berolahraga juga bisa membantu membuat saraf wajah lebih rileks. Apalagi sering senyum 🙂 pastinya makin rileks tuh saraf otot di sekitar wajahnya. Thanks ya kak Pratiwanggini 🙂

  13. Pernah baca, ada yg kena Bells Palsy karena AC mobil yg nyemprot ke wajah. Konsisten tiap hari kayaknya, jadi syarafnya kena dingin. Alhamdulillah kalau suami sudah sembuh. Btw…jadi engga berhenti merokok dong ya…malah buat terapi…wkwkwk…

  14. Saya baru tahu tentang Bells Palsy ini, kalau tidak dibawa ke dokter mungkin diagnosa kita cenderung ke stroke, melihat gejala yang ada. Tapi bagaiamanapun mendiagnosa diri sendiri sebaiknya tidak dilakukan kalau kita tidak punya ilmunya.

  15. Alhamdulillah suami sudah pulih ya mba..
    Di sekitar saya pun banyak kerabat yang pernah mengalami bells palsy.
    Rata-rata mereka terkena AC mobil yang langsung terpapar ke wajah.
    Karena itu suami sekarang lebih aware kalo menghidupkan ac mobil. Biasanya dia akan mengalihkan dulu ke arah lain.

  16. Wah, penting sekali mengetahu perbedaan antara penyakit stroke dengan penyakit bells palsy agar kita tidak serta merta menuduh penyakit stroke. Makasih penjelasannya ya. Sangat lengkap dan informatif sekali.

  17. Artikelnya bermanfaat banget mbaa karna banyak hal baru yang saya dapat seputar Bell Palsy karena dlu saya istilahin ini stroke ringan pas ada temen yang trkena penyakit ini apalagi dengan terapi membaca Alquran ini adalah obat yang sesungguhnya

  18. Wah aku baru tahu kalau Bells Palsy beda ama Stroke dan bukan gejala stroke soalnya hampir mirip yah, makasih mbak jadi banyak terbantu infonya apalagi banyak juga yang mengalami ini jika cepat tertolong dan melakukan therapi bisa sehat lagi.

  19. Alhamdulillah sudah sembuh suaminya ya mbak, senang mendengarnya. Dan terima kasih sudah berbagi tentang Bell’s Palsy, jujur aku baru denger tentang Bell’s Palsy ini. Setelah tahu jadi bisa antisipasi jika mengalami gejala-gejala seperti di atas.

  20. Terima kasih sudah menuliskan pengalaman suaminya mbak, alhamdulillah sehat2 yaaa
    Baru tahu kalau itu bukan stroke, awalnya kalau ada kasus kyk gtu juga kukira stroke yg ringan gtu, TFS mbak

  21. Wah, aku baru tahu dengan Bells palsy ini. Kudu diwaspadai ya, biar bisa segera diberi tindakan. Jadinya bisa sembuh. Alhamdulillah suami mbak bisa sembuh kembali. Semoga semua orang aware dengan ini ya. Aku kira di awal, ini bagian dari stroke. Semacam stroke ringan gitu.

  22. MasyaAllah mba efeknya begitu ya sampai mata beneran nggak bisa tertuttup dengan baik. Alhamdulillah harus konsisten selama sebulan dan bisa sembuh total. Semoga nggak kejadian lagi ya

  23. Saya kira Bell’s palsy itu juga stroke mba, dengan melihat gejala2nya. Ternyata beda yah. Terimakasih sharing nya mba, aku pribadi jadi tambah ilmu nih. Semoga mba dan suami sehat2 selalu aamiin ?

  24. Makasih banyak mbak sudah sharing pengalamannya. Kebetulan saya juga kena nih sudah 1 minggu awalnya sy kira tidak apa2 mungkin salah tidur tapi stelah 2 hari tidak sembuh sy panik sy kira stroke trus sy periksa di puskesmas dokternya bilang kalo sy kena stroke ringan sumpah sy sangat panik. Jadi sy coba search di google dan nemuin post mbak. Makasih mbak akan sy coba juga ?

Leave a Reply to Meli engku Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *