Tumbuh Kembang Dimas di Usia Tiga Tahun

Hai, moms… udah lama saya enggak menulis tentang Dimas yaaa.. Kalo tidak salah sih sudah setengah tahunan. Wow.. lama banget! Nah, saat saya menulis ini usia Dimas sudah 3 tahun 3 bulan 20 hari 🙂 . Ga terasa ya, time flies. Kebetulan nih tumbuh kembang Dimas sempat saya rangkum dan share di social media sehingga enggak terlalu sulit saya mengingat-ingat, hehe…

Mengucapkan Kalimat-kalimat Pendek

Sebelumnya saya pernah cerita tentang kegalauan indikasi speech delay si Dimas. No worries, moms.. coz itu hanya kegalauan yang sebenarnya tidak perlu, karena hanya butuh kesabaran hingga bocah ini bisa banyak bicara. Sekali lagi kalo boleh jujur, sebenarnya saya tidak merisaukan Dimas yang terlambat bicara, tapi pertanyaan dari lingkungan sekitarlah yang sempat membuat saya sedikit kepikiran.

Bulan Agustus 2020 Dimas berumur 2 tahun 11 bulan. Bersyukur saat itu kalimat yang terucap sudah lengkap. Bersusunan S-P-O atau S-P-K. Misalnya:

  • “Mama bikin egg.”
  • “Ayah duduk di depan.”
  • “Mas naik motor pulang.”

Dan masih banyak lagi meskipun masih berupa kalimat sederhana. Oh iya, jangan kaget kalo masih campur antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Karena penyerapan kosa kata Dimas itu lebih banyak dari bahasa Inggris yang didapatkannya lewat YouTube.

tumbuh kembang dimas

Dimas dengan koleksi mobil-mobilannya.

Bahkan untuk pelafalan kosa kata berbahasa Inggris saya justru belajar dari Dimas. Dia menirukan sebagaimana yang didengarnya dari native speaker. Lidah saya udah lidah Jawa banget jadinya ‘medhok’, sedangkan Dimas lidahnya belum terkontaminasi.

Dimas juga selalu rajin menyapa ayah dan ibunya yang sedang melakukan sesuatu. Kalimat tanyanya kedengaran lucu: “Apa, mama?” Yang maksudnya adalah: mama sedang ngerjain apa? Atau: mama lagi ngapain? Kalau udah begitu, pantang bagi saya untuk tidak menjawab dengan penjelasan. Karena saat-saat seperti itulah seorang anak belajar dari lingkungan sekitarnya.

Sekarang di usianya yang sudah 3 tahun 3 bulan 20 hari, Dimas sudah bisa mengucapkan kalimat yang panjang. Dimas sudah bisa menceritakan sesuatu. Dimas juga sudah pandai mengarang cerita sendiri. Pokoknya sudah asyik banget diajak ngobrol. Sekarang kalo bertanya juga sudah lebih jelas, yaitu: “Ibu ngapain?” atau “Ayah ngapain?”

Sudah Menyebut “Ibu”, Bukan “Mama” Lagi

Anak batita sepertinya memang lebih mudah menyebut “mama” daripada “ibu”. Apalagi yang dilihatnya di YouTube jarang sekali ada sapaan ibu, kebanyakan justru “mama” atau “bunda”. Jadi, butuh waktu hampir 3 tahun lho hingga Dimas bisa menyebut “ibu” dengan sangat jelas. Sebelumnya hanya “bu”, sehingga seringkali dia memilih sebutan “mama” karena lebih mudah.

Tapi kami tidak lelah menanamkan sebutan “ibu”. Alhamdulillah sekarang sudah menggunakan sebutan “ibu”. Enggak pernah lagi menggunakan sebutan “mama” meskipun di YouTube masih sering mendengar itu.

Herannya kalo menyebut “ayah” koq dia udah fasih ya sejak mulai bisa mengeluarkan kata-kata? Mungkinkah sebutan “ayah” itu sangat mudah?

Sudah Pengin Sekolah

“Udah sekolah, dik?” Pertanyaan seperti itu sering terlontar ke Dimas. Mungkin karena melihat badannya yang cenderung bongsor. Tentu saja jawabannya adalah: Dimas belum sekolah. Seumur Dimas dulu kakaknya sudah sekolah. Persis seperti di foto ini, menyandang ransel.

dimas mau sekolah

Sebenarnya sebelum pandemi resmi masuk ke Indonesia, saya udah membayar biaya pendaftaran di sebuah Daycare. Tapi akhirnya Si Coro datang dan saya memutuskan lupakan dulu soal sekolah. Gapapa kalo nanti situasi baru aman saat Dimas masuk TK atau SD sekalipun.

Dalam hati saya bilang: “Sabar ya, nak… Kamu pasti sekolah, menyandang ransel, salim ayah ibu, sambil bilang bye bye assalamu’alaikum.”

Sekarang-sekarang Dimas suka iseng masuk-masukin buku-bukunya ke dalam ransel, lalu minta bantuan menggendong ranselnya. Setelah itu, Dimas pamit: “Ibu, adik mau sekolah, assalamu’alaikum.” Lalu beneran jalan ke pintu pagar. Dan kalo pintu pagar terbuka, dia akan terus keluar. Ga peduli apakah siang ataukah malam. 😀

Adab Sopan Santun

Di usianya yang menjelang 3 tahun dulu, sudah kelihatan penerapan adab sopan santun yang kami ajarkan. Berikut ini beberapa contohnya:

  • “Tatum, ayah…”
  • “Tatum, ibu.,.”

Pertama kali mendengarnya, saya bingung Dimas ini ngomong apa. Untung ayahnya paham. Jadi maksudnya adalah “assalamu’alaikum”. Ini biasanya diucapkan Dimas saat salah satu dari kami mau pergi atau baru pulang. Bahkan kalo ada yang mau pergi, oleh Dimas ditambahi: “Ati… ati…”, yang maksudnya hati-hati di jalan. Dan kalo saya pulang kerja trus dia jemput di pintu, biasanya Dimas bilang:“Tatum, ibu…”, sambil ditambahi:“Ayo, masuk… masuk…”.

Selain ucapan salam, Dimas juga sudah pandai mengucapkan terimakasih:

  • “Tingkiu, ibu…”
  • “Tingkiu, ayah…”

Itu maksudnya adalah “thank you” atau terimakasih. Biasanya ini diucapkan Dimas saat dia menerima sesuatu dari kami. Apapun itu. Juga saat dia minta tolong diambilkan sesuatu, begitu diberikan kepadanya Dimas akan mengucapkan terimakasih secara otomatis. Dan kami akan membalas dengan ucapan, “Sama-sama, adik…”

Sebaliknya, jika kami yang mengucapkan terimakasih kepadanya, Dimas akan membalas dengan ucapan: “Sama-sama”, secara otomatis juga. Oiya, sekarang udah saya biasakan untuk bilang “terimakasih” jika dengan orang lain.

Beberapa anak tetangga saya itu kalau tahu pintu rumah kami terbuka dan ada Dimas, mereka langsung ‘menyerbu’ masuk rumah tanpa basa-basi. Langsung masuk ke dalam untuk mengambil mainannya Dimas. Ada saya disitu pun mereka tidak mengucap apapun. Duhhhh…

dimas dan kawan-kawan

Dua yang di belakang itu bukan anak tetangga, tetapi anaknya penjual pecel lele langganan.

Untuk Dimas, seperti halnya kakaknya dulu, saya ajarkan sopan-santun. Suatu hari saya mau mengantar makanan ke tetangga sebelah rumah. Karena makanannya ringan dan Dimas pengin ikut, akhirnya saya suruh Dimas sendiri yang jalan. Saya hanya mengawasi dari pintu pagar rumah kami.

Saya perhatikan, Dimas membuka pintu pagar tetangga tersebut. Setelah sampai di teras rumah, Dimas mengucapkan salam yang masih belum jelas, “Tatum… tatum…”. Maksudnya adalah assalamu’alaikum 🙂 . Setelah dibukakan pintu, Dimas pun menyerahkan makanan tersebut dengan sopan. Lalu pamit sambil tidak lupa menutup pintu pagar kembali.

Jika bertamu ke rumah orang lain, kami selalu mengajarkan anak-anak untuk salim (menjabat dan mencium tangan) saat datang dan saat pamit. Alhamdulillah hal tersebut dilakukan Dimas secara otomatis. Kakaknya pun masih melakukan hal tersebut hingga sekarang.

Dimas Kreatif

Dimas anaknya kreatif lhooo… Suatu saat dia ambil papan kayu (sempalan pintu lemari kecil) lalu ditaruhnya melintang di atas kursi. Kirain mau untuk apa. Ternyata dia mau jadi keyboardist. Setelah kayu terpasang di atas kursi, lalu dia bilang: “Ibu nyanyi!” Nah, jadilah saya menyanyi dan Dimas mengiringi.

Dimas juga suka banget melihat penari barongsai atau reog atau ondel-ondel atau kuda lumping. Tapi yang sangat berkesan baginya adalah barongsai dan reog. Kalo udah buka channel barongsai di YouTube, dia akan otomatis ikutan menari.

Pernah suatu hari kami belikan kostum barongsai, tapi hanya dipakai beberapa hari. Kenapa? Karena rupanya hidung Dimas alergi dengan kostum tersebut. Beberapa hari hidung Dimas seperti korengan. Setelah tidak pakai kostum itu lagi, hidungnya baik-baik saja sampai sekarang.

Nah, kalo lagi pengin menari barongsai biasanya Dimas mengenakan selimut bayi yang ada tudung kepalanya itu. Hehehe.. Kreatif ‘kan?

Karena di rumah tidak ada teman, seringkali saya ini yang diajak main barongsari: “Ibu jadi barongsai..!” ‘Kan dia tahu tuh pemain barongsai ada 2 orang (depan dan belakang). Nah, maunya begitu. Maunya ibunya juga diajak loncat-loncat. Kalo saya sedang sibuk, dia akan memasang bagian belakang selimutnya itu pada sebuah kursi. Hahaha…

dimas barongsai

Dimas dengan kostum barongsai-nya (sekarang dipensiunkan daripada hidungnya alergi lagi).

Kreativitas yang lain? Banyakkkkk!! Dimas itu sudah pandai bermain peran (role play). Bisa menjiwai pula. Sepertinya sih karena sering menonton YouTube. Pengin sekolah tapi belum ada sekolah yang buka. Jadinya belajar dari YouTube. Diselingi belajar dengan ayah dan ibu. Sedangkan saya cuma punya waktu malam hari dan weekend serta tanggal merah.

No worries ya, moms… Kami selalu mengawasi dan tentu saja kami membukakan channel khusus anak-anak. Lagipula anak-anak sekarang memang hidup di jaman digital ‘kan. Udah beda jaman. Emaknya nih yang harus menyesuaikan. Yang penting masih ada batas-batasnya, enggak kebablasan, baik secara tontonan maupun secara penggunaan waktu.

Ungkapan-ungkapan Lain

Sesekali saya agak marah dengan Dimas, misalnya saat ia menumpahkan air ke lantai, atau mainan dot berisi susu diatas hape/kasur, atau bikin banjir depan kamar mandi, dan lain-lain. Beberapa saat kemudian, Dimas akan bertanya: “Ibu udah marah?” atau “Ayah udah marah?”. Maksud dari pertanyaan tersebut adalah: apakah ibu atau ayah sudah marahnya?

Di usia 3 tahun seorang anak sudah pengin melakukan apa-apa sendiri. Tidak jarang Dimas berkata: “Adik mau sendiri.” Ini diucapkannya saat mau pakai sepatu, mau pakai baju, mau ambil minum, mau makan, dan lain-lain. Pokoknya apa-apa pengin dilakukannya sendiri. Saya sih akan membiarkannya. Dia akan berusaha sendiri, jika ada kesulitan baru deh minta bantuan.

Selain belajar melakukan apa-apa sendiri, Dimas juga maunya bantu ibu. “Adik mau bantu.” Itu diucapkannya saat melihat saya nyuci baju, nyapu, ngepel lantai, dan lain-lain. Pernah beberapa kali saya ijinkan. Luwes juga lho pegang sapu, pegang alat pel, ngucek baju.. hehehe..

Beberapa hari yang lalu pada suatu sore Dimas bantuin saya memasukkan pakaian ke mesin cuci. Satu per satu dimasukkan. Saat pegang baju saya, Dimas bilang, “Ini baju kantor ibu.” Saat pegang baju ayah, Dimas bilang, “Ini baju ayah.” Dan seterusnya, termasuk saat pegang bajunya sendiri, juga bilang, “Ini baju adik.”

Pernah suatu kali saya terjatuh dan Dimas melihatnya. Mau tahu apa yang diucapkannya? “Ibu, ati-ati…” Itu diucapkannya sambil berusaha bantu mengangkat saya untuk berdiri. Persis seperti apa yang dilakukan kakaknya dulu kalo melihat ibunya jatuh. Mereka enggak diam lalu menangis karena takut, tapi otomatis menolong.

Ada satu lagi nih yang aneh yaitu: “Dom, ibu…” Ini maksudnya adalah mau peluk ibu sambil tiduran. Biasanya ini diucapkan saat hendak mimik dot. Begitu saya tiduran disampingnya, Dimas akan melingkarkan tangan kirinya ke leher saya sambil membelai rambur saya. Hal ini dilakukannya sampai selesai ngedot. Abis gitu, kalo mau lanjut bobok, kedua tangannya dilingkarkan ke leher saya sebentar, terus dilepaskan. So romantic ya…

Segitu dulu cerita tumbuh kembang Dimas. Kalo diceritakan semua bakalan panjanggg kali lebarrr… Tunggu aja di postingan yang akan datang ya 🙂

Anak-anakku,..
hiduplah dengan dapat melihat baik dan buruk,
hindari keburukan,
lakukanlah kebaikan,
dengan begitu kamu akan sukses hidup sebagai manusia.

 

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *