Tular Nalar: Ruang Pembelajaran Online Literasi Media dan Digital

tular nalar cover

Tular Nalar: Ruang Pembelajaran Online Literasi Media dan Digital – Bersyukur sekali saya memperoleh kesempatan untuk menghadiri peluncuran situs Tular Nalar yaitu tularnalar.id dengan konsep “Dunia Virtual Reality Tular Nalar” yang diselenggarakan pada hari Kamis, 4 Maret 2021, pukul 10:00 WIB. Seru sekali mengikuti acara ini karena hanya dengan menggunakan cardboard, baru saya bisa menyaksikan acaranya dengan baik sekaligus menjelajahi dunia virtual reality Tular Nalar sambil belajar bagaimana menjadi warga digital yang baik dan menyikapi informasi yang ditemukan di internet.

Apa Itu Tular Nalar?

Sebelum melangkah lebih jauh menjelajahi situs, kita harus tahu dulu apa sih Tular Nalar itu? Kata “tular” kata dasar dari menular yang artinya menjangkiti atau menginfeksi. Dalam percakapan sehari-hari, saya sering mendengar bahwa menular itu identik dengan virus, yang sifatnya menyebar dengan cepat. Kata “nalar” adalah bagian dari aktivitas berpikir, yaitu berpikir secara kritis (menggunakan otak atau logika atau akal pikiran).

Jadi, Tular Nalar bisa diartikan dengan menyebarkan virus berpikir secara kritis di tengah gempuran informasi dan berita hoax. Sehingga kita menjadi insan-insan yang tidak mudah termakan hoax, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kesahihannya, dan lain sebagainya.

Ruang Pembelajaran Online Literasi Media dan Digital

Hampir setiap hari saya melihat atau membaca berita di media sosial yang terkadang tidak jelas apakah itu berita benar atau bukan. Tidak jarang juga saya menerima berita yang dikirimkan melalui pesan di WhatsApp. Kalau sedang tidak repot, saya berusaha mencari berita yang senada, untuk mencari tahu kebenarannya. Namun satu yang pasti, saya tidak otomatis membagikan kepada orang lain berita-berita yang masuk ke saya sebelum saya tahu kebenarannya.

tular nalar infodemi

sumber: freepik.com

Selama ini, saya hanya tahu istilah hoax jika ada berita yang tidak benar. Ternyata ada salah satu persoalan yang meresahkan yaitu munculnya infodemi yang sama berbahayanya dengan pandemi. Infodemi adalah keberlimpahan informasi terkait pandemi yang justru menimbulkan berbagai bentuk kekacauan informasi seperti:

  1. Misinformasi, yaitu informasi salah yang disebarkan oleh orang yang memercayainya sebagai kebenaran. Contohnya adalah misinformasi tentang jus jahe dan lada hitam yang dapat menyembuhkan COVID-19.
  2. Disinformasi, yaitu informasi salah yang disebarkan oleh orang yang tahu bahwa informasi itu salah, jadi ada kesengajaan. Misalnya, disinformasi bahwa WHO memberikan konfirmasi bahwa COVID-19 tidak lebih berbahaya dari virus flu.
  3. Malinformasi, yaitu informasi yang berdasarkan realitas namun digunakan untuk merugikan orang, organisasi, atau negara lain. Kasus malinformasi ditemukan saat nama dan alamat pasien pertama COVID-19 di Indonesia disebarkan dan disalahgunakan.

Melihat maraknya kekacauan informasi tersebut, hadir situs tularnalar.id yang diprakarsai oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), MAARIF Institute, Love Frankie, dan didukung oleh Google.org. Melalui situs ini, Tular Nalar berkomitmen menghadirkan materi pembelajaran seru untuk melatih kemampuan berpikir kritis yang dapat diakses oleh semua orang. Materi pembelajaran online di situs ini diberikan oleh para ahli literasi media dan digital.

Di situs ini kita bisa belajar online untuk mendalami berbagai isu global terkini dengan konteks lokal. Cukup tiga langkah saja dalam mengikuti pembelajaran interaktif, yaitu:

  1. Menyaksikan Video Tematik Tular Nalar
  2. Memahami Deskripsi Setiap Tema
  3. Menyelesaikan Kuis Dari Tiap Tema

Setelah mengikuti acara launching, saya langsung menjelajahi situsnya. Saya mencoba untuk menyimak satu per satu materi pembelajaran online yang tersedia. Saya ikuti langkah-langkahnhya mulai dari menyaksikan video, memahami deskripsi, hingga menyelesaikan kuis. Seru! Membuat saya lebih paham tentang dunia literasi media dan digital.

Situs ini juga menyediakan materi pengajaran gratis. Materinya dalam bentuk PowerPoint Presentation yang bisa diunduh. Materi pengajaran ini disediakan untuk para guru dan dosen sebagai bahan untuk mengadakan pembelajaran seru dan interaktif yang akan memotivasi siswa berpikir kritis.

Di situs Tular Nalar, materi pembelajaran online dan materi untuk pengajar masing-masing terdiri dari 8 tema. Tentu saja ke-8 materi tersebut merupakan kurikulum literasi media yang mengakomodasi perkembangan media terkini. Kurikulum literasi media ini digarap oleh para pakar dari beragam bidang.

tular nalar bukan sekadar paham

Dengan cardbord menjelajahi dunia virtual reality Tular Nalar. (foto: koleksi pribadi)

Tular Nalar, Bukan Sekadar Paham

Sebagai masyarakat awam yang terkadang masih bisa termakan berita hoax, mengenal Tular Nalar secara lebih dekat dengan menjelajahi situsnya, membuat saya merasa lebih melek digital daripada sebelumnya. Berkat Tular Nalar saya menjadi bersemangat untuk terus belajar supaya tidak sekadar tahu dan paham akan suatu informasi.

Kehadiran Tular Nalar di tengah gempuran informasi dan berita hoax serta infodemi seperti sekarang ini laksana hembusan angin segar bagi dunia informasi. Bukan sekedar diingatkan dengan kalimat “Hei, itu hoax, jangan disebar!”, tetapi di Tular Nalar kita diberi solusi bagaimana berpikir kritis serta bagaimana meningkatkan kemampuan literasi media dan digital. Tular Nalar membuat kita Bukan Sekadar Paham, karena pada akhirnya kita akan bisa melakukan aksi nyata dalam rangka mengaplikasikan kemampuan literasi media dan digital.

Pada akhirnya bisa ditarik simpulan bahwa melalui materi pembelajaran online di Tular Nalar, kita akan sama-sama mencari tahu kebenaran suatu berita, tanggap dalam melihat kebenaran, dan tangguh melawan hoax, sehingga akhirnya dapat turut menyebarkan kebenaran.

Nah, untuk mengetahui lebih jauh dan mendapatkan manfaat literasi media dan digital dari Tular Nalar, yuk kunjungi situs tularnalar.id, lalu simak pembelajaran onlinenya yang sangat interaktif dan akhiri dengan mengikuti kuis-kuis yang tersedia pada setiap akhir materi. Jangan lupa juga untuk mengikuti akun-akun media sosialnya:

Facebook: facebook.com/TULARNALAR.ID/
Instagram: instagram.com/tularnalar/

 

Related Posts:

11 thoughts on “Tular Nalar: Ruang Pembelajaran Online Literasi Media dan Digital”

  1. Mis
    Dis
    Mal
    Tiga terkait informasi yg jujur baru saya pahami. Berita hoak ini ibarat musuh dalam selimut ya. Musuh yg ga tahu pasti kemana kita harus menumpasnya

  2. setuju nih, kita harus banyak belajar agar literasi media dan digital kita lebih baik lagi ya, beruntung sekarang udah ada Tular Nalar ini ya, jadi kita bisa lebih waspada dengan berita hoax dan jangan mudah terpancing tuk menyebarkan berita yang belum jelas keberadaannya ya.

  3. Tular yang ini tular yang baik ya, karena memang gempuran berita hoax sudah meresahkan jadi harus semangat memberantasnya dengan bersinergi

  4. Wah selamat yaa atas launchingnya tularnalar.id Insya Allah akan membawa manfaat yang lebih banyak dan lebih luas apalagi di masa seperti sekarang ini. Kita jadi tahu mana info yang akurat dan tidak

  5. kayaknya dulu MAFINDO juga pernah bikin situs anti hoax gitu deh mak, cuma aku lupa namanya apa, suka banget akses situs itu juga, lumayan bisa mengcounter berita ga jelas

  6. Bagus banget nih ya mba… Dijaman modern seperti sekarang memang butuh media informasi terpecaya yang bisa membimbing para pembaca mendapatkan informasi yang baik dan terpercaya.

    Membantu sekali semoga semakin maju program 2 dari tular nalar ini

  7. memang seharusnya kita lebih bijak ya, mbak dalam menanggapi informasi yang diterima. jangan langsung diterima mentah-mentah apalagi langsung dishare tanpa dicek dulu kebenarannya. btw saya penasaran nih sama cardboard yang digunakan di tular nalar ini makainya gimana ya?

  8. Euisry Noor (isrinur.com)

    Menarik juga Tular Nalar ini. Semoga bisa turut mengedukasi masyarakat ttg literasi media & digital ya. Bagus banget ada materi yg bisa diunduh juga buat guru & dosen. Jadi kepo aku.
    Baru tahu juga istilah infodemi. Semoga penyebaran hoax bisa dicegah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *