Membangun Indonesia Inklusif Melalui Yang Muda yang Progresif

Membangun Indonesia Inklusif Melalui Yang Muda yang Progresif – Sebanyak 21,84 juta atau 8,26% penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Kenyataannya, penyandang disabilitas (termasuk OYPMK sebagai bagian dari kelompok disabilitas) masih menghadapi kesulitan dalam upaya pemenuhan hak mereka, dikarenakan stigma dan hambatan dalam mengakses layanan umum dan layanan dasar.

Tiga tahun lalu di Plembutan Playen, sebuah desa inklusi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, saya pernah mengikuti kegiatan temu inklusi. Kegiatannya berjalan selama beberapa hari, bersyukur di sela-sela kesibukan kerja saya memiliki satu kesempatan seharian disana. Ada satu momen yang paling berkesan buat saya yaitu menyaksikan satu kelompok disabilitas yang mengelola sebuah kafe. Di antara mereka ada yang lengan/tangannya tidak lengkap, namun bisa menjadi barista. Sedangkan teman yang lainnya, sesama disabilitas dengan kekurangan fisik yang berbeda lagi, menjadi kasir serta waiter dan waitressnya. Kompak sekali. Dalam kondisinya sebagai penyandang disabilitas, mereka mampu meracik kopi yang nikmat serta melayani pelanggan dengan ramah.

Mereka adalah anak-anak muda penyandang disabilitas yang optimis menjalani hari ini dan siap menghadapi masa depan. Berkat seharian mengikuti kegiatan inklusi tersebut, saya jadi tahu mereka mampu melakukan itu semua karena mereka mendapatkan ruang atau fasilitas. Ruang atau fasilitas tersebut berupa: bantuan peningkatan kepercayaan diri dengan melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan, pemberian pelatihan-pelatihan yang beraneka ragam, pembangunan sarana dan prasarana di sekitar mereka agar lebih leluasa dalam bergerak, pemberian kesempatan untuk bisa mendapatkan akses layanan masyarakat seperti jasa lembaga keuangan formal, dan masih banyak lagi.

Berdasarkan data Riskesdas 2018, kelompok orang muda dengan disabilitas (usia 18-24 tahun) merupakan populasi disabilitas terbesar ketiga setelah kelompok lansia dan dewasa akhir. Mereka dapat dipandang sebagai peluang dalam mewujudkan Indonesia yang inklusif, serta tidak sedikit inovasi dan perubahan yang digagas oleh orang muda dengan disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK). Lalu seperti apa program dan inovasi yang mereka gagas? Dan bagaimana peran kita bersama dapat menciptakan masyarakat yang inklusif?

indonesia inklusif

Senang sekali pada hari Selasa 24 Agustus 2021 saya bisa mengikuti live streaming melalui Youtube channel Berita KBR yang mengangkat tema “Yang Muda Yang Progresif, untuk Indonesia Inklusif”. Program Ruang Publik KBR yang dipersembahkan oleh NLR Indonesia tersebut direlay oleh 100 Radio Jaringan KBR dan 104.2 MSTri FM Jakarta. Tema ini diambil karena bertepatan dengan peringatan Hari Orang Muda Internasional (International Youth Day) yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus.

Acara ini dipandu oleh penyiar Ines Nirmala dengan menghadirkan 2 (dua) orang narasumber, yaitu:

  1. Widya PrasetyantiProgram Development & Quality Manager, NLR IndonesiaNLR Indonesia adalah sebuah yayasan yang dibentuk pada tahun 2018 untuk melanjutkan pencapaian pemberantasan kusta yang telah dilakukan NLR sejak 1975. Yayasan NLR Indonesia bermitra dengan sejumlah organisasi yang menangani penyandang disabilitas, organisasi masyarakat sipil, institusi pendidikan, serta pemerintah lokal, kementrian, dan lembaga pemerintah.
  2. Agustina CiptarahayuFounder & CEO PT. Botanina Hijau Indonesia. Berdiri 7 tahun yang lalu. Fokus pada produk health care dan personal care dari bahan-bahan alami. Value dari perusahaan ini adalah natural, protection, afection.

Kemandirian Inklusif bagi Pemuda OYPMK dan Disabilitas

Di beberapa tulisan yang lalu saya sudah menyebutkan tentang kegiatan-kegiatan NLR Indonesia. Dijelaskan oleh Ibu Widya bahwa NLR Indonesia memprioritaskan anak-anak muda dengan disabilitas termasuk OYPMK dalam hal pemenuhan hak ketenagakerjaan inklusif melalui:

  • Pengarusutamaan mereka dalam hal ketenagakerjaan formal dan kewirausahaan.
  • Prioritas untuk anak dan remaja disabilitas dan kusta dalam aspek kunci untuk tumbuh kembang mereka.
  • Pendampingan dengan topik khusus kesehatan seksual dan reproduksi.
  • Pemagangan inklusif dengan memberi kesempatan kepada orang muda dengan disabilitas/OYPMK untuk bekerja di NLR dan organisasi-organisasi mitra di berbagai wilayah.
  • Peer counselling dibangun untuk penderita kusta yang sudah punya kemampuan untuk menjadi konselor yang handal untuk teman-teman sebayanya yang mengalami kusta.
  • Kerjasama dengan KBR dalam program SUKA (Suara Untuk Kusta) dengan menyasar orang muda, warganet, juga roadshow ke kampur-kampus untuk mengkampanyekan penyadaran tentang kusta.

Hal tersebut dilakukan sejalan dengan misi NLR Indonesia yaitu bergerak di sektor kesehatan dalam mencegah, mendeteksi dan menangani kusta serta mendukung aspek kesehatan dan kemandirian inklusif bagi orang yang terdampak kusta. Dan karena kusta itu bisa mengakibatkan disabilitas maka NLR juga bekerja untuk disabilitas.

Widya NLR

Dalam kesempatan ini Ibu Widya juga menyampaikan informasi data bahwa populasi orang muda (usia 9-24 tahun – dikenal dengan Generasi Z atau Gen Z) di Indonesia berdasarkan data tahun 2020-2021 terdapat sebanyak 27,9% dari total 270 juta penduduk atau kurang lebih 74,9 juta. Penyandang disabilitas 3,3% berusia 5-17 tahun, ditambah 21,1% berusia 18-24 tahun, maka totalnya adalah 24%. Kurang lebih 5 juta penyandang disabilitas berusia 5-24 tahun. Sementara itu, OYPMK setiap tahun menyumbang 11% kasus baru usia <15 tahun dari 16000 kasus baru kusta per tahun.

Sekali lagi perlu diingat bahwa untuk mencapai kemandirian inklusif masih banyak OYPMK dan disabilitas yang mengalami hambatan. Stigma menjadi penghambat terbesar, baik itu stigma diri (self stigma) maupun stigma dari luar (social stigma). Ujung-ujungnya berdampak pada diskriminasi dalam berbagai aspek.

Tidak semua founder atau pemilik perusahaan adalah orang yang terbuka. Ada banyak yang belum bisa memahami dan menerima, bahkan menolak. Bagi mereka, kusta dan disabilitas identik dengan kekurangan dan ketidakmampuan. Tidak pernah melihat pada aspek kelebihannya.

Stigma itu melekat kuat membuat OYPMK dan disabilitas mengalami minder, takut diejek, juga takut dijerumuskan. Hal ini membatasi ruang gerak mereka. Hal ini menjadi perhatian NLR terutama karena bekerja pada aspek kesehatan. Dalam hal mendampingi OYPMK, yang dilakukan NLR adalah:

  • mendampingi pengobatannya sampai tuntas,
  • melakukan pendampingan untuk bisa diterima di masyarakat dengan gaya yang lebih populer.

Gaby adalah orang yang pernah mengalami kusta dan sudah mendapatkan banyak manfaat dari NLR Indonesia. Saat ini Gaby tinggal di Yayasan Sosial Ibu Anfrida di Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. Di sana ia mendapatkan pengobatan dan terapi rutin. Gaby sendiri mengalami disabilitas yaitu kaki lumpuh ringan. Otomatis hal ini mengganggu semua kegiatannya sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan berbagai aktivitas. Berkat pengobatan dan terapi rutin, sekarang Gaby sudah bisa berjalan.

Gaby menuturkan bahwa ia mengenal lebih jauh tentang kusta adalah dari NLR Indonesia. Ia juga pernah mengalami putus asa, namun melalui NLR ia bisa bangkit dan penuh semangat berbagi cerita dan pengalaman. Berkat NLR pula di yayasan ia bisa menenun, karena bisa dilakukan dengan tangan. “Jangan putus asa karena masih ada kesempatan untuk membangun semangat untuk mengembangkan bakat dan minat,” demikian pesan Gaby.

Tina Botanina

Konsep Inklusif dalam Dunia Usaha

Sementara itu, Ibu Tina dari Botanina Hijau Indonesia mengatakan bahwa dunia sekarang sudah sangat berubah. Dengan adanya persaingan yang ketat, memaksa Botanina terus melakukan inovasi-inovasi. Hal ini membutuhkan skill personil yang sangat spesifik dan lengkap. Yang juga melahirkan kebutuhan-kebutuhan akan skill dan pola kerjasama.

Dulu kerja itu fulltime tapi sekarang bisa bekerjasama yang bersifat parttime atau freelance dan disesuaikan dengan skill masing-masing. Mencari pegawai berdasarkan keahlinya dan tidak dipengaruhi oleh keterbatasan mobilitas atau keterbatasan fisik. Pencarian pegawai pun dilakukan melalui akses yang cepat, contohnya melalui media sosial. Biasanya dengan melihat cerita di balik karya atau penciptaan sebuah karya.

Di Botanina konsep inklusif adalah konsep yang sudah biasa. Menurut Ibu Tina, semua orang bisa berpartisipasi di dunia usaha, asal dia bisa berkarya, bisa mengikuti pola kerjasama, dan mengikuti keterbatasan atau kelebihan atau kekurangannya.

Botanina selama ini mempekerjakan pegawai disabilitas low vision. Pegawai ini menjadi tangan kanan Bu Tina di bagian produksi karena penciumannya sangat tajam. Salah satu skill yang dibutuhkan di Botanina adalah penciuman yang tajam karena produk yang dihasilkan berkaitan dengan aroma. Botanina selain menjual fungsi, juga menciptakan aroma yang menyenangkan (relaksasi, menyegarkan). Penggunaan bahan-bahan alami membutuhkan orang yang peka terhadap aroma. Terbayang ‘kan, seorang disabilitas low vision memiliki kelebihan indera penciuman yang sangat tajam 🙂

“Tuhan itu adil, ketika kita diberi kekurangan di satu sisi, ternyata di sisi lain diberi kelebihan,” ungkap Bu Tina.

Bu Tina juga mengungkapkan gambaran lain tentang keahlian yang dimiliki oleh penyandang disabilitas. Sekarang jamannya merchandise atau gift. Biasanya hal tersebut membutuhkan kerapian dalam packagingnya. Tidak gampang mencari orang yang bisa melakukan hal tersebut. Ternyata kemampuan ini malah dimiliki oleh orang yang autis karena bisa sangat fokus.

Fasilitas atau persiapan apa yang harus disediakan oleh perusahaan?

Ibu Widya dari NLR Indonesia menjawab pertanyaan tersebut dengan menyampaikan bahwa fasilitas khusus yang disediakan adalah disesuikan dengan kondisinya. OYPMK yang terlalu lelah atau stress akan mengalami reaksi, misal kulit menjadi merah-merah. Jadi perlu dipahami tentang berbagai hal, misalnya dari sisi jam kerja serta waktu istirahat. Penyediaan alat-alat kerja juga perlu diperhatikan karena OYPMK yang kehilangan sensorik bahkan tidak bisa menyentuh dan tidak bisa merasakan panas.

Ketika akan menerima OYPMK/disabilitas, kita harus memahami kondisi masing-masing yang berbeda. Sesimpel tangan kanan dan tangan kidal pasti berbeda. Teman-teman kerja harus bisa memahami dan menerima. Tidak perlu dikhususkan, tapi tetap melakukan kegiatan bersama-sama (makan dan lain-lain).

Senada dengan jawaban Ibu Widya, karyawan Botanina yang menyandang disabilitas low vision, tuli, dan disabilitas ringan lainnya, menurut Ibu Tina juga dilakukan penyesuaian. Penyesuaian ini tergantung pada jenis disabilitasnya. Biasanya lebih ke detil yang bahkan tak pernah terpikirkan, misalnya lampu harus seterang apa, tulisan harus sebesar apa, dan lain-lain.

Pelatihan khusus bagi disabilitas

Selain penyediaan fasilitas, yang tidak kalah pentingnya adalah pemberian pelatihan. Di NLR sendiri, setiap tahun ada periode pemagangan untuk OYPMK dan disabilitas. Informasi pendaftaran pemagangan ini dipublikasikan ke masyarakat. Ada 2 tahapan pemagangan yang dilakukan, yaitu:

  • Melakukan assessment.
  • Membuat program-program yang sesuai dengan minatnya, jadi sejak awal perekrutan sudah ditanya minatnya apa.

NLR di Jakarta menyediakan peluang kerja yang lebih banyak di kantor. Hal ini tentu saja akan berbeda dengan mitra-mitra di wilayah/daerah. NLR berada di 13 propinsi di 34 kota/kabupaten mempunyai kegiatan-kegiatan di lapangan, yang tentunya akan berbeda dengan pelatihan bagi yang bekerja hanya di kantor. Training formal tidak dilakukan setiap saat tetapi melalui program-program penguatan kapasitas diri dan persiapan soft skill.

berita KBR

Bagaimana dengan pelatihan di perusahaan? Ibu Tina menuturkan bahwa tidak ada pelatihan khusus bagi pegawai full time yang menyandang disabilitas low vision, yang diperlukan hanya adaptasi saja. Kekurangannya apa lalu kasih fasilitas yang memudahkannya membaca.

Untuk pelatihan umum, biasanya diajak keliling ke semua divisi, belajar proses bisnis itu seperti apa, serta turun ke produksi untuk melatih etos kerja. Sedangkan untuk pelatihan khusus, disesuaikan dengan kehalian yang dibawa. Bagi para pekerja magang baik disabilitas maupun non disabilitas yang dilakukan Botanina adalah:

  1. Assessment pada latar belakang atau keahlian masing-masing.
  2. Lalu dibuatkan proyek untuk mengaplikasikan keahlian yang dimilikinya.
  3. Cek apakah sudah siap pakai atau belum.

Contoh: Penyandang tuli tetapi jago menggambar. Biasanya kehaliannya masih mentah (menggambar dengan tangan), belum membangun story kebutuhan brand itu seperti apa. Botanina akan melatihnya untuk bisa mengonversi dari gambar tangan menjadi gambar digital. Jadi dia belajar digital dari awal hingga siap bekerja di vendor. Juga mengajarkan cara membuat gambar yang ada ceritanya karena jaman sekarang orang butuh konsep.

Indonesia Inklusif

Disabilitas itu cakupannya luas sekali, banyak sekali kategorinya, banyak sekali levelnya. Setiap perusahaan punya peluang mempekerjakan mereka, tinggal disesuaikan saja dengan kapasitas masing-masing berusahaan. Peluang yang sangat baik karena ada beberapa keahllian yang dibutuhkan yang mungkin hanya dimiliki oleh yang disabilitas.

Bagi perusahaan-perusahaan yang membutuhkan akses informasi mengenai disabilitas dan OYPMK yang memiliki keahlian-keahlian tertentu bisa mendapatkannya melalui NLR Indonesia. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk bisa menjalin kerjasama.

Sekarang banyak sekali perusahaan-perusahaan yang ditangani oleh para pemuda. Maka mengapa tidak membuka peluang kerja bagi para pemuda dengan disabilitas dan OYPMK. Kalaupun tidak bisa ditempatkan di dalam perusahaannya, setidaknya para pemuda pengusaha ini memberi pelatihan dan pendampingan. Orang dengan disabilitas dan OYPMK bisa hidup mandiri koq asalkan diberi ruang dan fasilitas, antara lain:

  • Pendampingan pengobatan sampai tuntas bagi pasien kusta.
  • Pendampingan untuk bisa diterima di masyarakat.
  • Komunikasi publik sehingga memunculkan kebijakan-kebijakan yang mendukung pengurangan stigma serta peningkatan rasa percaya diri penyandang disabilitas dan OYPMK.
  • Bantuan peningkatan kepercayaan diri dengan melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan.
  • Pemberian pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan minat dan keahlian mereka.
  • Pembangunan sarana dan prasarana di sekitar mereka agar lebih leluasa dalam bergerak.
  • Pemberian kesempatan untuk bisa mendapatkan akses layanan masyarakat.

Saatnya kita membangun Indonesia inklusif melalui tangan-tangan para pemuda. Yang muda yang progresif, untuk Indonesia inklusif!

 

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *