Mengenal Inner Child, Mengasuhnya, dan Meraih Bahagia

inner child

Mengenal Inner Child, Mengasuhnya, dan Meraih Bahagia Di dalam buku antologi terbaru saya yang bergenre fiksi berjudul Tersembunyi, di paragraf terakhir saya menulis sebagai berikut: “Kepada orang tuanya, Anggi tidak marah atau dendam, meskipun pengasuhan orang tuanya dulu telah menghadirkan sisi lain dalam kehidupannya. Ia menyadari bahwa mungkin seperti itulah cara orang tua dulu mengasuh dirinya. Cara yang tidak mungkin ia terapkan dalam mengasuh anak-anaknya sendiri. Biarlah ia saja yang mengalami.” Kalimat tersebut menyiratkan bahwa ada pengasuhan di masa kecil yang kurang membahagiakan seorang Anggi dan itu mempengaruhi kehidupan Anggi di kemudian hari.

Saya tidak akan menceritakan kembali apa yang saya tuliskan di buku tersebut. Meskipun memang benar bahwa kisah yang saya ceritakan di dalam buku Tersembunyi itu berhubungan erat dengan inner child. Selanjutnya saya hanya ingin berbagi pengalaman seputar inner child sehubungan dengan kegiatan terbaru saya yaitu turut berpartisipasi menjadi agen perubahan untuk kesehatan mental.

Entah sudah berapa kali saya mendengar pesan dari mba Intan Maria, founder Ruang Pulih, yang mengatakan bahwa satu saja perempuan Indonesia bisa dipulihkan mentalnya, maka akan memberikan dampak positif bagi keluarga dan generasi penerusnya. Bayangkan jika ada lebih banyak lagi perempuan!

Oleh karena tujuan mulia itu maka saya dengan senang hati memberikan dukungan kepada mba Intan. Mulai dari mempersiapkan buku duetnya dengan mas Adi Prayuda yang berjudul Luka, Performa, Bahagia: Mengenal Inner Child, Menemukan Jati Diri. Dilanjutkan dengan mengawal program Inner Child Healing yang melibatkan 20 orang blogger dari dua komunitas (Ibu-Ibu Doyan Nulis dan SEO Moms Community).

parade happy inner child

Program inner child healing ini agendanya lumayan padat sekali. Tapi sebenarnya ini hanya padat di awal saja. Khususnya pada parade 5 webinar yang diselenggarakan setiap hari Minggu. Webinar pertama diselenggarakan pada tanggal 15 Agustus 2021. Dan berikut ini jadwal selengkapnya:

  1. Minggu, 15 Agustus 2021, jam 17:30 – selesai: mengangkat tema “Mengenali InnerChild, Menemukan Jatidiri”, menghadirkan narasumber dr. I Gusti Rai Wiguna, Sp. KJ dan Adjie Santosoputro
  2. Minggu, 22 Agustus 2021, jam 18:00 WIB – selesai: mengangkat tema “Bangkit Dari Luka Menuju Performa”, menghadirkan narasumber Prasetya M Brata dan Fena Wijaya
  3. Minggu, 29 Agustus 2021, jam 18:00 WIB – selesai: mengangkat tema “Inner Child Menghambat dan Menghebatkan Masa Dewasa”, menghadirkan narasumber  Dr. dr. Adi W. Gunawan, ST, MPd, CCH dan Drs. Asep Haerul Gani
  4. Minggu, 05 September 2021, jam 18:00 WIB – selesai: menghadirkan narasumber Anthony Dio Martin dan Naftalia Kusumawardhani
  5. Minggu, 12 September 2021, jam 18:00 WIB – selesai: menghadirkan Drs. Seto Mulyadi, S.Psi, M.Si (Kak Seto) dan Anggun Meylani Pohan

Semua webinar bisa diikuti melalui Zoom dan live streaming YouTube. GRATIS alias free. Bagi yang tidak sempat mengikuti secara live, masih bisa menyimak rekamannya di YouTube channel Ruang Pulih.

Selain parade webinar, selama periode 23 – 29 Agustus 2021 diselenggarakan Kelas Online 7 Hari “Embrace Your Inner Child and Be Happy” (batch 4) yang dimentori oleh dr. I Gusti Rai Wiguna, Sp.KJ bersama-sama dengan mba Intan Maria Lie. Kelas ini berbayar untuk umum, tetapi ada diskon khusus bagi pembeli buku Luka, Performa, Bahagia.

Di kelas online 7 hari ini peserta mendapatkan materi yang cukup padat juga. Materinya antara lain adalah:

  • Mengenali jenis-jenis emosi
  • Mengenali inner child, inner parent, dan adultself
  • Empty chair (Gesalt Therapy) for trauma healing
  • Breathing (pernafasan pengendali emosi)
  • Journaling (peta pikiran inner child dan inner parent)
  • Kesadaran akan trauma dan perilaku autopilot
  • Forgiveness therapy
  • Free komunitas grup inner child therapy 1 tahun

Selain mengikuti event demi event, dua minggu sekali kami para blogger wajib memublikasikan minimal satu artikel terkait dengan inner child. Bebas mau menulis seperti apa karena sifatnya healing. Namun jangan sampai tulisan tersebut hanya berisi sampah-sampah emosi, jadi harus ada pesan atau inspirasi yang disampaikan kepada pembaca.

Saya akui memang menulis sambil berproses memulihkan diri itu bukan perkara mudah. Saya pernah mengalami saat mengetik sambil bercucuran air mata. Itu terjadi waktu saya menulis naskah untuk buku antologi kedua saya yang berjudul Pelangi Kehidupan. Meskipun demikian, saya mampu menuntaskan tulisan tersebut. Pada endingnya ada pesan atau inspirasi yang bisa saya sampaikan kepada pembaca.

Kedua, saya menulis sambil menangis itu sewaktu mengetik naskah untuk antologi Pulih. Pada awalnya, tulisan saya tidak tuntas. Saya seperti hanya menuangkan sampah-sampah emosi (kekesalan dan kekecewaan) ke dalam tulisan tersebut. Tetapi alhamdulillah tulisan saya lolos seleksi, dengan syarat harus direvisi. Karena sudah lega menuangkan sampah-sampah tadi, saat melakukan revisi saya mampu menuntaskan tulisan. Saya bisa menambahkan hal-hal apa saja yang saya lakukan untuk menyelesaikan masalah. Juga tentunya menyampaikan pesan-pesan inspiratif kepada pembaca.

Setelah melalui pengalaman menulis dua naskah tadi, sampah-sampah emosi yang lain saya tuliskan melalui antologi-antologi yang lain dalam beraneka macam tema. Dengan demikian saya bebas mengungkapkan perasaan saya dari berbagai sisi dan mengakhiri tulisan dengan menyampaikan solusi dan pesan-pesan serta inspirasi. Oleh karena itu, genre yang saya ikuti selalu kisah-kisah inspiratif.

gambaran masa depan

Gambaran masa depan (koleksi pribadi)

Ada satu sesi dalam program Pulih yang membuat saya bisa menemukan solusi atas permasalahan emosi yang tidak stabil. Sesi tersebut adalah art therapy. Yang dilakukan adalah menggambar dan mewarnai. Saya yang sebelumnya sangat benci dengan menggambar karena nilai menggambar saya tidak pernah lebih dari angka enam, saat itu bisa menikmati banget. Karena di dalam sesi art therapy menggambarnya bebas, mengikuti pikiran dan perasaan sendiri. Bahkan tak jarang saya ikuti saja jari saya menggambar apa atau bergerak kemana.

Gambar yang sudah dibuat tersebut kemudian diwarnai, bisa menggunakan pensil warna atau crayon. Saat mewarnai pun tidak diberi batasan. Kita bebas mengekspresikan warna. Tidak harus gunung itu berwarna biru, dan lain-lain. Gambar yang sudah diwarnai kita tunjukkan kepada mentor (mba Intan dari Ruang Pulih). Dari situ akan terbaca bagaimana emosi si penggambar tersebut.

Sejak itu saya menjadi lebih pede menggambar dan mewarnai. Enggak malu atau takut lagi dikatakan “ah gambarmu jelek”. Ternyata kepedean menggambar tadi berpengaruh pada kepedean saya dalam mengatasi masalah-masalah saya sehingga emosi saya menjadi lebih stabil.

Seperti halnya saat menulis sambil menangis, menggambar pun pertama kali saya lakukan sambil menangis. Itu adalah saat diminta membuat gambar ‘masa lalu’. Oleh karena itu saya enggak heran kalau temen-temen yang baru memulai proses pemulihan inner child pasti banyak menangisnya sehingga sulit mengungkapkan melalui tulisan.

Lalu, apakah saya tidak mempunyai inner child? Pada dasarnya semua orang memiliki inner child. Hanya saja, apakah yang dimiliki tersebut adalah wounded inner child ataukah happy inner child, serta apakah salah satu dari inner child tersebut terbawa sampai sekarang hingga mempengaruhi kestabilan emosi atau tidak.

Mungkin saya punya wounded inner child, karena saat masih anak-anak harus LDR-an dengan bapak selama 10 tahun (setahun sekali bapak pulang – itu pun paling lama 2 mingguan saja di rumah), menghadapi ibu yang cenderung galak karena mengasuh 4 anak sendirian tanpa bapak, saya sendiri penyandang difabel, dan lain-lain. Tetapi perjalanan waktu di mana saya memanfaatkannya dengan menulis, bisa menyembuhkan luka-luka itu. Belasan proyek buku antologi dengan tema yang bermacam-macam memungkinkan saya untuk mengungkapkan perasaan saya sesuai tema yang sedang saya ikuti.

 

happy inner child

Happy inner child (koleksi pribadi)

Tahun 2021 saya ikut program Semeleh yang merupakan kerjasama antara Komunitas IIDN dengan Ruang Pulih. Bagi saya, program ini merupakan lanjutan dari program Pulih. Nah, berada di program Semeleh ini saya sudah tidak lagi bercucuran air mata saat membuat naskah. Emosi saya sudah lebih tertata. Saat mengetik sudah terasa ringan, tak ada beban yang mengganjal.

Saat diminta menggambar ‘masa kecil’ pun gambar saya adalah anak perempuan kecil yang bahagia, bermain dengan boneka sambil membawa buku. Karena memang sejak kecil saya suka membaca buku. Sedangkan boneka adalah teman saya bermain selain ketiga adik laki-laki saya. Dan saya selalu ingat setiap pagi pergi ke sekolah dengan riang sambil mengejar kupu-kupu yang beterbangan.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa apa yang kita alami di masa sekarang tidak lepas dari pengaruh masa lalu. Menurut dr. Rai pada webinar 1, setiap orang mempunyai perjalanan pulihnya masing-masing, jadi tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Inner child juga bukan suatu hal yang permanen, karena bisa dilakukan pemulihan. Ada 2 poin penting lagi yang saya catat dari dr. Rai, yaitu:

  • Semua orang memiliki inner child. Maka saat memulai relationship sebaiknya mencari tahu inner child pasangan. Bukan untuk mengungkit masa lalu masing-masing, tetapi agar bisa memetakan hubungan ke depan.
  • Seringkali kita tidak memulai apapun ketika kita ingin melakukan perubahan di dalam diri karena kita fokus pada lukanya dan pada lamanya sirkuit perjalanan yang akan dilalui. Satu langkah kecil untuk memulai lebih berharga daripada seribu langkah yang dikhayalkan.

Sedangkan dari mas Adjie Santosoputro , narasumber webinar 1, saya mencatat 2 poin penting juga yaitu:

  • Inner child itu persoalan memory atau ingatan pada masa lalu. Yang diperlukan adalah membenahi hubungan dengan memory atau masa lalu tersebut, bukan melupakannya. Upaya untuk melupakan masa lalu justru membuat terjebak pada masa lalu. Solusinya: sadari saja.
  • Merasa bersalah akan masa lalu itu tidak apa-apa. Sadari rasa itu. Past is past. Selalu tidak ada kabar baru dari masa lalu. Yang terpenting adalah saat ini, di sini, kini, apa yang musti saya lakukan.

Dari  menyimak materi yang disampaikan oleh dr. Rai dan mas Adjie, saya bisa menarik kesimpulan bahwa tampaknya saya sudah sampai pada level “menyadari sepenuhnya” sehingga saya bisa menerima masa lalu dan bisa mengasuh diri saya sendiri saat ini. Saya sudah merasakan langkah saya jauh lebih ringan. Saya merasa lebih bahagia.

Semoga perjalanan program inner child healing ini pesan dan inspirasinya tersampaikan kepada pembaca di mana pun berada. Sehingga akan membawa dampak positif kepada warganet khususnya dan warga dunia pada umumnya. Satu tulisan dibaca oleh 10 orang, maka 20 tulisan dibaca oleh 200 orang, padahal kami sudah menyiapkan minimal 140 tulisan. Ya, we are ready to be the agent of change!

 

 

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *