Memahami Inner Child dan Mengenali Wounded Inner Child

wounded inner child

Memahami Inner Child dan Mengenali Wounded Inner Child – Dalam 2 tahun terakhir ini saya tuh sering membaca di media sosial bahwa inner child itu bisa disembuhkan atau dipulihkan. Padahal apa itu inner child saja saya belum paham. Lalu pelan-pelan saya mulai mengerti, sejak terhubung dengan mba Intan dari Ruang Pulih. Baik itu melalui program-program yang saya ikuti melalui komunitas IIDN maupun melalui buku yang ditulisnya di mana saya membantu di bagian editing. Lalu saya makin memahami inner child dan mengenali wounded inner child ketika mengikuti kelas online Embrace Your Inner Child yang diampu oleh dokter Rai Wiguna dan Intan Maria Lie.

Nah, apakah semasa kanak-kanak saya pernah mengalami wounded inner child yang berdampak pada usia dewasa saya? Untuk menjawabnya saya mencoba belajar dari uraian dokter Rai berikut ini:

Memahami Inner Child

Inner child adalah bagian dari seseorang yang terbentuk dari pengalamannya di masa kecil. Setiap orang mempunyai inner child atau sisi diri masa kanak-kanak. Karena kita dilahirkan tidak langsung menjadi dewasa, tetapi melalui masa kanak-kanak terlebih dahulu. Sayangnya tidak semua orang menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat inner child. Sehingga banyak yang terpisah dari inner childnya. Tanpa disadari inner child itu bisa membentuk kepribadian seseorang saat dewasa, karena masa kecil itu tidak hilang.

Sederhananya, inner child adalah diri kita masa kecil di dalam tubuh kita yang sekarang. Inner child bisa jadi adalah hal-hal yang buruk, bisa juga hal-hal yang baik. Hal-hal buruk itu misalnya perceraian orang tua, kekerasan, pelecehan seksual, atau hal-hal yang bersifat traumatis atau berkesan. Dampak inner child bagi kehidupan kita saat dewasa, kita bisa menjadi pribadi yang insecure, suka menyakiti diri sendiri, suka menyalahkan diri sendiri, juga tidak memiliki kepercayaan diri. Hal tersebut ada kaitannya dengan sesuatu di masa lalu kita.

Tahapan Inner Child

Inner child itu terdiri dari 4 tahapan, yaitu sebagai berikut:

Tahap 1: Inner child yang ditutupi atau diblok

Adalah seseorang yang tidak terhubung dengan inner childnya. Kebutuhan emosi dan lain-lain, semuanya tertahan. Keterlibatan ego yang berat akan membuat proses pengasuhan kembali inner child akan menjadi canggung, konyol, dan tidak berguna. Kritis terhadap diri sendiri membuat kita tidak mengalami perasaan emosional. Sarkasme, sinisme, menjadi mekanisme pertahanan diri. Kita tidak percaya adanya inner child di dalam diri kita. Saat terjebak dalam masalah-masalah berat, baru kita berpikir bahwa “oh ini terjadi di masa lalu”.

Tahap 2: Fantasi inner child

Yaitu bertahan dengan emosi-emosi baik dan melupakan emosi-emosi negatif untuk mempercayai fantasi yang dipercayai. Sebagian besar orang berada di tahap ini. Kita tahu sebenarnya ada sesuatu di masa lalu tapi kita berusaha mengabaikannya, pura-pura tidak mengingatnya dan hanya melihat diri kita pada bagian baiknya saja. Cenderung menjadikan orang tua sebagai pahlawan dan menginginkan pasangan yang dapat menolong, memperbaiki dan memberikan rasa aman.

Fantasi inner child ini seakan-akan media sosial dalam psikologis kita. Kita mencitrakan hanya yang baik-baik saja. Padahal dengan pura-pura baik tidak membuat diri kita benar-benar baik. Tandanya suka melamun di tahap kronis, secara tidak sadar orang tua mendominasi pilihan hidup kita,  kita belum bisa menjadi orang dewasa.

Tahap 3: Inner child ekspresif

Kesadaran dan mampu menjadi saksi. Kita mulai menyadari ada ego yang lembut, berbicara dengan inner child kita, serta menghargai dan memvalidasi inner child kita.

Pada tahap ini seseorang sangat siap untuk mulai terapi. Memandang hubungan romantis sebagai peluang untuk pulih dan berkembang. Melihat orang tua sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai sisi positif dan sisi negatif, dimana orang tua juga mempunyai luka inner childnya sendiri.

Tahap 4: Inner child terintegrasi

Ini adalah tujuan kita bersama dimana kita bisa mempunyai inner child yang terintegrasi. Mempunyai kesadaran dan penerimaan. Ada ego yang rileks, memandang tantrum serta reaksi negatif sebagai luka anak-anak, dan ini semua dilakukan dengan penuh welas asih. Tidak ada penghakiman, tidak ada benar salah yang memiliki batasan yang jelas. Kita punya rasa ingin tahu seperti anak-anak. Penerimaan penuh atas bayangan diri kita bahwa itu pernah terjadi dalam hidup kita. Tidak lagi fokus pada lukanya, tetapi sudah mulai fokus pada pelajaran yang bisa kita dapatkan.

Mengenali Wounded Inner Child

Saat membicarakan luka inner child pastilah yang paling membekas adalah orang-orang yang terdekat dengan kita. Terutama orang tua. Seringkali luka inner child terjadi akibat pola pengasuhan orang tua di masa kecil kita.

a. Luka dari Ayah

Ada fenomena fatherless yang sangat besar di jaman sekarang dimana orang-orang tidak mendapatkan kehadiran atau peran ayahnya. Apa saja luka dari ayah itu?

  1. Masalah kepercayaan

Jika ayah tidak hadir sepenuhnya di dalam hidupmu, kamu bisa saja mengalami krisis kepercayaan pada dirimu sendiri dan orang lain. Manifestasinya adalah kamu jadi tertarik dengan orang yang juga mempunyai sedikit kepercayaan kepadamu. Kamu mempunyai trust issue ketika ayah tidak benar-benar hadir secara emosional pada dirimu.

  1. Merasa tidak cukup baik

Jika ayah terlalu keras padamu, manifestasinya adalah munculnya perasaan “tidak cukup baik” atau “tidak berharga”. Muncul juga perasaan bahwa kamu tidak pernah puas atau bahagia dengan yang kamu miliki dan selalu saja ingin lebih. Selalu merasa insecure.

  1. Masalah penyiksaan

Jika kamu menyaksikan ayahmu menyiksa ibumu, atau bahkan kamu mengalami penyiksaan dari ayahmu, maka kamu akan berpikir bahwa seperti itulah seharusnya hubungan berjalan. Jika ayahmu terlalu mengontrol dan sangat dominan, kamu bisa saja menekan jati dirimu dan sulit membuat batasan ke orang lain. Kamu merasa wajar orang-orang memperlakukan dirimu dengan buruk karena sejak awal kamu diperlakukan seperti itu.

  1. Masalah pengabaian

Jika ayahmu secara emosional tidak hadir atau absen, manifestasinya adalah kamu jadi tertarik dengan orang yang juga tidak hadir secara emosional. Jika ketika kecil ayah tidak hadir bersamamu, kemudian kamu memilih pasangan laki-laki secara tidak sadar yang mirip dengan itu. Relasi menjadi menjemukan setelah beberapa saat dan kamu akan berpindah ke relasi lain dengan cepat. Kamu akan merasa takut ditinggalkan ataupun ditinggalkan.

b. Luka dari Ibu

  1. Batasan yang lemah

Ketika kamu tidak bisa berkata “tidak” atau tidak menghargai ruang privatmu sendiri, luka ini timbul dari menyaksikan ibumu yang selalu berusaha menyenangkan orang lain dan tidak memprioritaskan dirinya. Jadi paket komplitnya adalah mempunyai ayah yang terlalu dominan dan mempunyai ibu yang terlalu permisif. Sudah disiksa, sudah dimarahi dengan tidak pantas, tetapi ibu masih menerima hal itu. Ini menanamkan ke dirimu untuk sulit mengatakan hal yang benar-benar ingin kamu sampaikan dan cenderung ingin selalu menyenangkan orang lain.

  1. Perasaan bersalah

Kamu sering mengatakan “aku merasa buruk” atau secara konstan selalu berkata “aku merasa bersalah”. Jika ada hal baik terjadi padamu, kamu malahan akan merasa bersalah karena kamu merasa tidak pantas mendapatkannya.

  1. Ko-dependensi

Kamu sering merasa dalam hubungan yang kodependen. Kamu takut sendirian sehingga kamu mengikatkan dirimu pada orang lain untuk mengisi kekosongan yang ada di dalam hidupmu. Kamu menunggu izin dari orang lain untuk melakukan apa yang hati dan intuisimu inginkan. Kamu harus diatur oleh orang lain. Tidak bisa mengatur diri sendiri. Tidak bisa memberi keputusan tentang hidupmu sendiri. Ketika mencari pasangan, kamu tidak mencari suami atau istri, tetapi  mencari penyelamat untuk dirimu. Dan itu adalah awal dari toxic relationship.

  1. Masalah harga diri

“Aku tidak merasa berharga” adalah kata-kata yang khas dari luka ini. Kamu terus saja membandingkan dirimu dengan orang lain dan merasa iri karenanya. Kamu sulit untuk mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya karena selalu saja selalu saja dibandingkan dengan orang lain sejak kecil.

Luka dari ibu ini jika disimpulkan akan menjadi sebagai berikut:

  • Dulu ibuku suka mengritik, sekarang aku memiliki kritik diri yang keras.
  • Dulu ibuku sering tidak menyetujui pilihanku, sekarang aku takut akan penilaian orang.
  • Dulu ibuku pasif-agresif, sekarang aku kurang percaya diri.
  • Dulu ibuku tidak hadir, sekarang aku tidak mampu untuk memahami/mengekspresikan emosi.
  • Dulu ibuku ko-dependen, sekarang aku memiliki batasan diri yang lemah.
  • Dulu ibuku sering mengontrol, sekarang aku memberontak.
  • Dulu ibuku pesimistis, sekarang aku melakukan sabotase diri.

Inner Child yang Terluka vs Inner Child yang Pulih

Setelah mengenali tahapan-tahapan inner child serta mengenal inner child yang terluka, sekarang mari kita cek apakah sudah pulih atau belum. Berikut ini perbedaan antara inner child yang terluka dan yang pulih:

Inner Child yang Terluka: Inner Child yang Pulih:
Aku punya adiksi emosional terhadap stres, kekacauan dan pengkhianatan. Aku berusaha untuk menemukan sudut pandang kecil mengenai kedamaian dan ketenangan setiap harinya.
Semua sikapku adalah upaya untuk mendapatkan validitas dari orang lain. Dengan memenuhi janji kepada diriku sendiri, kebutuhanku untuk mencari validasi eksternal menjadi berkurang.
Aku menginginkan pasangan untuk menyelamatkanku, membenahiku, serta membuatku aman. Aku ingin pasangan untuk bertumbuh dan pulih bersama.
Pilihan-pilihan hidupku kubuat untuk menyenangkan orang tuaku. Aku berharga walaupun orang tuaku salah mengartikan maksudku.
Relasi-relasiku mencerminkan pola pengalaman masa kecilku. Relasi-relasiku semua berdasarkan kebebasan, tanggung jawab, serta kedamaian.

Pengalaman dengan Wounded Inner Child

Kalau saya mengingat-ingat kembali masa kanak-kanak saya sehubungan dengan wounded inner child ini, maka yang muncul adalah masa dimana saya harus mengalami long distance relationship dengan Bapak. Nah, selama itu saya mengalami dimana Ibu tampak galak di mata saya.

Tinggal berjauhan dengan Bapak selama 10-tahunan, hanya bertemu setahun sekali palingan hanya sekitar 2-3 minggu. Bisa dibayangkan, pengasuhan emosional seperti apa yang saya dapatkan dari Bapak. Efeknya, pada usia remaja saya merasa haus kasih sayang dari sosok laki-laki. Akibatnya saya pernah menyerempet bahaya dalam dunia pergaulan saya.

Sehubungan dengan pengasuhan Ibu selama tidak ada Bapak, efeknya adalah saya merasa bahwa Ibu tuh galak. Akibatnya secara emosional saya tidak merasa dekat dengan Ibu. Selalu ada rasa takut jika ingin mencurahkan isi hati kepada ibu. Akhirnya pelarian saya adalah buku harian.

Kini, semua itu saya akui dan saya sadari pernah terjadi di  masa lalu. Saya taruh di ruang memori saya. Saya kemas sebagai bagian dari perjalanan hidup saya. Bapak harus LDR-an dengan kami dalam waktu lama adalah dalam rangka menjalankan tugas dan menjemput rezeki. Ibu galak karena harus mengasuh empat orang anaknya sendirian tanpa didampingi Bapak.

Saat dewasa saya tuangkan kenangan dan kerinduan saya pada Ibu dan Bapak dalam bentuk tulisan-tulisan di buku-buku antologi yang saya tulis sepanjang 2020-2021. Ada rasa lega dan ringan saat saya menuliskannya. Pun saat saya serahkan buku-buku tersebut kepada Ibu dan Bapak lalu beliau berdua membacanya. Terjalin kian erat ikatan batin antara orang tua dan anak.

Kaitannya dengan tahap-tahap inner child insyaallah saya sudah sampai pada tahap 4. Bahwa saya tidak lagi fokus pada lukanya, tetapi sudah fokus pada pelajaran yang bisa saya dapatkan. Lalu apakah saya sudah sampai pada inner child yang pulih?

Semoga sharing tentang inner child ini bermanfaat.

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *