Kenapa Masih Menulis?

Kenapa Masih Menulis? Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini muncul di grup Warung Blogger bertepatan dengan Hari Blogger Nasional pada 27 Oktober 2021. Sebelumnya, pagi-pagi di komunitas blogger yang saya pegang, saya sempat menyampaikan bahwa hari blogger kali ini sepi sekali. Saya melihat di beberapa social media beberapa teman mengunggah banner “Selamat Hari Blogger Nasional”, tetapi saya tidak melihat tersebarnya info tentang event-event.

Meskipun tanpa perayaan atau event-event khusus, sebagai blogger saya akan terus menulis. Yaaaa, meskipun tidak bisa setiap hari. Minimal satu minggu satu artikel pun saya sudah bersyukur banget. Nah, apa alasan saya masih menulis meskipun jarang blog-walking? Jawabannya ada di bawah ini. Kebetulan sekali beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang tema yang hampir sama dalam sebuah buku antologi berjudul “Perempuan Melukis Aksara”.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar saya sudah senang dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Dari mata pelajaran tersebut, saya senang dengan pelajaran menulis halus dan mengarang. Berkah dari senang mengarang, saya rajin membuat karangan untuk mengisi majalah dinding sekolah. Berkah yang lain, saya diikutkan lomba mengarang di Kabupaten untuk tingkat Sekolah Dasar.

Ketika itu saya masih duduk di bangku kelas 4 SD. Mengarang pada jaman itu, tulisannya tidak boleh asal-asalan, lho… Membuat karangan harus ditulis menggunakan huruf tegak bersambung. Ditulis di atas kertas folio bergaris. Garis tepi (margin) sudah ditentukan sekian sentimeter dari sebelah kiri. Alhamdulillah saya memperoleh juara kedua dan mendapatkan hadiah berupa piagam penghargaan.

Memasuki bangku SMP saya tetap senang menulis. Bahkan tidak pernah surut menulis hingga duduk di bangku SMA. Sering kali saya mencurahkan tulisan ke dalam diari (ketika itu belum ada internet). Saat memiliki cukup uang, saya membeli buku diari yang bagus dan jika sudah waktunya ganti tapi tidak punya uang saya menggunakan buku biasa yang diberi hiasan sendiri supaya cantik, hehehe…

Setelah memasuki dunia kerja dan menggunakan komputer dalam kegiatan sehari-hari saya mulai menulis secara digital. Begitu mengenal internet dan blog saya seperti mendapatkan ruang yang sangat luas untuk menulis. Dan itu berlanjut hingga sekarang. Empat belas tahun saya menekuni dunia blog. Menjelang akhir tahun 2018 dan memasuki awal tahun 2019, barulah dunia menulis saya berkembang. Saya mengenal dunia penulisan buku. Jadi, sejak awal tahun 2019 hingga hari ini saya menekuni dua dunia, yaitu dunia blog dan dunia buku.

Sudah ribuan artikel yang saya tuliskan di blog dan sudah belasan kisah saya tulis yang diterbitkan dalam bentuk antologi. Saya menikmati keduanya. Keduanya memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Keduanya memiliki target pembaca sendiri-sendiri. Keduanya memiliki visi dan misi sendiri-sendiri.

Saya sangat bersyukur karena bakat menulis saya sudah ditemukan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Selanjutnya saya tinggal mengasah dan mencari wadah yang tepat. Menurut saya, menulis itu sangat banyak manfaatnya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Menulis adalah sebuah kegiatan yang tidak membutuhkan mobilitas tinggi, yang bahkan bisa dijadikan sebagai profesi. Ya, profesi, jika dilakukan secara profesional. Karena dengan menulis kita bisa menghasilkan uang.

kenapa masih menulis

Blog yang dulunya hanya saya jadikan sebagai diari digital, ternyata bisa menghasilkan uang. Tidak sedikit artikel yang terpublikasi di sini adalah tulisan-tulisan berbayar. Tidak jarang pula saya sebagai blogger mendapatkan undangan untuk menghadiri suatu event; biasanya penyelenggara akan memberikan insentif kepada blogger. Penghasilan dari blog bisa saya gunakan untuk membayar domain name, sewa hosting, serta tentunya bisa menambah uang jajan untuk anak-anak.

Di samping bisa mendapatkan manfaat secara finansial, menulis juga memberi saya kekayaan-kekayaan lain yang tak ternilai dengan uang. Yaitu kaya akan pahala, kaya akan sahabat, kaya akan pengetahuan, dan kaya akan nama. Selain itu, menulis juga turut andil dalam menjaga kewarasan saya. Tidak terbayang jika saya setiap hari hanya pergi kerja pulang kerja, tanpa ada kegiatan lain. Menulis, baik untuk blog maupun untuk buku, minimal bermanfaat bagi diri saya sendiri, syukur-syukur juga memberikan manfaat bagi orang lain.

Tidak sedikit tulisan-tulisan saya di blog ini telah memberikan pencerahan kepada para pengunjung dan pembacanya. Satu contoh paling sederhana adalah ketika pada suatu hari saya mencari informasi tentang biaya pendidikan di sebuah sekolah SMK. Tak satu pun informasi saya dapatkan saat ngubek-ubek mesin pencari Google.

Lalu setelah saya mengalaminya sendiri, saya menceritakan pengalaman tersebut dan mengunggahnya di blog ini. Sejak saat itu, banyak sekali orang tua calon siswa SMK tersebut yang mendapatkan informasi dari pengalaman yang saya publikasikan di blog. Tak terhitung lagi mereka-mereka yang menghubungi saya secara pribadi melalui WhatsApp, email, Facebook, dan Instagram.

Ada pula yang mendapatkan pencerahan tentang cara transfer data Xiaomi ke laptop, cara mengatasi keracunan gadung, cara memasak nasi di atas kompor gas, sekolah internasional di Yogyakarta, toilet training WC jongkok, dan masih banyak lagi 🙂 . Jujur saya katakan bahwa ada kepuasan tersendiri saat saya bisa membantu orang lain melalui tulisan.

Ada sebuah ungkapan yang berbunyi “Kamu adalah siapa temanmu”. Oleh karena saya terjun ke dunia menulis (blog dan buku), maka saya pun berteman dengan banyak teman-teman blogger dan penulis buku. Hingga saat ini saya telah bergabung dalam beberapa komunitas blogger dan penulis buku, tidak hanya satu dua komunitas.

Tergabung dalam komunitas bermanfaat untuk menjaga semangat dan konsistensi menulis. Setiap melihat teman-teman blogger berbagi tulisan-tulisan baru, saya menjadi terpacu untuk membuat tulisan baru juga. Begitu pun setiap melihat teman menerbitkan buku baru, saya menjadi terpacu untuk terus produktif menulis.

Sekarang sudah bukan jamannya berkompetisi, tetapi eranya berkolaborasi. Dengan bergabung pada komunitas yang tepat, banyak hal positif yang saya dapatkan, selain memiliki banyak teman dari berbagai penjuru nusantara hingga belahan dunia lain. Ada proyek blog atau menulis buku, yuk dikerjakan bersama-sama, hasilnya pun dinikmati bersama.

Mungkin saya tidak bisa beramal banyak secara materi, karena itu saya mengumpulkan amal melalui tulisan-tulisan saya yang bermanfaat. Saya sangat bersyukur ketika banyak orang yang mendapatkan informasi dan pencerahan dari tulisan-tulisan saya di blog yang mereka temukan melalui mesin pencari Google.

See? Empat belas tahun sudah saya ngeblog dan hingga hari ini saya masih menulis. Insyaallah saya pun akan terus menulis 🙂

Selamat Hari Blogger Nasional 2021!

Happy blogging!

Salam,

signature-fonts

 

Related Posts:

2 thoughts on “Kenapa Masih Menulis?”

  1. semua orang pasti menulis karena sudah dilakukan dari sekolah dasar
    saat kuliah juga mereka menulis tugas akhir atau skripsi atau tesis
    jadi menulis pasti tetap ada walau medianya tidak harus di blog

Leave a Reply

Your email address will not be published.