Dear Wiwin…

dear wiwin

Dear Wiwin, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, apa kabarmu hari ini? Semoga senantiasa sehat walafiat dan bahagia yaaa.. Aamiin…

Wiwin,

Aku pengin kita flashback ke masa kecilmu. Tahukah kamu bahwa dirimu hebat? Kamu yang terlahir sehat dan normal jiwa dan raga, tiba-tiba harus mengalami kelumpuhan di kaki kirimu. Tetapi kamu tidak pernah minder, tidak pernah malu. Kamu tetap bisa berbaur dengan teman-temanmu dari berbagai latar belakang. Kamu tidak pernah marah atau menyalahkan siapa pun. Kamu sangat bersyukur karena memiliki bapak dan ibu yang sangat mensupportmu. Merekalah yang pertama kali menanamkan kepercayaan dirimu. Percaya dirimu serta prestasi-prestasimu membuat orang lain tidak meremehkanmu.

Satu hal yang membuatmu sedih di masa kecil hanyalah saat harus jauh dari Bapak. Padahal Bapak adalah sosok lelaki pertama yang kamu kenal, beliau adalah cinta pertamamu. Dari beliaulah kamu memiliki gambaran akan seperti apa pendamping hidupmu kelak. Sayangnya sejak umur 6 tahun kamu harus long distance relationship dengan beliau. Tidak hanya berpisah dengan Bapak, sejak SMP kamu juga harus tinggal terpisah dari ibu dan adik-adikmu. Sejak itulah hidupmu yang sebenarnya dimulai.

Kehidupan masa kecil hingga masa remaja dalam keprihatinan versimu telah menempamu menjadi perempuan mandiri.

Wiwin sayang,

Fisikmu memang memiliki kekurangan, tapi Tuhan memberimu kelebihan di sisi lain. Kelebihan-kelebihanmu itu membuatmu hingga seperti sekarang ini. Yang aku tahu kamu tidak banyak berucap. Apa yang kamu inginkan, kamu tancapkan dalam pikiran dan anganmu, lalu secara konsisten dan gigih berusaha kamu wujudkan. Alhamdulillah ya, Win, bisa terwujud. Tentang keluarga yang ingin kamu bangun, tentang karir dan pekerjaan, tentang hobi dan kegiatanmu, dan lain-lain.

Tanpa orang lain harus tahu, kamu selalu mensyukuri apa yang Tuhan berikan padamu dan memohon ampun atas khilaf dan dosa yang pernah kamu lakukan. Kamu selalu mengambil hikmah dan pelajaran dari masa lalu. Kamu tidak menyalahkan masa lalu yang pernah membuatmu terjerumus ke dalam hal-hal yang kata orang itu negatif. Menurutmu, itu adalah bagian dari jalan hidup yang harus kamu lalui. Menurutmu, Tuhan menunjukkanmu akan “sesuatu” agar kamu lebih berhati-hati nantinya, serta agar lebih bijak dalam mengasuh anak-anakmu, juga dalam berhubungan dengan sesama manusia.

Eh Win,

Kamu tahu gak? Tidak mudah lo aku menulis surat untukmu. Beberapa kali aku harus ambil jeda. Tapi, aku harus menulis surat ini. Aku kangen ngobrol denganmu. Aku kangen mengungkapkan apapun yang pernah, sedang, dan ingin kamu rasakan. Ijinkan aku melanjutkan ya…

Kamu beberapa kali bilang bahwa berat badanmu mencapai ideal, badanmu cenderung tumbuh ke samping. Ibumu berkomentar bahwa mungkin itu efek dari kamu di-steril (baca: tubektomi) setelah melahirkan Dimas. Salah seorang kolegamu bilang bahwa itu karena kamu sudah lebih semeleh. Aura wajah dan senyumanmu sudah jauh lebih cerah daripada beberapa tahun yang lalu.

Semeleh-mu membawa kehidupan keluargamu jauh lebih baik. Air mata tidak lagi mengalir. Orang lain tidak pernah tahu bahwa jauhhhh di dalam lubuk hatimu, kamu sangat bersyukur kepada Tuhan karena anak pertamamu bisa memeluk inner child-nya. Keluargamu sudah kembali utuh. Betapa bahagia hatimu saat bisa berkumpul bersama pada Lebaran kemarin. Bahkan saat kemarin malam bisa berempat menonton film Top Gun: Maverick di Studio XXI Sleman City Hall.

Semeleh-mu menghadirkan keajaiban-keajaiban dan keberlimpahan dalam hidupmu. Saat ini Tuhan tidak memberimu kekayaan harta benda, tapi saat kamu butuh Tuhan selalu hadir memberikan apa yang kamu butuhkan. Betapa bahagia ya, Win, menjalani hidup tanpa banyak mengeluh. Bagimu setiap masalah pasti ada solusinya, Tuhan memberikan ujian kepada hambaNYA tidak pernah melebihi batas kemampuannya. Satu per satu permasalahanmu bisa terselesaikan. Selamat ya, Win!

Sudah cukup kamu memikirkan orang lain. Sudah cukup kamu membuat orang lain bahagia. Sudah sangat tepat waktunya kini kamu memikirkan dirimu sendiri. Gapapa kok terlambat. Itu ‘kan versi manusia. Tuhanlah yang lebih tahu kapan saat yang tepat kamu menjadi pribadi yang utuh nan bahagia.

dear Wiwin,

Aku tahu bahwa kamu juga mengangankan akan kehidupanmu 4-5  tahun lagi. Saat itu Satria sudah menjadi anak yang mandiri. Dia sudah menjadi sarjana. Ia akan sangat sibuk dengan karir dan kehidupannya sehingga sudah jarang menemanimu. Toh itu bagian dari doa dan harapanmu, Win. Kamu ingin anakmu bisa melanglang buana. Kamu ingin anakmu mengenal belahan dunia lain. Siapa tahu karirnya kelak membawanya keliling dunia.

Tapi kamu tidak perlu sedih ‘kan, Win. Karena masih ada Dimas di sisimu, saat itu ia masih duduk di bangku kelas 5-6 SD. Tuhan memang sangat baik. Ia memberikan Dimas agar kamu tidak kesepian dikarenakan Satria akan menjalani kehidupannya sendiri. Berdoa ya, Win, agar Tuhan masih mengijinkanmu menemani Dimas hingga saatnya ia juga mandiri seperti kakaknya.

O iya, kamu juga bilang padaku bahwa di masa tua nanti kamu tidak ingin membebani anak-anakmu. Kamu ingin menikmati masa senja nan bahagia berdua dengan suamimu. Kamu ingin anak-anakmu menikmati kehidupannya sendiri namun tetap menjaga komunikasi denganmu. Syukur-syukur masih bisa sering-sering mencium tanganmu, kalau pun tidak toh masih bisa melalui voice call atau video call. Mau tidak mau kamu yang harus bisa mengikuti jamannya, doakan terus agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang beradab.

Wiwin yang baik,

Selagi masih kuat, teruslah berkarya, teruslah memberi manfaat bagi sesama. Bisa dibilang karirmu sudah mentok, toh kamu juga tidak bercita-cita menjadi bos, hehehe… Yang masih bisa terus bertambah adalah hak-hakmu. Aku setuju dengan prinsipmu, yaitu lakukan yang terbaik, do the best. Bukan jumlah penghasilan yang menentukan performance-mu. Tetapi karena performance-mulah maka jumlah penghasilan akan mengikuti. Always do your best, Wiwin!

Satu lagi, teruslah menulis ya, Win. Setidaknya menulis untuk blog atau buku atau yang lainnya akan turut menjaga kewarasanmu. Jangan sampai waktumu habis untuk bekerja bekerja dan bekerja. Nikmati juga hobimu. Hidupmu harus seimbang, Win! Kamu harus bahagia!

Sudah ya, Win, segini saja dulu. Terima kasih, kamu sudah mau meluangkan waktu membaca surat ini. Sampai jumpa lagi di surat-suratku yang akan datang 🙂 . Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

***

Di atas tadi adalah surat yang saya tulis untuk diri saya sendiri. Untuk diri saya di masa lalu, masa kini dan masa depan. Ada rasa lega setelah surat itu jadi. Saya makin erat memeluk diri. Saya makin mencintai diri saya sendiri.

Tahun 2021 kemarin saya terlibat dalam proses pembuatan buku “Luka Performa Bahagia”. Buku itu ditulis oleh Intan Maria Lie dan Adi Prayuda. Dari buku tersebut saya mengenal lebih dalam tentang inner child. Ternyata kehidupan dewasa seseorang dipengaruhi oleh kehidupan masa kecilnya. Ketika seseorang sulit menemukan kebahagiaan, ada baiknya menengok kembali ke dalam diri masa kecil. Barangkali ada trauma atau luka di masa kecil yang belum sembuh sehingga mempengaruhi kehidupan dewasanya.

luka performa bahagia

Buku “Luka Performa Bahagia” karya Intan Maria Lie dan Adi Prayuda (foto koleksi pribadi)

Jika menengok ke masa kecil, yang saya lihat adalah kehidupan masa kecil yang penuh kebahagiaan. Masa-masa saya bisa bermain sepuasnya bersama ketiga adik laki-laki saya juga dengan teman-teman sebaya. Memang ada masa dimana saya harus LDR dengan Bapak dan hidup terpisah dari Ibu dan adik-adik, namun itu tidak mengganggu pertumbuhan saya, justru menempa saya menjadi pribadi yang mandiri.

“Bahagia itu membiarkan diri menyadari akan pilihan-pilihan hidup dan segala konsekuensinya.” – IMH

Quote yang ditulis oleh Intan Maria Lie dalam buku “Luka Performa Bahagia” pada Bab 1 halaman 1 itu makin memotivasi saya untuk memilih bahagia di masa kini dan masa depan. Masa kecil dan masa lalu adalah bagian dari proses perjalanan saya menuju bahagia.

Saya berbuat maka saya siap dengan konsekuensinya. Jalani hidup tanpa banyak mengeluh. Setiap masalah hadir pasti satu paket dengan solusinya. Tuhan memberikan ujian dan cobaan tidak pernah melebihi batas kemampuan hambaNYA.

“Selamat menikmati hidupmu yang bahagia, Wiwin, terima kasih telah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh!”

 

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *