Skip to content

Aku Berhak Bahagia (bagian 4)

aku berhak bahagia

Aku Berhak Bahagia – Allah SWT selalu menganugerahkan sesuatu tepat pada waktunya. Dia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Anak keduaku hadir untuk menemani hari-hariku bersama suami. Ya, Allah tahu bahwa aku akan kesepian karena anak pertama sudah menginjak dewasa dan memilih hidup mandiri, lalu Ia memberiku teman kecil. Masyaallah.

Terkadang aku merasa sudah berumur saat menyadari bahwa aku memiliki anak yang sudah berumur hampir 19 tahun. Tetapi aku akan merasa masih muda saat aku menyadari bahwa aku juga memiliki anak yang masih berumur hampir 4 tahun. Ya, kehadiran anak kedua membuatku merasa selalu muda!

Kehadirannya membuat hidupku lebih tenang. Kehadirannya telah membawa banyak perubahan ke arah lebih baik pada pribadiku dan pribadi suamiku. Kami menjadi lebih sabar dalam menjalani hidup. Hingga kemudian kami memutuskan untuk hijrah. Ya, ada dua bentuk hijrah yang aku lakukan bersama suami dan anak-anak.

Hijrah pertama di awal tahun 2020 adalah kuajak suami dan anak-anakku untuk pindah rumah. Dari rumah besar di dekat kota, pindah ke rumah mungil yang agak jauh dari kota. Aku memutuskan untuk melepaskan semua kenangan sampai dengan tahun 2019. Kenangan yang membuat aku sering menangis dan cukup membebani pundakku. Aku ingin bangkit. Aku ingin membenahi kehidupanku dalam semua aspek.

Hijrah memang tidak mudah karena artinya aku keluar dari zona nyaman menuju zona baru yang belum dikenal. Tetapi ternyata di zona baru aku menemukan kemudahan-kemudahan. Aku mendapatkan hal-hal baru yang membuat hatiku merasa lebih tenang. Aku percaya bahwa kemudahan yang aku dapatkan ini tidak lepas dari niatku yang kuat dan keikhlasan hatiku sejak awal. Semua itu memberikan dampak positif kepada aku, suami dan anak-anakku.

Dalam bulan Ramadhan tahun 2020 ini aku melakukan hijrah kedua. Aku melepaskan bisnis jaringan yang telah aku bangun selama tigabelas tahun. Bisnis jaringan dimana aku membangun karir dari seorang member biasa hingga menjadi seorang leader. Tentu saja bukan hal mudah bagiku melepaskan bisnis dan karir yang pernah aku bangun. Butuh waktu satu tahun aku mempertimbangkan hal tersebut, hingga akhirnya aku mengambil keputusan: lepaskan.

Keputusan itu membuatku lega. Sejak itu, aku merasakan kehidupanku menjadi lebih tenang. Waktu untuk suami, anak-anak, dan untuk diriku sendiri pun menjadi lebih leluasa. Menurutku, bisnis ini bagus bagi orang lain, namun belum tentu bagus untukku. Makin kukejar impian yang konon bisa aku wujudkan melalui bisnis tersebut nyatanya impian itu makin jauh meninggalkanku. Aku memang mampu menjalankannya hingga mendapatkan omzet ratusan juta rupiah setiap bulan. Tetapi jika aku merasa tidak tenang, lebih baik aku lepaskan.

Aku yakin dan percaya bahwa Gusti Allah akan menggantinya dengan rejeki lain yang membuat hatiku lebih tenang. Dengan penuh kesadaran aku sudah siap hidup dari gaji bulanan saja. Hari-hari berlalu, keyakinanku bahwa Allah akan mengganti rejekiku terbukti tiga bulan kemudian. Yaitu ada pembaharuan kontrak kerjaku. Tentu saja kabar baiknya adalah gajiku dinaikkan!

***

Kelemahanku adalah sumber kekuatanku. Hal ini kusadari setelah aku menggali dan mengumpulkan potensi yang ada pada diriku. Aku lupa tepatnya kapan. Kalau tidak salah, itu kulakukan ketika aku masih menjalankan bisnis jaringan. Di sana aku memiliki semangat jika orang lain bisa maka aku juga pasti bisa. Karena itulah aku getol menggali dan mengumpulkan potensiku. Aku percaya bahwa Tuhan memberiku kekurangan fisik tentu ada maksud di balik itu. Oleh karena itu, akan lebih bijak jika aku menggunakan dan mengembangkan potensiku alih-alih meratapi nasib.

Aku tipe orang yang tidak mudah terseret arus yang sedang tren (anti mainstream). Aku lebih suka menjadi diriku sendiri meskipun di mata orang lain tampaknya itu receh dan jadul. Dalam berbagai kesempatan kerjasama yang imbalannya berupa uang, aku menawarkan harga sesuai dengan output yang bisa aku berikan. Aku berani menentukan harga karena aku tahu kapasitas dan kapabilitasku. Aku memiliki harga diri yang tidak receh.

Aku berhak menghargai diriku sendiri. Toh, di mana pun aku bertugas, baik formal maupun informal, selalu kutunjukkan dedikasi dan integritasku. Aku lakukan yang terbaik. Karena aku percaya bahwa dengan melakukan yang terbaik yang aku mampu, Tuhan sudah menyiapkan imbalannya. Atau bisa dikatakan juga itulah salah satu ikhtiarku untuk menjemput kebahagiaan.

***

Kemampuan mengenal diri sendiri serta menghargainya, membuatku memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Aku bersyukur dibesarkan oleh bapak dan ibu yang ikhlas menerima diriku apa adanya. Beliau berdualah yang pertama memberikan kasih sayang, dukungan mental dan spiritual, serta semangat dan kepercayaan diri kepadaku. Aku yakin bahwa mereka memiliki kesedihan tersendiri dengan memiliki anak penyandang difabel, tetapi mereka tidak pernah menunjukkanya di depanku.

Sejak kecil aku sudah diberi tanggung jawab yang besar oleh orang tuaku, yaitu menjaga dan mengasuh ketiga adik laki-lakiku. Saat tinggal dengan keluarga bibi, aku juga diberi tanggung jawab yang tak kalah besar yaitu merawat bibi saat aku sudah pulang sekolah. Di dunia bisnis aku mendapat tanggung jawab mengelola jaringan bisnis karena karirku membawaku menjadi seorang leader. Di dunia kerja formal, aku diberi tanggung jawab besar juga untuk mengelola administrasi perkantoran dan administrasi keuangan.

Belajar dari setiap tanggung jawab yang diberikan kepadaku, hal itu menumbuhkan rasa percaya diriku dari waktu ke waktu. Aku yang dulu adalah perempuan yang minder, tidak berani berbicara di depan umum. Begitu nyemplung di dunia bisnis, mentalku digembleng. Alhasil aku berani berbicara di depan audiens yang jumlahnya ratusan orang.

Tingkat kepercayaan diri yang tinggi ini membuatku berani memantaskan diri untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Termasuk dalam urusan jodoh. Meskipun secara fisik aku cacat, tetapi aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat aku akan mendapatkan suami yang sempurna jasmani dan rohani. Aku tidak membutuhkan pasangan yang kaya harta, tetapi pasangan yang bisa menjagaku dan mendampingiku. Alhamdulillah, akhirnya aku bertemu dengan seorang pria yang kini menjadi suamiku.

(bersambung ke bagian 5)

Yogyakarta, 18 Juni 2021

(Tulisan ini telah dibukukan dalam antologi “Aku Berhak Bahagia”, dengan judul “Kujalani Hidup Atas Skenario-NYA”, diterbitkan oleh Arvita Media, edisi 21 September 2021)