Lompat ke konten
Home » Pendidikan » Jenis-Jenis Kurikulum Internasional yang Perlu Orang Tua Ketahui

Jenis-Jenis Kurikulum Internasional yang Perlu Orang Tua Ketahui

kurikulum internasional

Jika Anda adalah orang tua yang sedang sibuk mencari sekolah terbaik untuk anak, maka salah satu hal yang perlu Anda pahami adalah fakta bahwa banyak sekolah di Indonesia, terutama sekolah internasional, menerapkan kurikulum pendidikan yang berbeda satu sama lain.

Ada banyak jenis kurikulum internasional di luar sana. Oleh karena itu, agar Anda tidak merasa kewalahan dengan banyaknya informasi, di sini kami merangkum beberapa kurikulum yang paling umum dan terkenal yang diadopsi oleh sekolah-sekolah internasional ternama di Indonesia.

Kurikulum Montessori

Kurikulum ini mengadaptasi teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang pendidik asal Italia yang terkemuka pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Karakteristik kurikulum ini menekankan pada aktivitas bimbingan diri bagi siswa. Selain itu, pendidik juga melakukan observasi klinis.

Lebih lanjut, dalam kurikulum ini, pendidik sering disebut sebagai mentor atau direktur. Karakteristik lain dari kurikulum Montessori adalah penerapan peralatan belajar mandiri untuk memperkenalkan berbagai konsep.

Pendidikan Montessori melibatkan aktivitas bebas di dalam ‘lingkungan yang dipersiapkan’ (prepared environment), yang berarti lingkungan pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik dasar manusia, karakteristik spesifik anak pada usia yang berbeda, serta kepribadian masing-masing individu.

Fungsi dari lingkungan tersebut adalah untuk membantu dan memungkinkan anak mengembangkan kemandirian di segala bidang sesuai dengan arahan psikologis dari dalam diri mereka.

Kurikulum Internasional Cambridge

Kurikulum Internasional Cambridge berasal dari Inggris dan berada di bawah pengawasan langsung Universitas Cambridge. Dalam kurikulum ini, anak-anak dilatih untuk memiliki kemampuan analitis, kritis, serta keterampilan berbicara di depan umum (public speaking). Terdapat sekitar seribu sekolah di 160 negara yang telah mengadaptasi kurikulum ini, termasuk Indonesia.

Selain membuat siswa mampu bersaing secara global, kurikulum ini memiliki beberapa keuntungan, di antaranya:

  1. Siswa dapat berbicara bahasa Inggris dengan fasih.
  2. Siswa memiliki perspektif internasional dan wawasan yang lebih luas.
  3. Siswa mendapatkan sistem pendidikan yang modern dan mutakhir.
  4. Siswa memiliki kesempatan untuk belajar di kampus-kampus terbaik dunia.

Banyak sekolah di seluruh dunia mengadopsi Kurikulum Internasional Cambridge sebagai jalur pengantar bahasa Inggris dalam program pendidikan dwibahasa (bilingual). Metode pengajaran dwibahasa sangat bervariasi, namun fleksibilitas kurikulum ini memungkinkan peserta didik untuk mengejar kualifikasi Cambridge melalui pengantar bahasa Inggris, sembari tetap mengikuti kurikulum nasional yang diwajibkan oleh pemerintah negara masing-masing.

Kurikulum International Baccalaureate (IB)

Kurikulum International Baccalaureate (disingkat IB) adalah salah satu kurikulum yang diadaptasi oleh banyak sekolah internasional di Indonesia. Kurikulum ini berasal dari Jenewa, Swiss, dan sudah ada sejak tahun 1960.

Kurikulum ini mencakup empat tingkatan pendidikan formal:

  1. IB Primary Years Programme (PYP) untuk usia 3 hingga 12 tahun.
  2. IB Middle Years Programme (MYP) untuk usia 11 hingga 16 tahun.
  3. IB Diploma Programme (DP) untuk usia 16 hingga 19 tahun.
  4. IB Career-Related Programme (CP) untuk usia 16 hingga 19 tahun.

Kerangka kerja dalam kurikulum IB biasanya sengaja dibuat fleksibel, sehingga memberdayakan siswa, guru, dan sekolah untuk menyesuaikan pendidikan yang sesuai dengan budaya, konteks, kebutuhan, minat, dan kemampuan belajar mereka.

Pendidikan IB bertujuan untuk menggali dan mengembangkan potensi terbaik dalam diri setiap anak, karena kurikulum ini bertujuan mencetak siswa dengan keterampilan yang dapat diterapkan di berbagai bidang (transferable skills) dan siap menghadapi masa depan melalui pendidikan yang diakui secara internasional. Hal ini mempersiapkan mereka untuk menjadi warga dunia masa depan yang siap tampil sebagai pemimpin dan berkontribusi bagi dunia.

International Primary Curriculum (IPC)

International Primary Curriculum (IPC) biasanya berfokus pada pengembangan holistik siswa melalui pembelajaran yang menyenangkan, relevan, dan bermutu tinggi (rigorous); yang tujuannya adalah untuk membentuk siswa menjadi individu yang kompeten secara global, sadar sosial, dan termotivasi untuk dapat berkontribusi secara positif kepada dunia.

Dirancang agar menarik bagi pelajar usia sekolah dasar, IPC merangkul sifat pembelajaran yang transformatif karena kurikulum ini juga menekankan pentingnya meningkatkan cara belajar itu sendiri.

IPC mencakup Pembelajaran Akademik dan Personal, yang mendukung siswa untuk berkembang baik di dalam maupun di luar kelas. Sementara itu, fokus IPC pada pembelajaran global yang saling terhubung membantu siswa membangun pemahaman tentang orang-orang dari belahan dunia lain. Pedagogi progresif yang berpusat pada pelajar ini telah dikembangkan secara historis berdasarkan pemahaman neurosains (ilmu saraf) terkini.

Lebih jauh lagi, IPC memungkinkan siswa untuk membuat hubungan antara ruang kelas, pembelajaran sebelumnya, dan pengalaman hidup dengan fokus pada metakognisi, yang mendorong siswa untuk merenung secara mendalam pada setiap tahapan perjalanan belajar mereka.

Kurikulum Singapura (SPC – Singaporean Primary School Curriculum)

Seperti namanya, kurikulum ini berasal dari Singapura. Tujuan utama dari SPC adalah untuk mempersiapkan siswa agar mampu bersaing di kancah internasional. Mengingat bagaimana ekonomi global membuka peluang besar bagi generasi muda untuk mengejar karier di luar negeri, fokus utama SPC selanjutnya adalah pembelajaran fleksibel yang didasarkan pada kemampuan, potensi, dan minat siswa.

Dengan mengadopsi SPC sebagai kurikulum sekolah, siswa diharapkan dapat lebih mengekspresikan diri sekaligus menampilkan bakat-bakat terpendam mereka. Hal tersebut nantinya akan bermanfaat dalam menentukan tujuan dan aspirasi para siswa.

SPC menekankan pembelajaran melalui mata pelajaran inti seperti Bahasa Inggris, Bahasa Ibu (Mother Tongue), Matematika, Sains, Seni, Musik, Pendidikan Jasmani, Studi Sosial, serta Pendidikan Karakter dan Kewarganegaraan. Selain itu, kurikulum ini berfokus pada tiga ranah yang saling terhubung: Keterampilan Pengetahuan (Knowledge Skills), Keterampilan Hidup (Life Skills), dan Pembelajaran Berbasis Mata Pelajaran (Subject-Based Learning).

Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) menyediakan kerangka kerja kurikulum dan sumber daya bagi sekolah-sekolah untuk memastikan bahwa SPC diterapkan secara efektif.

Kurikulum IEYC (International Early Years Curriculum)

Kurikulum ini biasanya diterapkan pada pendidikan anak usia dini, yang menitikberatkan pada pengembangan yang berpusat pada anak. Kurikulum ini juga membekali pengajar dengan metode pembelajaran yang mendukung pengalaman anak-anak melalui lingkungan dan kreativitas. Dengan kurikulum ini, anak-anak diajarkan tentang interaksi aktif. Menariknya, kurikulum ini juga melibatkan orang tua siswa sebagai kunci dalam perjalanan belajar anak.

Melalui IEYC, siswa diajarkan tentang pentingnya terlibat secara aktif, karena mereka didorong untuk membantu guru dalam menanggapi pengalaman-pengalaman yang berawal dari inisiatif anak itu sendiri. Oleh karena itu, kurikulum ini juga mengajarkan anak-anak sejak usia dini tentang pentingnya inisiatif dan kemampuan berpikir.

sumber: 2025-2026 | Education Directory