Tak pernah terbayangkan oleh saya ketika kemudian saya harus mengonsumsi obat rutin karena hipertensi. Tak pernah terbayangkan menjadi pasien Prolanis. Simak yuk pengalaman saya berikut ini dari pertama kali terindikasi hipertensi hingga penanganannya.
Pertama Kali Tensi Tinggi
Pertama kali saya mengalami tekanan darah tinggi adalah ketika berada di meja operasi. Beberapa saat menjelang kelahiran anak kedua, Dimas. Tensi yang biasanya stabil di angka 120/70, tiba-tiba melonjak menjadi 170 (Sistolik). Diastolik berapa, entahlah! Entah apa penyebabnya, mungkin disebabkan nervous karena akan menjalani SC di usia yang sudah rentan.
Sejak kelahiran anak kedua itu, setiap kali cek di klinik atau rumah sakit, tekanan darah saya selalu di atas 140/90 mmHg. Angka tersebut menunjukkan hipertensi!
Vertigo Parah
Kecenderungan hipertensi tersebut tidak terlalu saya pikirkan. Selama tidak mengganggu aktivitas, saya merasa baik-baik saja. Saya berpikir, saat dicek cenderung tinggi mungkin karena saya memang sedang sakit atau tidak fit.
Beberapa kali saya mengalami vertigo, namun karena tidak terlalu parah dan sembuhnya cepat, saya pikir ya saya masih baik-baik saja. Pun itu bukan pengaruh dari tekanan darah yang cenderung tinggi. Itu menurut saya.
Pada suatu hari, tepatnya 13 Agustus 2025, saya mengalami vertigo parah. Mau tidak mau saya pun ke dokter Faskes 1 di Klinik Keluarga Sembada. Diagnosa: other peripheral vertigo. Tekanan darah saya 154/100 mmHg. Cenderung tinggi! Oleh dokter, saya dibekali surat istirahat untuk 14 Agustus 2025, serta beberapa obat antara lain Amlodipine 5 mg, Betahistine 6 mg, Lansoprazole 30 mg, dan Ondansetron HCl Tablet 4 mg.

Tetap Bekerja Meski Vertigo
Tanggal 14 Agustus 2025 saya tetap masuk kerja. Sepertinya karena hari itu ada hal yang urgent sehingga tidak bisa saya tinggalkan. Sehingga meskipun ketika berjalan saya merasa melayang alias sempoyongan, namun saya tetap pergi ke kantor.
Kondisi seperti itu kok masih sanggup kerja? Iya, karena jika sudah duduk dan fokus di depan komputer saya tidak merasa sempoyongan. Saya mampu bekerja. Otak saya masih bisa bekerja dengan baik. Tetapi jika menunduk, misalnya untuk menulis atau mengambil sesuatu, barulah saya merasa dunia berputar.
Alhasil, saya baru mengambil istirahat total di hari berikutnya setelah yakin bahwa pekerjaan bisa saya tinggalkan untuk sementara waktu hingga kondisi saya lebih baik. Tak lupa tentu saja sambil terus mengonsumsi obat-obatan yang dikasih oleh dokter.
Prolanis
Fix sejak 13 Agustus 2025 itu saya harus mengonsumsi Amlodipine 5 mg. Awalnya oleh dokter saya dikasih per 10 tablet untuk 10 hari. Jadi, ketika obatnya habis, saya check-up ke klinik, kemudian diresepi Amlodipine 5 mg lagi untuk 10 hari ke depan.
Agar bisa mendapatkan obat, khususnya Amlodipine, secara teratur dalam jangka panjang, oleh dokter saya diikutkan Prolanis.
Prolanis adalah kependekan dari Program Pengelolaan Penyakit Kronis dari BPJS Kesehatan. Program ini dibuat bukan untuk mengobati penyakit yang datang sekali lalu hilang (seperti flu), melainkan untuk membantu orang-orang dengan penyakit yang “setia” menemani dalam jangka panjang agar tetap sehat dan produktif.
Program ini difokuskan untuk penderita dua penyakit “langganan” masyarakat, yaitu Diabetes Melitus (kencing manis/gula darah tinggi) dan Hipertensi (tekanan darah tinggi).
Tujuannya bukan cuma kasih obat, tapi mencegah komplikasi. BPJS tidak ingin pasien hipertensi sampai kena stroke, atau pasien diabetes sampai harus cuci darah. Prolanis menjaga agar kondisi pasien tetap stabil.
Karena penyakit kronis butuh disiplin tinggi, dengan ikut Prolanis, pasien jadi punya “komunitas” sehingga merasa tidak sendirian, lebih terpantau oleh dokter, dan semua biayanya ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan.
Saat memulai Prolanis, saya dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam di RS Panti Nugroho, dengan diagnosa secondary hypertension (hipertensi sekunder). Hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh penyakit lain yang sudah ada sebelumnya.
Berbeda dengan hipertensi biasa (primer) yang biasanya muncul karena faktor usia, keturunan, atau gaya hidup (terlalu banyak garam/kurang olahraga), hipertensi sekunder ini ibarat sebuah “gejala” dari masalah kesehatan yang lebih tersembunyi.
Amlodipine 5 mg
Dengan mengikuti Prolanis, mau tidak mau, saya harus rutin mengonsumsi Amlodipine 5 mg selama sebulan berturut-turut. Jika obat dalam satu bulan sudah habis, balik lagi ke dokter untuk dicek dan diberi obat lagi.
Pertama kali diperiksa oleh dokter penyakit dalam di RS Panti Nugroho, tanggal 17 September 2025, tekanan darah saya adalah 158/98 mmHg. Tinggi! Oleh dokter saya diberi 2 macam obat (Amlodipine Besilate 5 mg dan Bisoprolol Fumarate) dan vitamin B12.

Bisoprolol Fumarate ini hanya saya konsumsi lima hari karena saya mengalami efek samping, yaitu setiap hari saya seperti melayang (sempoyongan). Bayangkan: tidak vertigo, tetapi dibuat sempoyongan. Dalam kondisi seperti itu saya tetap nekad pergi ke kantor!
Akhirnya, tanpa perlu bertanya ke dokter, pengonsumsian obat tersebut saya hentikan sendiri. Barulah saat check-up lagi, saya sampaikan keluhan saya sebagai alasan penghentian obat tersebut.
Pemeriksaan kedua di RS Panti Nugroho, tanggal 20 Oktober 2025, tekanan darah saya di angka 128/79 mmHg. Kali ini hanya dibekali Amlodipine 5 mg dan vitamin B-Complex.
Pemeriksaan ketiga masih di RS Panti Nugroho, tanggal 21 November 2025, tekanan darah saya di angka 120/82 mmHg. Masih sama, saya dibekali Amlodipine 5 mg (hanya untuk 10 hari ke depan) dan vitamin B-Complex.
Karena tekanan darah saya selama tiga bulan berturut-turut stabil dibawah 130, akhirnya kasus saya dikembalikan ke Faskes 1 (Klinik Keluarga Sembada). Tidak perlu balik lagi ke RS Panti Nugroho.

Perubahan Pola Makan
Bagaimana saya bisa menjaga kestabilan tekanan darah (sistolik) di bawah 130 mmHg? Salah satunya adalah perubahan pola makan. Sepulang dari pemeriksaan pertama di RS Panti Nugroho, suami saya langsung ambil kendali atas perawatan saya. Dia yang mengatur menu makan saya. Saya tidak boleh makan sembarangan.
Sejak saat itu, nasi putih saya diganti dengan nasi merah dan nasi hitam secara bergantian. Sayur dan lauknya, suami saya yang memasak. Enak tidak enak, saya anggap enak. Saya ingin sembuh. Saya ingin lepas dari obat apapun.
Selama tiga bulan berturut-turut, setiap hari suami mengirimkan makan siang untuk saya. Tidak ada pantangan apapun, karena kuncinya adalah pada pengolahan makanan tersebut. Khusus untuk garam, jelas sangat dikurangi. Saya menjadi biasa makan makanan yang hambar, hehehe…

.
Bersahabat dengan Hipertensi
Tanggal 30 November 2025 saya kembali ke Faskes 1 di Klinik Keluarga Sembada. Kebetulan hari itu bertepatan dengan habisnya Amlodipine 5 mg dari RS Panti Nugroho. Saat itu tekanan darah saya adalah 125/82 mmHg. Diagnosa saya berubah menjadi essential (primary) hypertension. Yaitu tekanan darah tinggi yang muncul secara perlahan selama bertahun-tahun tanpa ada satu penyakit spesifik yang memicunya. Sekitar 90–95% kasus darah tinggi di dunia masuk dalam kategori ini.
Lanjut ya… Karena tekanan darah (sistolik) stabil di bawah 130 mmHg, saya bertanya ke dokter apakah sudah boleh dosis obat saya dikurangi. Dokter belum kasih izin, beliau malah bilang untuk diteruskankan hingga total 6 bulan. Artinya, hingga Maret 2026 dong ya!
Terakhir tanggal 5 Januari 2026 saya kembali check-up. Sayangnya saya tidak mencatat berapa tekanan darah saya saat itu. Namun, masih stabil di bawah 130 mmHg kok. Nah, dokter klinik yang sekarang ini siap menurunkan dosis obat saya. Saya dibawain 15 tablet Amlodipine 5 mg untuk diminum secara selang-seling.
Alhamdulillah, sekarang saya sudah merasa jauh lebih baik daripada 4-5 bulan yang lalu. Namun, saya tetap harus berhati-hati, jangan sampai kambuh lagi. Gapapa bersahabat dengan hipertensi, namun sebisa mungkin saya ingin lepas dari konsumsi obat jangka panjang.
Berprofesi sebagai ibu bekerja full-time, ibu rumah tangga, mahasiswa aktif di UT, dan freelance blogger. Baginya blog adalah ruang berbagi inspirasi dan media menulis untuk bahagia. Blog ini juga terbuka untuk penawaran kerjasama. Hubungi kami melalui email atau WhatsApp. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini.
