Menghargai Ibu

Dua tahun yang lalu saya menuliskan quote ini di status Facebook:

Menghargai Ibu adalah mensyukuri lalu meneladani ketangguhannya, yang dibalut cinta dan kelembutan. #Intisari

Saya terlahir dari rahim seorang ibu muda yang tangguh dan ulet. Di usianya yang ke 23 beliau melahirkan saya, disusul kemudian ketiga adik laki-laki saya. Ibu membesarkan keempat anaknya dalam kondisi harus long distance relationship dengan bapak, karena sejak saya usia 6 tahun bapak harus bekerja di luar pulau Jawa sebagai PNS Guru.

Berapa sih gaji PNS Guru waktu itu? Saya tidak pernah tahu. Saya tahunya bisa makan tidur dengan nyaman, bisa main dengan adik-adik saya, hidup tenang ala anak-anak meskipun jauh dari bapak. Senengggg banget kalo abis terima wesel dari Bapak. Iya, jaman dulu bukan jaman transfer-tramsferan lewat bank, tapi jaman wesel pos berjaya. Setiap terima wesel dari bapak, ibu akan mengajak kami makan enak. Yaitu makan nasi rames dan minum es gosrok. Itu sudah sangat istimewa buat kami anak-anaknya. Dan itu hanya terjadi sebulan sekali.

Dalam kondisi demikian ibu selalu berusaha menambah penghasilan bagaimana pun caranya. Seringkali pagi-pagi ibu pergi ke pasar jual daun pisang atau jual kelapa atau jual ayam kampung dan lain sebagainya. Pergi dini hari ketika kami masih enak-enaknya tidur. Pulang sekitar jam 7 pagi. Saat ibu masih di pasar kami suka sekali nungguin ibu diatas tebing Kali Kuning. Tiap ada orang turun dari seberang tebing, kami berharap itu adalah ibu. Jika bukan, kami terus menunggu hingga ibu benar-benar pulang dari pasar.

Entah tepatnya kapan saya tidak ingat, ibu dapat bantuan mesin jahit dari pemerintah (kalo tidak salah). Sejak itu ibu bisa berpenghasilan dari menjahit hingga kini. Alhamdulillah di kampung kami tidak ada kompetitor, karena hanya ada dua penjahit yaitu ibu saya dan satu tetangga kami, itu pun mereka selalu berpartner dalam mengerjakan orderan-orderan jahitan.

Kapan bapak kembali bersama-sama kami? Yaitu ketika saya sudah berada di bangku SMA. Mungkin bapak long distance relationship dengan kami kurang lebih 10 tahunan. Selama itulah ibu membesarkan kami keempat anaknya tanpa didampingi suami secara fisik. Bapak pulang setahun sekali ketika liburan akhir tahun sekolah. Di rumah pun hanya sekitar satu bulan. Selama 10 tahunan itu hanya lewat suratlah ibu dan bapak berkomunikasi. Gak ada telpon apalagi henpon. Kalo urgent baru deh menggunakan jasa telegram.

Dulu saya selalu bilang “ibu galak”, sehingga ketika saya harus operasi kaki, saya minta bapak yang nungguin bukan ibu. Entah sejak kapan saya sudah tidak menganggap ibu galak, saya kembali dekat dengan ibu. Saya bisa memahami ibu galak karena kami anak-anaknya sering nakal, kenakalan anak-anak, kadang-kadang kakak adik berantem atau rebutan mainan, kadang-kadang juga saya pulang sekolah langsung main gak segera pulang. Sedangkan ibu hanya sendirian mengasuh kami berempat. Mungkin sebenarnya ibu sering menangis tanpa sepengetahuan kami. Mungkin ibu harus menguatkan hati demi kami anak-anaknya.

Demikianlah saya dibesarkan oleh seorang ibu yang sungguh tangguh dan ulet. Mungkin itu juga yang saya warisi sehingga saya tumbuh menjadi perempuan yang mandiri. Ya, saya tangguh walo kadang-kadang rapuh. Ya, saya ulet walo kadang-kadang mumet ketika harus menghadapi masalah yang ruwet. Mengingat ketangguhan dan keuletan ibu membuat saya bangkit kembali, demi orang-orang yang saya cintai khususnya suami dan anak.

Terimakasih ya Allah… saya terlahir dari seorang ibu yang tangguh dan ulet, yang mengalami asam garam kehidupan. Tolong jaga ibu saya, beri beliau kesehatan senantiasa, agar selalu bisa bersama kami anak cucu dan menantunya, agar selalu bisa menemani bapak.. Ampuni kami yang tidak selalu bisa berada di sisi ibu setiap saat..

About Wiwin Pratiwanggini

Independent Oriflame Consultant | A Working Mom | A Blogger | Owner PakBossCatering | Training Consultant
just blogging , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*