Budaya Amplop Mengajarkan Anak Mengemis?

Beberapa hari yang lalu, sebelum Idul Fitri tiba, viral di social media tentang budaya amplop yang katanya ngajari anak jadi pengemis. Saya pribadi sebagai seorang Muslim yang sudah lebih dari 40 tahun mengalami Hari Raya Lebaran, rasanya koq miris membacanya. Yang saya tahu dan saya rasakan nih yaaa.. Jadi saya share sebatas pengalaman saya saja 🙂

Sejak kecil hingga sepanjang usia sekolah, setiap hari lebaran, saya biasa menerima amplopan atau salam tempel atau angpao dari orang yang lebih tua. Sebagai anak yang belum bisa cari uang sendiri, mendapat rezeki demikian tentu saja senang.

Pada hari-hari lebaran saya menjadi hafal keluarga mana yang suka bagi-bagi amplop/uang. Memang hanya sebagian kecil sih dari sekian banyak keluarga yang saya kunjungi di hari lebaran.

Meskipun sudah tahu kalau di keluarga-keluarga tertentu bakalan dapat amplop, namun bukan berarti saya dan adik-adik lantas selalu berharap mendapatkan hal yang sama. Bagi kami, dapat ya alhamdulillah, tidak ya tak mengapa. Kami sudah paham bahwa berkunjung ke rumah mereka adalah untuk silaturahim dan bermaaf-maafan, bukan cari amplop. Sekali lagi bagi kami dikasih amplop adalah bonus.

Sejak punya gaji sendiri, saya mulai merasakan betapa indahnya bisa berbagi, khususnya kepada anak-anak. Sebagaimana para orang tua yang menukarkan uang baru untuk dibagi-bagi, saya pun begitu. Beruntungnya saya bekerja di lembaga yang menjadi nasabah prioritas di salah satu bank sehingga tidak mengalami kesulitan minta uang kertas baru menjelang Idul Fitri.

Sebatas pengamatan saya dan yang saya rasakan sendiri, bahwa para orang tua setiap menjelang Hari Lebaran memang sudah mempersiapkan budget untuk dibagi-bagi. Sekian ratus ribu ditukar dengan uang kertas 5000-an baru. Sekian juta ditukar dengan uang 10000-an baru. Dan seterusnya.

Yang saya tahu, mereka bahagia koq bisa berbagi rejeki kepada anak-anak. Mereka bahagia melihat anak-anak senang.

Jadi, menurut saya, budaya amplop di hari raya tidak ada tujuan untuk mengajari anak-anak mengemis. Tapi mengajari anak-anak untuk berbagi. Learning how to take and give.

Karena itu saya tidak melarang anak-anak saya menerima amplop di hari raya, itu hak mereka mendapatkan rejeki. Yang penting mereka tidak lupa mengucapkan “terima kasih” setiap kali menerima pemberian dari orang lain.

Taqabalallahu minna wa minkum. Minal aidin wal faidzin. Selamat berhari raya!!!

 

161 Views

Author: Wiwin Pratiwanggini

Ibu dari 2 anak laki-laki (Satria & Dimas). Tinggal di Yogyakarta. Suka jalan-jalan. Suka membaca. Suka menulis. Ngeblog untuk berbagi cerita, berbagi pengalaman, serta berbagi informasi. Bisa dikontak di wiwin_pratiw@yahoo.com (email) atau 08156852076 (WA), insyaallah fast response.

1 thought on “Budaya Amplop Mengajarkan Anak Mengemis?

  1. Hmmm.. Kalo menurut saya juga bukan mengajarkan anak untuk mengemis. Kecuali kalo orang tuanya yang “ngomporin” anaknya buat minta amplop ke kerabat, itu baru ngemis. Nah, kalo dikasih ya terima aja hihi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *