Kembalinya Si Anak Hilang

kembalinya si anak hilang

Judulnya mungkin ngeri ya… Memang benar, yang saya alami juga ngeri-ngeri sedap. Akhir 2019, awal 2020, menganugerahi saya hadiah yang indah yaitu kembalinya si anak hilang.

“Le, besok pas ibu pindahan rumah, tolong pulang ya, bantu ayah dan ibu,” kata saya suatu hari kepada si anak sulung. Praktis, sejak awal 2019, saya tidak setiap hari bertemu si anak sulung. Kami kadang ketemu ketika saya pulang ke rumah neneknya anak-anak, atau si anak sulung datang ke kantor saya.

Jawaban anak saya ketika itu,“Enggak bu..” Saat itu saya masih bisa mengerti perasaannya, sehingga saya tidak komentar apa-apa. Saya hanya bilang,“Ya sudahlah.” Tentu saja dalam hati saya terus berdoa agar dia mau berubah pikiran atau Allah menggerakkan pikirannya untuk mau mengikuti keinginan ibunya ini.

Ya, sebagai seorang ibu yang berdiri di tengah antara suami dan anak, terkadang tidak banyak yang bisa saya lakukan. Sehingga senjata pamungkas saya hanya doa yang saya panjatkan di setiap tarikan napas. Dalam diamnya saya, bukan berarti saya hanya pasrah begitu saja.

Setelah penerimaan raport semester pertama pada tanggal 20 Desember 2019, aktivitas di sekolah anak saya diganti dengan liburan semesteran hingga tanggal 5 Januari 2020. Sebelum liburan anak saya sudah minta ijin untuk piknik ke luar kota bersama teman-temannya. Tapi rupanya dibatalkan karena memang kurang persiapan.

Dan entah bagaimana cara Allah menggerakkan hati dan pikiran anak saya, alhamdulillah sejak awal liburan anak saya mau pulang ke rumah. Dia mau tidur di rumah lagi! Masyaallah, Gusti Allah memang tidak tidur. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Karena ini adalah momen yang saya nanti-nantikan selama setahun. Akhir tahun 2019 diwarnai dengan kembalinya si anak hilang. Happy ending 🙂

Dalam dua minggu selama liburan semester, lebih banyak anak saya tidur di rumah kami daripada kembali ke rumah neneknya. Alhamdulillah ayahnya juga sudah mengubah hubungannya dengan si anak. Keduanya sekarang tampak lebih dekat. Sudah seperti sahabat. Tidak ada lagi ayah yang mengatur begini begitu. Mereka seringkali terlibat diskusi. Tidak jarang juga main game bareng. Juga ngobrol ini itu bahkan tentang perempuan-perempuan idaman. Hehehe…

Meskipun ada beberapa kali si anak ada kegiatan di sekolah (rapat OSIS, persiapan upacara, dan lain-lain), namun dia tetap kembali ke rumah dan membantu kami yang sedang dalam proses pindahan rumah. Sebelumnya suami saya seperti tidak punya harapan bahwa anak sulungnya akan membantu, tapi melihat kenyataan yang ada, tampaknya dia juga bersyukur dan bangga.

Kembalinya si anak hilang juga menciptakan memory yang indah kepada adiknya (anak kedua kami yang baru berusia 27 bulan). Si adik yang biasanya tidur tidak teratur, bahkan sering begadang hingga dini hari, sejak ada kakaknya menjadi teratur jam tidurnya. Dia seperti menemukan kedamaian hidup. Mungkin selama ini dia kangen dengan kehadiran kakaknya, karena sebenarnya ia tahu bahwa di rumah ini harusnya engga cuma ayah dan ibu, tapi juga ada kakak.

Terimakasih, ya Allah, untuk happy ending yang Engkau berikan yaitu kembalinya si anak hilang. Sekeluarga kini bisa kembali tersenyum. Tidak ada lagi beban dan ganjalan di hati. Semua sudah saling memaafkan. Terimakasih, kini saya khususnya bisa melangkah lebih ringan untuk mengisi hari-hari di tahun 2020 dan seterusnya.

Semoga dengan kembalinya si anak hilang serta keputusan kami pindah ke tempat baru, akan memberikan banyak hal baru yang lebih baik untuk masa depan keluarga kami. Aamiin.

 

Related Post