Pengalaman Pertama Bersama Kamera FUJIFILM X-T100

kamera fujifilm xt100

Kamera FujiFilm X-T100 cocok untuk fotografer/videografer pemula
yang mencari kamera baru dengan budget yang relatif terjangkau.

Dulu ketika masih jamannya kamera lama, bukan kamera digital, keluarga saya punya lho 1 buah. Kamera lama ini disebut kamera analog yang menggunakan roll film dimana teknik pengambilan gambarnya menggunakan film seluloid (klise/film negatif). Waktu itu Bapak saya suka banget kemana-mana membawa kamera tersebut. Jadinya saya cukup familiar dengan kamera itu. Merknya Kodak kalau tidak salah. Dan jaman itu memang dimana-mana orang menyebut kamera analog apapun dengan sebutan “kodak”. Hihihi.. seperti kalo orang menyebut semua sepeda motor dengan sebutan “honda”.

Saya pernah membawa kamera analog ini pergi jauh yaitu ke Pulau Bali ketika ada piknik sekolah. Hihihi.. iyaaaa, itu sekitar tahun 1992. Biasanya kalau pergi jauh begitu musti jaga-jaga, bawa roll film minimal 2 buah. Pernahkah saya terbalik memasang roll film? Pernahhhh! 😀 Begitu punya gaji sendiri, saya bisa membeli kamera analog yang compact. Kenapa kamera compact? Karena lebih lebih simpel. Dan waktu itu merk kamera compact yang sangat terkenal adalah FujiFilm.

kamera fujifilm xt100
Contoh kamera analog (sumber: pixabay.com)

Sejujurnya saya menggunakan kamera analog tersebut juga asal jeprat-jepret saja. Saya enggak ngerti setting macam-macam di dalamnya. Sepertinya asalkan sudah dipaskan settingannya, ya sudah saya ngikut aja. Jadi dalam situasi dan kondisi apapun ya settingannya begitu, tidak saya ubah-ubah. Asal hasil fotonya tidak blur gitu aja udah seneng hehehehe…

Begitu muncul kamera digital yang model saku, pindah deh kesitu. Selanjutnya entah dimana kamera analog Bapak, saya udah ga tau lagi. Apalagi menggunakan kamera digital lebih praktis dan simpel, ya sudah bye-bye kamera analog 😀

Tapi saya menggunakan kamera digital pocket juga tidak terlalu lama, mungkin sekitar 3-5 tahun. Selanjutnya, saya mulai meninggalkan kamera tersebut ketika kamera di handphone makin canggih aja. Kebetulan saya suka yang praktis-praktis, jadi ya cocok banget donk pake kamera yang ada di handphone saja. Gak perlu nenteng 2 benda ketika ada kegiatan yang butuh motret-motret.

kamera fujifilm xt100
Contoh hasil pemotretan menggunakan handphone (sumber: pixabay.com)

Karena sudah melewati masa peralihan dari kamera analog ke kamera digital lalu ke kamera handphone selama lebih dari 20 tahun, saya jadi kagok ketika harus memegang kamera beneran edisi jaman digital sekarang (contohnya kamera mirrorless). Itu terjadi ketika hari Minggu 12 Mei 2019 kemarin dalam acara KEBelajar bersama FujiFilm.

Jadi ceritanya, saya dan teman-teman blogger Yogyakarta yang tergabung dalam komunitas KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger) punya kesempatan belajar fotografi bersama FujiFilm. Sebenarnya 21 April 2019 yang lalu sudah dilakukan hal yang sama, tapi saya tidak bisa ikut. Waktu itu kegiatannya adalah street photography di sekitar Kotagede. Nah, kali ini mumpung saya bisa, maka saya sempatkan untuk ikut.

Rundown Acara:
14.00-15.00: Meeting Point, Pengambilan Kamera dan Kelas Fotografi Singkat
15.00-15.15: Perjalanan ke Malioboro
15.15-16.30: Explore Malioboro Utara
16.30-16.45: Menuju Hotel Neo Malioboro
16.45-17.30: Diskusi Santai Sembari Menunggu Buka
17.30-Selesai: Buka Puasa

Jam 14:00 kami semua berkumpul di gedung FujiFilm Learning Center yang berada di YAP Square Jalan C. Simanjuntak Yogyakarta. Katanya sih tempat tersebut belum diresmikan, jadi kami semua yang pertama menjamah tempat tersebut hehehe.. Disini kami menerima ilmu seputar fotografi dari Bapak Agoeng Tosol sekitar 1 jam. Dalam kesempatan ini Pak Agoeng Tosol membahas tentang Exposure yang memfokuskan pada 3 hal penting yaitu:

Menyimak penjelasan Pak Agoeng Tosol (dok. FujiFilm)

1. Diafragma / Aperture (F)

Diafragma adalah lubang dalam lensa kamera tempat cahaya masuk saat melakukan pemotretan. Atau sebut saja jendela dengan beberapa daun jendela yang ada di dalam lensa. Setiap lensa mempunyai perbedaan bukaan diafragma masing-masing. Biasanya ukuran diafragma dimulai dengan angka 2,8 – 4 – 5,6 – 8 – 11 –16 – 22.

Sederhananya, diafragma artinya bukaan lensa. Diafragma biasanya disimbolkan dengan satuan F, semakin kecil angka F maka semaikin besar bukaan jendela lensa, begitu juga sebaliknya semakin besar angka F maka semakin kecil bukaan lensa.

2. ISO

Adalah tingkat sensitivitas kamera terhadap cahaya, semakin tinggi nilai ISO maka semakin tinggi pula tingkat sensitivitas kamera terhadap cahaya.

Poin penting dalam ISO adalah semakin tinggi nilai ISO maka semakin terang gambar yang dihasilkan. Untuk mengambil gambar di tempat dengan cahaya yang kurang maka untuk mengatasinya yang dilakukan oleh fotografer adalah memilih ISO tinggi. Misalnya ISO 400, 600, 800 atau 1600.

3. Shutter Speed (SS)

Sederhananya, shutter speed ini adalah kecepatan kamera menangkap gambar (cahaya)Jadi jika kita menangkap atau memotret benda yang bergerak aktif, maka kita harus menggunakan speed tinggi atau kecepatan penuh untuk mengimbangi tangkapan kita.

Satuan Shutter Speed adalah detik. Berikut nilai shutter speed pada kamera:

(nilai besar) Bulb, 32, 16, 8, 4, 2, 1s, ½, ¼, 1,8, 1/16, 1/32, 1/64, 1/125, 1/250, 1/500, 1/1000, 1/2000, 1/4000, 1/8000 ( nilai rendah).

Ketiga hal tersebut adalah merupakan teknik dasar fotografi atau disebut Tiga Pilar Dasar Fotografi. Dengan Memahami ketiga hal tersebut akan memudahkan kita dalam mengambil gambar sesuai yang kita inginkan.

kamera fujifilm xt100
Mempelajari kameranya dulu. (dok. FujiFilm)

Kemudian kami dikasih pinjam kamera FujiFilm X-T100, masing-masing 1 kamera untuk 1 orang. Asliiii.. grogi sayaaaa 😀 Pertama kali memegang kamera FujiFilm X-T100 ini saya bingung on-off nya di sebelah mana hahaha.. Terus, mindahin Diafragma (F), ISO, dan SS-nya bagaimana. Dan sebagainya.

Untunglah Pak Agoeng dan teman-teman dari FujiFilm dan Gudang Digital pada sabar mengajari kami. Beberapa teman yang biasa pegang kamera sejenis pun sepertinya rada kagok, kata mereka sih karena beda merk. Iya juga ya.., beda merk, bisa beda fitur dan perlakuan.

Setelah memegang masing-masing satu kamera, kemudian kami beranjak meninggalkan FujiFilm Learning Center menuju hotel Neo Malioboro. Nantinya hotel ini adalah pos terakhir kami untuk buka puasa bersama. Namun, sekalian aja parkir di situ, kemudian kami hunting foto di sekitar Malioboro. Iya, street photography di Malioboro. Seru juga nih, hunting foto sambil ngabuburit. Mumpung Malioboro belum crowded.

kamera fujifilm xt100
Saya dan Sherlyna (dok. IG @saptinurulmci)

Karena saya belum terbiasa menggunakan kamera mirrorless gini, akhirnya saya setting dengan SS 125, F 8,0, ISO 800. Kalau tidak salah itu adalah setting manual untuk memotret pada cahaya yang cukup terang. Nah, sore itu ‘kan cahayanya masih cukup terang, apalagi outdoor. Hasilnya bagus-bagus koq..  Hanya sayangnya saya masih kurang maksimal dalam mengeksplorasi Malioboro sehingga enggak punya gambar-gambar yang kece. Sepertinya saya masih takut dan malu memaksimalkan kamera FujiFilm X-T100 ini hehehe..

Setelah street photography di Malioboro, acara diakhiri dengan buka puasa bersama di Hotel Neo Malioboro. Oiya, hasil dari street photography tadi foto-fotonya dilombakan lhoooo.. Temanya “Senyum Ramadhan”. Foto diupload ke Instagram masing-masing menggunakan hashtag yang sudah ditentukan. Selanjutnya pihak FujiFilm memilih 4 foto terbaik untuk mendapatkan hadiah-hadiah:
1. Fujifilm Disposable Camera
2. Instax Paper Square
3. SD Card 16GB
4. Kaos Fujifilm

Berikut ini 4 foto terbaik tersebut:

Hasil jepretan @kartikanugmalia
Hasil jepretan @ceritamakvee
Hasil jepretan @innaistantina
Hasil jepretan @vikakurniawati

Setelah menjajal langsung kamera FujiFilm X-T100 ini, berikut ini antara lain beberapa keunggulan yang dimiliki oleh kamera ini:

1. Cocok untuk traveling (blogger ‘kan suka traveling hehehe..) karena ini kamera mirrorless yang bentuknya ringkas dan punya kemampuan fleksibilitas lensa yang bisa diganti-ganti seperti kamera DSLR.

2. Desainnya stylish dan retro (model tahun 1970-1990-an, saya suka yang klasik begini). Dibuat dengan rangka alumunium anti karat yang memberikan kesan berkelas. Beratnya 448 gram, memiliki tiga tombol kontrol di bagian atas. Daya tahan baterainya lebih panjang, dalam satu kali pengisian bisa mendapatkan 430 jepretan.

kamera fujifilm x-t100
Penampakan kamera FujiFilm X-T100 (sumber: fujifilm.co.id)

3.  Fiturnya canggih, saya ga sempat ngulik karena cuma punya waktu sebentar. Yang pasti sih fungsi otomatisnya membuat X-T100 menjadi lebih simpel untuk digunakan. Jadi, untuk lebih komplitnya silakan googling aja ya..

4. Menggunakan teknologi bluetooth terbaru sehingga memindahkan foto-foto dari kamera ke laptop atau ke HP atau ke perangkat lainnya menjadi sangat mudah.

5. Pengin foto selfie gampang banget, tinggal ditarik dan diputar screennya.

Dan masih banyak lagi keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh kamera FujiFilm X-T100 ini. Sepertinya akan lebih puas jika mempraktekkannya langsung.

kamera fujifilm xt100
Foto bareng (dok. pribadi)

Sejujurnya saya sedang membutuhkan kamera seperti ini untuk menunjang kegiatan saya ngeblog. Bagaimanapun saya butuh mengupload gambar-gambar yang bagus ke dalam blog dan social media saya. So, boleh donk yaaaa kalau kamera FujiFilm X-T100 ini masuk ke dalam wishlist saya 🙂

“Fotografi adalah kisah yang gagal diceritakan melalui kata-kata.” – Destin Sparks

Referensi:
– www.foldertekno.com/sejarah-kamera/
– www.aquadratfoto.com/memahami-fokus-diafragma-speed-iso-dan-pencahayaan-dengan-logika/
– fujifilm.co.id/products/consumer_products/digital_cameras/x/fujifilm_x_t100/

67 Views

Author: Wiwin Pratiwanggini

Ibu dari 2 anak laki-laki (Satria & Dimas). Tinggal di Yogyakarta. Suka jalan-jalan. Suka membaca. Suka menulis. Ngeblog untuk berbagi cerita, berbagi pengalaman, serta berbagi informasi. Bisa dikontak di wiwin_pratiw@yahoo.com (email) atau 08156852076 (WA), insyaallah fast response.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *