Tag Archives: stay at home dad

Berbagi di Media Indonesia

Tanggal 13 April 2015 tiba-tiba ada pesan masuk di WhatsApp dari seseorang yang tidak saya kenal, namun untunglah ybs memperkenalkan diri. Seorang jurnalis dari Media Indonesia. Beliau meminta saya menjadi nara sumber tentang emansipasi dalam rumah tangga. Katanya kami adalah keluarga unik hehehe.. Beliau mendapatkan informasi tentang kami dari internet. Yap, dengan kata kunci tertentu kami memang mudah ditemukan, karena kebetulan sejak 2011 kisah kami sudah dimuat secara online.

[...] read more

just blogging , ,

Sharing di Jakarta Globe

Kami dihubungi kontributor The Jakarta Globe pada bulan Februari 2014 yang lalu. (Baca disini). Setelah menunggu sekian lama tiada kabar dan hampir saya lupakan, tiba-tiba pada 2 Juni 2014 ada mention di Twitter yang memberikan link pemuatan interview tersebut. Alhamdulillah, akhirnya tayang juga, judulnya “Stay-at-Home Fathers Still Outliers in Indonesia”.

Tadinya saya kira akan ada beberapa narasumber yang ditampilkan, seperti awal-awal dulu menjadi narasumber[...] read more

aku & keluarga , ,

Interview oleh Jakarta Globe

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba dapat pesan di Twitter: “Salam mba @pratiwanggini, saya Zakky dr Jakarta Globe. Boleh minta nomer kontaknya krn kita ada liputan tentang Stay at Home Dad. Makasih :).” Wow, surprise!

Sebelum menjawab pesannya, saya cari tahu dulu lewat Google siapa Zakky yang mengontak saya dan apa sih Jakarta Globe itu. Lalu saya search akun twitter Zakky dan akun FB-nya karena kebetulan hari itu juga dia add friend saya di FB. Ternyata[...] read more

just blogging , , , ,

Obyek Mini Riset

Sebulan yang lalu, tepatnya 9 Juni 2013 ada yang mention saya di twitter. Seorang mahasiswa yang sedang meneliti konsep bapak rumah tangga. Lalu ia meninggalkan pesan apakah saya bisa bantu mereka dengan memberikan alamat email untuk diskusi lebih lanjut. Karena saya ini baik hati dan tidak sombong …cieee… tentu donk saya kasih alamat email saya dengan sangat jelas 🙂

Waktu berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan Juli, ehhh tidak ada[...] read more

aku & keluarga ,

Jika Suami Gantikan Peran Istri

Kalau tidak salah pada 29 Mei 2012, tiba-tiba saya ditelpon oleh mba Tari dari Wanita Indonesia. Rencananya WI akan mengangkat pengalaman saya dan suami yang mengalami “stay at home dad”. Mba Tari ini menemukan saya di blog ini ketika sedang browsing. Sebenarnya beliau ingin wawancara langsung dengan kami, tapi mengingat posisi saya ada di Yogya, akhirnya interview dilakukan per email.

Pertanyaannya cukup panjang hehe… (saya copas tanpa editing):
[...] read more

aku & keluarga , ,

Ayah Bertukar Peran dengan Ibu

Masih ingat postingan saya yang ini? Ternyata isu seperti ini tidak pernah ada habisnya. Selalu bisa dikupas dari berbagai sisi oleh berbagai sumber. Tabloid NOVA 1246/XXIV edisi 9-15 Januari 2012 ini mengupas lagi hal yang sama, stay at home dad. Saya selalu menyimak setiap kali ada artikel yang serupa, disamping saya sendiri mengalaminya, saya juga selalu butuh asupan untuk benar-benar bisa menerima dan mengerti dengan kondisi seperti ini :-). Yukkkk.. kita simak aja gimana isi artikelnya….

Apa saja yang perlu disiapkan saat Anda berdua memutuskan suami mengurus rumah dan anak dan Anda bekerja full time?

Peran ayah kini berevolusi. Dulu ayah diartikan sebagai bread winner alias pencari nafkah utama bagi keluarga. Sekarang, ayah mempunyai makna lebih luas. Yaitu sebagai sosok yang selalu ada untuk anak-anaknya dan bisa diandalkan kapan saja. Artinya, saat ini tak cuma terima laporan dari ibu dan tahu beres mengenai urusan anak dan rumah.

Di beberapa negara, termasuk Indonesia, banyak sekali para ayah yang memutuskan untuk bertukar peran dengan ibu dari anak-anaknya. Stay at home dad (SAHD), demikian sebutan bagi para ayah yang memutuskan untuk mengambil peran besar dalam mengurus urusan rumah tangga hingga mengasuh anak.

Alasan Kepraktisan

Selain kehilangan pekerjaan, Dr. Robert Frank dalam buku Equal Balanced Parenting and The Involved Father menuturkan alasan lain yang melatarbelakangi hal ini. Menurut ahli perkembangan anak dari Amerika Serikat ini, sebuah keluarga biasanya memutuskan siapa yang menjadi pencari nafkah dan siapa yang mengurus rumah tangga berdasarkan pada kepraktisan. “Bisa saja kepribadian suaminya memang lebih cocok untuk membesarkan anak-anak atau lebih mudah melepaskan karier Sang Suami dibanding karier istrinya,” jelas Frank dalam bukunya.

Frank juga menambahkan bahwa pilihan menjadi stay at home dad juga bisa terjadi karena pekerjaan suami memungkinkan ia melakukannya dari rumah alias lebih fleksibel. “Namun pada kebanyakan kasus, stay at home dad terjadi karena penghasilan istri lebih besar atau peluang karier istri lebih bagus dibandingkan suami,” jelasnya. Bicara angka, menurut Anna Surti Ariani, Psi., saat ini jumlah SAHD yang terjadi dengan disengaja alias di luar alasan PHK atau masih menganggur semakin besar dari tahun ke tahun.

aku & keluarga ,