Laporan SPT Tahunan 2018

Tanggal 1 Maret 2019 yang lalu saya menerima email reminder dari Ditjen Pajak untuk segera menyampaikan laporan SPT Tahunan 2018. Sebagian isi emailnya sebagai berikut:

Sudah tiba saatnya Anda menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Tahun Pajak 2018.
Demi kenyamanan Anda, kami menyarankan untuk menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2018 sebelum tanggal 16 Maret 2019.
Kami akan membantu Anda menyampaikan SPT lebih awal dengan mengirimkan pesan pengingat melalui email sebelum 16 Maret 2019.

Saya rasa, semua Wajib Pajak juga menerima email yang sama. Dan mustinya semua pemegang NPWP juga sudah tahu bahwa tanggal 31 Maret 2019 adalah batas akhir pelaporan SPT Tahunan 2018.

Sebagai warga negara yang baik, alhamdulillah sejak memiliki NPWP saya tidak pernah lalai membuat laporan SPT Tahunan. Sekarang adalah kali keenam saya melakukan pelaporan melalui efiling. Pertama kali saya menggunakan efiling adalah ketika melaporkan SPT Tahunan 2013, yang dilaporkan pada tahun 2014. Asalkan semua sudah lengkap, ga sulit koq mengisi form di efiling ini.

Kenapa saya mepet-mepet bikin laporan? Kenapa enggak sejak bulan Januari atau Februari saja? Karena bukti potong pajak dari Oriflame dan dari tempat kerja saya (YIS) baru saya terima beberapa hari yang lalu. Bukti potong pajak dari YIS baru saya terima pada tanggal 5 Maret 2019, dan bukti potong pajak dari Oriflame baru saya terima pada tanggal 9 Maret 2019. Meskipun udah mepet-mepet, alhamdulillah masih bisa terlapor sebelum tanggal 16 Maret 2019.

Nah, menurut pengalaman saya, sebaiknya semua sudah siap agar supaya tidak bolak-balik bikin draft. Saya sih lebih suka sekali aja bikin draft, lalu finish. Untuk yang penghasilan netto setahunnya < Rp 60 juta mungkin sangat simpel. Untuk yang berpenghasilan > Rp 60 juta, ada yang rumit, dan ada yang berada di tengah-tengah (antara simpel dan rumit). Saya pribadi untuk sementara masuk ke kategori antara simpel dan rumit hehehe.. Eh eh eh.. pengkategorian ini ala-ala saya lho yaaa.. jangan dipakai sebagai patokan.

Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan dalam rangka membuat laporan SPT Tahun 2018 melalui efiling. Semoga bermanfaat yaa…

1. Menyiapkan data harta. Bikin daftar, harta apa saja yang dimiliki per 31 Desember 2018 tersebut. Misalnya rumah, mobil, motor, sepeda, handphone, emas, dan sebagainya. Jangan lupa dicatat juga tahun serta harga perolehannya, maksudnya tahun berapa belinya dan berapa harga belinya. Alhamdulillah harta saya tidak seberapa, jadi tidak perlu bikin daftar panjang hehehe..

2. Menyiapkan saldo tabungan atau rekening koran. Saldo tabungan juga masuk ke dalam harta, jadi saya mencatat saldo terakhir per 31 Desember 2018, lalu menjumlahkan semuanya. Hihihi.. kadang sambil begini ini saya baru nyadar bahwa di akhir tahun ternyata punya atau tidak punya saldo tabungan 😀

3. Menyiapkan data utang. Saya masih punya sedikit cicilan dalam rangka menutup penggunaan kartu kredit. Maklumlah ketika negosiasi dengan pihak penerbit kartu, saya belum siap melunasinya secara cash, lalu dibuat cicilan secara flat. Jadi, ini saya catat saldo terakhirnya per 31 Desember 2018.

4. Menyiapkan daftar susunan anggota keluarga. Karena yang punya NPWP adalah saya, jadi untuk sementara waktu semua menjadi tanggungan saya. Tahun lalu saya lupa memasukkan nama Dimas, nah baru deh tahun ini saya tambahkan. Bagian ini sangat berpengaruh pada PTKP, sodara-sodara…

5. Menyiapkan data penghasilan lain. Asal mulanya saya adalah karyawan, jadi penghasilan utama saya dari gaji. Tapi saya juga mempunyai penghasilan lain dari Oriflame, nah ini yang masuk ke dalam penghasilan lain. Kalo penghasilan utama dari tahun ke tahun cenderung stabil atau naik (ada kenaikan gaji), maka untuk penghasilan lain bisa tidak tentu. Bisa jadi naik atau turun dari tahun sebelumnya. Dengan merekap data untuk laporan pajak begini ini saya bisa melihat naik atau turunnya.

6. Menyiapkan bukti-bukti potong pajak selama 2018. Nah ini penting, karena angka yang tercantum di dalam bukti potong pajak bermanfaat untuk mengurangi beban pajak yang nanti muncul di akhir pengisian formulir. Dari bukti potong pajak ini nanti yang diinputkan ke dalam form adalah: NPWP pemotong, nomor Bukti Pemotongan Pajak, tanggal pemotongan, dan jumlah (nominal) pemotongan. Jadi jangan kaget kalo nanti bakalan butuh waktu lama di bagian ini 😀 . O iya biasanya saya bikin daftar potong pajak ini di dalam Notepad, sehingga nanti tinggal copy & paste saja ketika mengisi form SPT (efiling).

Arsip SPT Tahunan

7. Membuat draft SPT pada formulir 1770S. Setelah semua lengkap, biasanya saya mulai membuat draft SPT. Draft ini bisa dilakukan secara manual dulu atau langsung secara online di website pajak. Kalau saya sih terbiasa bikin manual dulu di kertas atau di excel, setelah itu baru saya inputkan ke form online sehingga menjadi draft online.

8. Membuat e-billing. Saat membuat draft ini, pada akhirnya nanti akan kelihatan apakah Lebih Bayar, Nihil, atau Kurang Bayar. Saya pribadi dari dulu selalu Kurang Bayar hehehe..  Itu artinya saya harus membayar. Agar bisa melakukan pembayaran, kita harus membuat e-billing dulu. Kenapa? Karena nomor kode atau ID Billing tersebut yang akan dipakai sebagai kode pembayaran. Dimana cara bikin ebilling? Setelah login di website efiling tadi, di atas ada menu e-Billing, nah itu diklik.

9. Lakukan pembayaran. Setelah mendapatkan ID Billing, saya segera melakukan pembayaran melalui internet banking BCA. Setelah selesai, hal yang penting dicatat adalah NTPN dan tanggal pembayaran. Kalau tidak salah NTPN itu kependekan dari Nomor Tanda Penerimaan Negara. Angka dan huruf pada NTPN serta tanggal pembayaran inilah yang nanti diinputkan ke dalam form SPT. Sedangkan angka rupiahnya akan muncul secara otomatis.

10. Isi efiling sampai selesai. Setelah memegang bukti pembayaran, saya segera menyelesaikan pengisian form SPT di efiling. Sebelum benar-benar selesai, Wajib Pajak harus memasukkan kode verifikasi yang sudah dikirimkan melalui email. Setelah kode verifikasi diinputkan dan mengikuti langkah-langkah selanjutnya, baru deh semuanya selesai. Dan Bukti Penerimaan Elektronik sudah langsung terkirim ke email.

SPT Tahunan 2018
Dengan menerima BPE ini berarti pelaporan SPT Tahunan sudah selesai

Lega rasanya ketika sudah melakukan satu kewajiban ini. Kewajiban setahun sekali sih, namun cukup menyita waktu lho.. Jadi memang sebaiknya dipersiapkan semuanya segera begitu memasuki tahun yang baru, sehingga tidak perlu nunggu hingga 31 Maret. Orang bijak taat pajak, karena itu saya memilih menjadi orang bijak saja :). Bagaimana dengan Anda?

 

49 Views

Author: Wiwin Pratiwanggini

Ibu dari 2 anak laki-laki (Satria & Dimas). Tinggal di Yogyakarta. Suka jalan-jalan. Suka membaca. Suka menulis. Ngeblog untuk berbagi cerita, berbagi pengalaman, serta berbagi informasi. Bisa dikontak di wiwin_pratiw@yahoo.com (email) atau 08156852076 (WA), insyaallah fast response.

23 thoughts on “Laporan SPT Tahunan 2018

  1. wahahahah jadi ingat pas kerja, kalau bulan Maret pasti bikin laporan ini, riweh sama temen-temen meski mengulang setiap tahun selalu lupa-lupa cara ngisinya hehehe, tapi udah 3 tahun ini ga bikin laporan ini, karena pengacara (pengangguran banyak acara) heheheheheh

  2. Ketika pertama kali baca judulnya kok kayak berat banget ya mbahasnya tentang SPT tahunan wkwkwk
    Tapi ulasannya cukup membantu sih supaya para pembaca tahu mengenai persiapannya. Thanks mba 😀

  3. baru aja minggu kemarin aku laporan spt online. untuk harta itu apa harus rinci ya mba nulisnya? ku kemarin asal aja ngisi nya, jd gak ku hitung total keseluruhannya berapa..

  4. Artikelnya menarik sampai aku baca berulang, skrol atas bawah… hahaha…
    Aku belum pernah bikin SPT, karena nggak punya NPWP. Galau mau bikin atau enggak, soalnya penghasilan masih di bawah standar yang disyaratkan mempunyai NPWP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *